Yenny Wahid Mengaku Masih “Jomblo Politik”

jomblo politik)
Prabowo saat mengunjungi keluarga Gus Dur.

 

*Oleh :Jimmy S. Harianto

Prabowo mendekati keluarga Gus Dur. Namun sampai terakhir dikunjungi Prabowo Subianto dua kali pun, Yenny Wahid masih mengatakan “jomblo politik”.

Bahasa politik tidak harus pakai bahasa verbal, akan tetapi juga bisa bahasa simbolik. Bahwa politik itu busuk semua orang tahu. Politik itu penuh tipu-tipu, menghalalkan segala cara –Machiavelianisme– untuk mencapai tujuan sering politisi mengesampingkan moralitas? Semua juga tahu. Tetapi tetap menarik dicermati bahasa politik simbolik yang terjadi jelang Pilpres 2019 kali ini.

Paling menarik, membaca bahasa politik Keluarga Gus Dur di Ciganjur kepada calon-calon Presiden (capres) dan cawapres kali ini. Sebenarnya keluarga Gus Dur itu mendukung siapa untuk menjadi Presiden RI lima tahun mendatang pada 2019?

Keluarga Presiden ke-4 RI memang menjadi pusat restu para Capres-Cawapres pada Pilpres 2019 kali ini. Sebab, restu mereka akan banyak mempengaruhi para pemilih Nahdliyin dan juga pemilih umum. Sementara Yenny Wahid, saat ini ibarat selebriti politik yang diincar, baik oleh kubu Capres Jokowi ataupun Prabowo. Tak kalah penting dari figur millenial Erick Tohir dan Sandiaga Uno.

Ketika usai dikunjungi Capres Prabowo Subianto Kamis (13/9) lalu, dalam jumpa pers putri kedua Gus Dur Zannuba Arrifah Chafsoh – yang akrab dipanggil Yenny Wahid – mengatakan “saat ini keluarga Gus Dur masih ‘jomblo politik’. “Ada beberapa tawaran tetapi kami belum menentukan pilihan,” kata Yenny Wahid. (Vivanews, 13 September 2018).

Alasan yang disampaikan Yenny, meskipun sudah banyak tawaran dari kedua kubu Pilpres, sejauh ini “Keluarga Gus Dur belum menentukan arah dukungan, karena tidak memiliki partai politik…,” Adapun partai politik yang telah didirikan oleh Gus Dur – Partai Kebangkitan Bangsa, PKB – kini telah jatuh ke tangan orang lain.

Kendalanya apa? He, he, he, he…. Kendalanya kami tidak punya partai. Partai kami diambil…, ha, ha, ha, ha….,” ujar Yenny Wahid berkelakar.

Menurut Yenny, apabila keluarga Gus Dur masih memiliki partai, maka proses penentuan dukungan akan dibatasi dengan tenggang waktu. (Vivanews)

Tentu kita tidak punya mekanisme sejak awal bisa langsung terlibat. Kalau punya partai kan ada deadline sebelum didaftarkan (batas waktu 20 September 2018). Ini kan enggak punya partai, jadi deadline lebih longgar..,” ujar Yenny kepada pers.

Dalam perjalanan waktu di masa lalu, memang terjadi konflik antara Gus Dur – yang saat itu menjabat Ketua Umum Dewan Syuro PKB — dengan Muhaimin Iskandar. Aksi saling pecat terjadi antara Gus Dur dengan Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB saat itu.

Buntut aksi pecat itu, kemudian terjadi dualisme kepengurusan dan berujung keputusan di Mahkamah Agung. Dan PKB versi Muhaimin yang sampai kini bertahan menurut keputusan itu. Nah, pada Pilpres 2019 kali ini PKB Muhaimin mendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Karena luka politik yang dialami Gus Dur, terutama menyangkut PKB ini — apakah akan langsung berarti, bahwa keluarga Gus Dur termasuk Yenny Wahid lebih mendukung kubu Capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno?

Rupanya belum tentu demikian, meskipun menurut Sandiaga Uno, “Yenny akan menyiapkan personel untuk Pilpres 2019..,” kata Sandi.

Menurut Sandiaga, “akan menyiapkan personel untuk Pilpres 2019” yang dikatakan Yenny Wahid ditangkap sebagai sinyal bahwa Yenny akan merapat ke kubu Prabowo-Sandiaga Uno. (Kunjungan Sandiaga Uno ke rumah Ciganjur Senin, 10 September 2018).

Pada akhir kunjungan Sandiaga Uno pada Ibu Nuriyah Wahid, istri mendiang Gus Dur itu “memberi bekal” lauk tempe untuk dibawa Sandi. (Senin, 10/9/2018). Nah, apakah “membekali tempe” ini merupakan bahasa simbol dukungan Keluarga Gus Dur pada Sandiaga Uno?

Ataukah Ibu Nuriyah sekadar merespon secara guyon kritikan Sandi pada pemerintahan Jokowi terutama menyangkut geliat tekanan dollar atas nilai tukar rupiah yang menyentuh batas psikologis, Rp 15.000? Pekan lalu Sandi mengatakan, bahwa saat ini “tempe sudah dikecilkan dan tipisnya sama kayak kartu ATM…,” Sandi mengatakan itu kepada seorang ibu rumah tangga bernama Yuli di Jakarta Timur. (Detikcom).

Rupanya bahasa politik soal dukungan Yenny Wahid dan Keluarga Gus Dur masih belum terungkap tegas, apakah mereka mendukung Capres Jokowi atau Prabowo. Bagi kedua kubu Capres-Cawapres, mereka tentunya memerlukan kepastian dukungan Yenny Wahid menjelang batas akhir pengumuman KPU tanggal 20 September 2018 ini.

Kini tengok balik bahasa politik dalam kunjungan Capres Joko Widodo ke rumah Ciganjur, sebelum Jokowi ke Korea Selatan dan ke Vietnam untuk menghadiri World Economy Forum pekan ini. Jokowi sudah lebih dulu datang ke rumah Keluarga Gus Dur di Ciganjur – bertepatan dengan hari ulang tahun Gus Dur pada Jumat (7/September/2018).

Jokowi datang seorang diri dan datang di Ciganjur sekitar pukul 16.00 (Kompas.com). Kunjungan kali ini dalam rangka hari ulang tahun Gus Dur. (Abdurrahman Wahid, Gus Dur, lahir pada 7 September 1940). Pertemuan berlangsung tertutup untuk media massa.

Di dalam makan bubur merah putih,” kata Jokowi, menurut Kompas.com. Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi menanyakan kondisi kesehatan Sinta Nuriyah dan mendoakan agar keluarga Gus Dur diberikan kesehatan oleh Allah. Dan ketika menyambut kedatangan Jokowi, menurut Kompas.com, Jokowi disambut Sinta Nuryiyah Wahid beserta anak-anaknya, Yenny Wahid, Inayah Wahid dan Alissa Qotrunnada. (Dalam foto, Ny Sinta Nuriah mengenakan kebaya hijau. Sedangkan Yenny Wahid kebaya biru).

Jokowi kemudian diberitakan pamit pada keluarga Gus Dur, untuk menuju Rumah Cemara di Menteng, guna mengumumkan siapa Ketua Tim Sukses Jokowi-Ma’ruf Amin – yang kemudian diketahui dia adalah figur pengusaha populer yang membawa sukses Indonesia sebagai penyelenggara Asian Games 2018, Erick Tohir – pemilik klub sepak bola Inter Milan di Italia dan Persib Bandung.

Jika kunjungan Presiden Jokowi saat haul Gus Dur ke-78 pada (7/9/2018) ia datang seorang diri, maka Prabowo ketika kembali menemui Ny Sinta Nuriyah Wahid ia datang didampingi Dewan Pembina Partai Gerindra, Fuad Bawazir, Maher Algadri dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sugiono. (Kompas.com)

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo mengenakan kemeja safari berwarna cokelat muda, lengkap dengan kacamata dan kopiah hitam. (Ketika datang pada saat haul Gus Dur 7 September lalu, Jokowi mengenakan baju putih dengan logo Asian Para Games, pesta olahraga Asia untuk para cacat yang akan digelar 6-13 Oktober).

Prabowo tiba di rumah Ciganjur disambut oleh putri kedua Gus Dur, Yenny Wahid. Yenny mengenakan baju hitam, menyambut dan sempat duduk satu kursi panjang dengan Prabowo.

Apakah Keluarga Gus Dur mendukung Prabowo? Ketika ditanya dalam sebuah acara wawancara di televisi Berita Satu, Jumat (14/9) malam, juru bicara Keluarga Gus Dur Wahyu Muryadi mengatakan”Nggak tahu…,”

Keluarga Gus Dur, menurut Wahyu Muryadi, adalah “NU Garis Lucu”. Tidak lurus-lurus apakah mendukung Prabowo-Sandi, atau Jokowi-Ma’ruf Amin. Dan memang sudah menjadi karakter budaya politik NU, walau secara formal Ketua Rois ‘Aam Syuriah Pengurus Besar NU Ma’ruf Amin berada di kubu Jokowi belum tentu jutaan Nahdliyin juga akan semuanya berpihak pada Jokowi. Begitu pula sebaliknya.

Keluarga Gus Dur, menurut Wahyu Muryadi, akan melihat catatan-catatan para Capres dalam bernegara dan berbangsa, serta ungkapan mereka tentang nilai-nilai demokratis serta pesan-pesan yang penting dari para tokoh itu.

Nah, sampai terakhir dikunjungi Prabowo Subianto dua kali pun, Yenny Wahid masih mengatakan “jomblo politik”. Apakah sampai batas waktu 20 September 2018, ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan secara resmi para Capres-Cawapres pada 20 September 2018 keluarga Gus Dur dan juga Yenny Wahid tetap akan jomblo politik? Kita tunggu saja…***

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.