Wow, Amerika Hadapi Lonjakan Harga Pangan Tertinggi Dalam 46 Tahun

lonjakan harga
goceries, pixabay

Lonjakan harga terparah terjadi pada komoditas daging baik Sapi, Babi maupun ayam segar sebesar 4,3 %.

BantenTribun.id- Wabah Covid-19 bukan hanya berdampak pada kesehatan manusia secara langsung, tapi lebih dari itu. Serangan virus sangat berpengaruh pada ketahanan ekonomi bahkan berkurangnya daya beli.

Bukan hanya Indonesia, negara seperti Amerika Serikat sangat terpukul karena wabah itu. Selain menelan banyak korban, dampak yang juga sangat terasa adalah berkurangnya daya beli serta melonjaknya harga pangan.

Soal harga pangan, negeri paman Sam menyatakan bila mereka tengah mengalami kenaikan harga terburuk dalam puluhan tahun.

Depertemen Tenaga Kerja Amerika itu melaporkan, lonjakan harga makanan mencapai 2,6 % pada bulan April dan itu adalah yang terburuk sejak 46 tahun.

Harga unggas, ikan dan telur paling tinggi naik hingga 4,6 %.

Sementara harga sereal dan produk roti naik 2,9 persen, sayuran dan buah-buahan meningkat 1,5 %.

Lonjakan harga terparah terjadi pada komoditas daging baik Sapi, Babi maupun ayam segar sebesar 4,3 %.

Harga eceran untuk bulan April untuk daging babi tanpa tulang dan ham naik hampir 6 %, sementara untuk steak dan hamburger juga naik 6 % sedangkan untuk ayam segar melonjak hingga 12 %.

Melonjaknya harga daging di negeri Donald Trump disebabkan adanya serangan wabah pada pekerja di pabrik pengolahan dan rumah-rumah potong hewan.

Seperti ditulis Asociated Press, Ribuan pekerja pabirk pengolahan daging dinyatakan positif Covid-19 dan 44 pekerja  telah meninggal pada Jum’at (29/5). Dampaknya penutupan pun harus dilakukan.

“Pada pertengahan Mei, rumah potong daging sapi dan babi beroperasi dengan kapasitas sekitar 60%, namun hal itu lebih baik dibanding dua bulan lalu,” ungkap ekonom Universias Purdue Indiana, Jayson Lusk, pada AP News.

Meski sang ekonom percaya bila pasokan daging akan kembali normal, tapi ia tetap mengingatkan soal serangan wabah pada gelombang kedua yang berdampak lebih buruk.

Selain soal kemampuan produksi yang menurun, perusahaan pangan di Amerika juga dihadapkan dengan banyaknya karyawan yang sakit dan harus mendapat bantuan biay, serta meningkatnya biaya operasional untuk distribusi terkait tindakan pencegahan Covid-19.

Jeff Dunn, CEO Bolthouse Farms, sebuah perusahaan pemasok utama wortel dan saus salad menyatakan bila perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan, bukan hanya pada distribuisi dan pasokan baru, tapi juga untuk merawat karyawan mereka yang sakit.”Seorang harus mengambil biaya untuk itu,” ujarnya.

“Ada biaya nyata yang dibangun di setiap rantai pasokan. Tidak hanya dengan kami tetapi dengan pengecer dalam hal biaya tambahan yang terkait dengan COVID, ”kata Dunn. “Pada titik tertentu, jika Anda ingin usaha tetap bertahan, biaya-biaya harus ditambahkan karena tidak ada kepastian soal bantuan dari pemerintah,” pungkas Dunn. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.