Urgensi Wakaf dalam Peradaban Islam

 

Oleh : Yayan Suryana Lc.ME

yayan suryana

 

Dalil yang menjadi dasar dalam perekonomian Islam yaitu agar harta-harta tidak berputar di antara orang-orang kaya saja”. (QS. Al-Hasyr: 7) Dan sebagaimana kita ketahui bersama dalam konsep keuangan publik (Public Finance), pilar-pilar ekonomi Islam ada empat, yaitu zakat, sedekah, infaq dan wakaf.

Sejarah peradaban Islam mencatat, wakaf telah menjadi sarana penguat ekonomi umat. Sistem wakaf pula pada zaman keemasan Islam menjadi penyokong dakwah dalam mendirikan sekolah-sekolah, masjid-masjid, rumah sakit, perpustakaan dan madrasah penghapal Quran.

Menurut Dr. Mundzir Qahaf, pemikiran wakaf dalam Islam merupakan suatu yang tidak ada bandingannya, meskipun dalam sejarah barat telah didapati sistem wakaf, namun konsepnya berbeda, terutama yang berkaitan dengan wakaf produktif, wakaf untuk pelayanan umum, dan wakaf keluarga.

Ketiga jenis itu adalah konsep orisinil wakaf Islam. Sejarah wakaf pada masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah dikenal dan disebutkan dalam berbagai riwayat hadits, namun pemikiran wakaf Islam menjadi sempurna pada masa sahabat dan generasi Islam berikutnya.

Wakaf  mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid, seiring dengan manajemen wakaf produktif yang sangat baik, ditambah juga dengan perluasan tujuan wakaf, hasilnya adalah perkembangan harta wakaf umat secara pesat.

Nah, bagaimanakah konsep wakaf ini berjalan dari waktu ke waktu. Fungsi utama bagi kita mengkaji sejarah adalah agar  kita mengambil pelajaran dan hikmah dari umat-umat yang telah mendahului kita.

Tentu bukan untuk mengulanginya (al-Amru lil i’aadah), karena karakteristik setiap zaman berbeda. Akan tetapi, yang harus kita lakukan adalah mengikutinya (al-Amru lil ittiba’).

Makna Wakaf

Wakaf secara bahasa bermakna الحَبْسُ yang berarti “pembatasan” atau المَنْعُ yang artinya “larangan”. Dan secara istilah menurut para Ahli Fikih, wakaf adalah menahan suatu benda yang kekal zatnya (pokoknya), dapat diambil manfaatnya, dan dipergunakan pada jalan kebaikan.

Defisi inilah yang penulis lihat banyak dikutip dan digunakan para ulama.

Karena itu, ibadah dalam bentuk mewakafkan harta tertentu tidak sama seperti derma atau sedekah biasa.

Wakaf lebih besar pahala dan manfaatnya bagi diri orang yang memberikan wakaf, karena pahala wakaf itu terus-menerus mengalir kepada orang yang berwakaf selama harta yang diwakafkan itu masih bermanfaat dan dimanfaatkan orang.

Hukum dan Perbedaan Wakaf dengan Zakat, Infaq dan Sedekah

Ayat Alquran yang berjumlah 6.236 ayat ini berbicara tentang aqidah, akhlaq, dan sejarah. Adapun mengenai wakaf secara khusus tidak ditemukan dalam Alquran.

Dengan perkataan lain, wakaf tidak secara eksplisit ditemukan dalam Alquran. Akan tetapi, keberadaanya diilhami oleh ayat-ayat Alquran tertentu dan berbagai contoh dari hadist Nabi Muhammad Saw.

Berbeda dengan zakat, ibadah wakaf hukumnya sunah, berpahala bagi yang melakukannya dan tidak berdosa bagi yang tidak melakukannya.

Di antara ayat-ayat Al-Quran yang mendasari ibadah wakaf adalah surat Ali Imran ayat 92,

“Kalian sekali-kali tidak sampai pada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Orang yang diberi harta zakat, maka ia berhak atas kepemilikan benda dan manfaatnya sekaligus. Fakir miskin, ketika mendapat seekor kambing zakat, misalnya, maka ia berhak memiliki kambing itu.

Sedangkan wakaf, penerima wakaf hanya berhak mengambil manfaat  dan guna dari harta wakaf, dan ia tidak berhak memiliki atau menghabiskan harta wakafnya.

Pada wakaf kambing, misalnya, penerima wakaf hanya berhak mengambil air susunya, atau manfaat dari kambing tersebut; sedangkan kambingnya tidak berhak ia miliki.

Wakaf dan Jenisnya

Sebagian ulama menyebutkan bahwa wakaf pertama di muka bumi adalah bangunan Ka’bah, yang disebut dalam Alquran surat Ali Imran ayat 96 sebagai rumah ibadah pertama yang dibangun oleh umat manusia.

Dalam Islam dikenal adanya tiga macam wakaf, yakni wakaf keagamaan, wakaf derma (filantropis), dan wakaf keluarga.

Sejarah mencatat, wakaf keagamaan pertama adalah Masjid Quba di Madinah. Masjid ini dibangun pada saat kedatangan Nabi Muhammad SAW pada tahun 622 M. Sampai kini masjid tersebut masih ada di tempat yang sama  dengan bangunan yang diperbarui dan diperluas.

Selang enam bulan setelah Masjid Quba dibangun, didirikan pula Masjid Nabawi di tengah-tengah kota Madinah.

Masjid serta tanah dan bangunan yang secara eksklusif menyediakan penghasilan untuk pemeliharaan dan pendanaan masjid termasuk ke dalam kategori wakaf keagamaan.

Bentuk wakaf kedua adalah wakaf derma (filantropis). Wakaf filantropis ini juga sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Seseorang bernama Mukhairiq berkehendak mendermakan (mewakafkan) tujuh bidang kebun buah-buahan miliknya yang ada di Madinah, setelah dia meninggal, kepada Nabi SAW.

Pada 626 M, Mukhairiq meninggal dunia. Lalu Nabi SAW mengambil alih kepemilikan tujuh bidang kebun tersebut dan menetapkannya sebagai wakaf derma untuk diambil manfaatnya bagi fakir miskin

Menurut hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang disepakati oleh ulama hadits pada umumnya dari Abdullah bin Umar bin Khattab, Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki sebidang tanah di Khaibar, yang aku belum pernah memiliki tanah sebaik itu. Apa nasihat engkau kepadaku?” Rasulullah SAW menjawab: “Jika engkau mau, wakafkanlah tanah itu, sedekahkanlah hasilnya. “Lalu Umar  mewakafkan tanahnya yang ada di Khaibar (di sekitar kota Madinah) itu dengan pengertian tidak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan.

Menjelang Nabi wafat pada tahun 632 M, banyak wakaf derma telah dibuat.

Adapun bentuk wakaf ketiga dimulai tak lama setelah Nabi SAW wafat, yakni pada masa Khalifah Umar bin Khattab (635-645 M).

Ketika Umar memutuskan untuk membuat dokumen tertulis mengenai wakafnya di Khaibar, dia mengundang beberapa sahabat untuk menyaksikan penulisan dokumen tersebut.

Dalam dokumen tertulis tersebut, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Umar bahwa Umar bin Khattab bersedia menyedekahkan hasil tanah itu kepada fakir miskin dan kerabat serta untuk memerdekakan budak, untuk kepentingan di jalan Allah SWT, orang terlantar dan tamu.

Wakaf jenis ini disebut dengan wakaf keluarga. Dalam hadits sahih Bukhari dan Muslim (Muttafaq ‘Alaih) dikatakan: “Tidak ada dosa bagi orang yang mengurusnya memakan sebagian harta itu secara patut atau memberi makan keluarganya, asal tidak untuk mencari kekayaan.”

Wakaf Era Dinasti Islam

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pada masa keemasan Islam, wakaf menjadi salah satu pilar kekuatan ekonomi umat Islam. Hal itu terbukti dengan berduyun-duyunnya masyarakat yang mewakafkan hartanya.

Dari harta-harta wakaf masyarakat Islam saat itu, dibangun berbagai fasilitas sosial seperti masjid, sekolah, rumah sakit, bahkan untuk menggaji guru-guru dan pengajar di sekolah-sekolah digunakan uang wakaf.

Jika sejarah perkembangan wakaf dalam dinasti Islam, maka kurang lengkap jika kita tidak melihat bagaimana wakaf pada masa kerajaan Turki Utsmani (Osmanli Devleti).

Menurut Prof. DR. Suhail Mohammed Sapan, guru besar sejarah Turki Utsmani di King Saud University Riyadh, wakaf sudah menjadi budaya masyarakat Turki dan budaya ini dimulai pada dinasti Turki Utsmani sampai hari sekarang.

Prof. Suhail Sapan juga menjelaskan, wakaf sejatinya sudah mulai berkembang dalam sejarah peradaban pada abad kedua Hijriah. Kemudian sampai pada puncak perkembangannya pada dinasti Turki Utsmani, melebihi perkembangan dua dinasti sebelumnya yaitu Umayyah dan Abbasiyyah.

Konsep wakaf ini pula sepertinya yang menjadikan kerajaan Turki Utsmani kuat secara ekonomi sehingga berkuasa selama 623 tahun (1299-1922). Saat itu kata Prof. Suhail, seseorang lahir di rumah sakit yang dibangun dari uang wakaf, bersekolah di madrasah yang didirikan dari wakaf, makan dan minum dari hasil wakaf, membaca buku-buku dari wakaf, mendapat gaji dari hasil wakaf, dan ketika meninggal ia dikuburkan di tanah wakaf.

Dalam penelitian tentang wakaf, Ekonom Muslim asal Pakistan, Prof. Muhammad Abdul Mannan mengatakan bahwa, keberadaan wakaf terbukti telah banyak membantu bagi pengembangan ilmu-ilmu medis melalui penyediaan fasilitas-fasilitas publik di bidang kesehatan dan pendidikan.

Pengembangan wakaf bukan hanya digunakan untuk mengembangkan obat-obatan dan menjaga kesehatan manusia,tetapi juga obat-obatan hewan. Beasiswa-beasiswa mahasiswa medis, pembiayaan universtias medis,serta rumah sakit-rumah sakit telah banyak yang dibiayai dari dana hasil pengelolaan asset wakaf.

Masjid-masjid di Mesir dan Universitas Al-Azhar di Mesir juga merupakan hasil dari pengelolaan aset wakaf.

Pada abad ke-4 hijriyah, rumah sakit anak yang didirikan di Istanbul (Turki) dananya berasal dari pengelolaan aset wakaf.

Di Spanyol, fasilitas rumah sakti yang melayani baik Muslim maupun non Muslim juga berasal dari pengelolaan aset wakaf.

Turki mempunyai sejarah penting dalam pengelolaan wakaf, mencapai keberhasilannya di zaman Utsmaniyah, dimana harta wakaf pada tahun 1925 diperkirakan mencapai ¾ dari luas tanah produktif.

Pusat Administrasi Wakaf dibangun kembali setelah penggusurannya pada tahun 1924. Sekarang, Waqf Bank & Finance Corporation telah didirikan untuk memobilisasi sumber-sumber wakaf dan untuk membiayai bermacam-macam jenis proyek joint venture.

Di Turki pada tahun 1928 wakaf tanahnya mencapai ¾ total tanah keseluruhan.

Karena wakaf sudah menjadi budaya masyarakat Turki. Maka banyak yayasan-yayasan yang menerima harta wakaf dan menyalurkannya untuk kepentingan sosial. Contohnya Yayasan Diyanet Vakfi, yayasan resmi berada di bawah kementrian Agama Turki.

Sejak didirikan tahun 1975, telah berhasil menginvestasikan harta-harta wakaf di berbagai bidang ekonomi. Misalnya mereka menginvestasikan 1% harta wakaf dari total aset kekayaan Bank Kuwait Turki. Pada tahun 2000, pokok dari harta wakaf di Bank tersebut berjumlah 507 Juta Dollar.

Wakaf Uang

Pada umumnya masyarakat Indonesia mengenal wakaf hanya pada pada benda-benda tidak bergerak khususnya tanah.

Padahal dalam sejarah peradaban Islam, wakaf tidak terbatas hanya pada benda tidak bergerak saja, tetapi juga pada benda bergerak seperti uang.

Meskipun terjadi khilafiyyah, tetapi cukup banyak ulama yang membolehkan wakaf uang. Para ulama yang membolehkan wakaf uang antara lain adalah ulama Hanafiyyah dan Imam az-Zuhri.

Dalam catatan sejarah Islam, wakaf tunai sudah dipraktekan sejak awal abad kedua hijriyah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa Imam az-Zuhri (wafat 124 H) salah seorang ulama terkemuka memfatwakan pengajuran wakaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial, dan pendidikan umat Islam. Adapun caranya dengan menjadikan uang tersebut sebagai modal usaha kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.

Di samping Imam az-Zuhri dan Ulama Hanafiyyah, sebagian Ulama Mazhab Syafi’i juga membolehkan wakaf dinar dan dirham. Bolehnya mewakafkan benda-benda bergerak seperti uang dan saham sangat penting karena hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan ekonomi umat.

Salah satu model yang dapat dikembangkan dalam mobilisasi wakaf tunai adalah model Dana Abadi, yaitu dana yang dihimpun dari berbagai sumber dengan berbagai cara yang sah dan halal, kemudian dana yang telah terhimpun dengan volume besar itu diinvestasikan dengan tingkat keamanan yang tinggi melalui lembaga penjamin syariah.

Dalam penerapannya, wakaf tunai yang mengacu pada model dana abadi dapat menerbitkan sertifikat wakaf tunai.

Setidaknya ada empat manfaat utama dari wakaf tunai, yakni: Wakaf tunai jumlahnya bisa bervariasi sehingga seseorang yang memiliki dana terbatas sudah bisa memberikan dana wakaf.

Melalui wakaf tunai, aset-aset wakaf yang berupa tanah-tanah kosong bisa mulai dimanfaatkan dengan pembangunan gedung atau diolah untuk keperluan umum lainnya.

Dana wakaf tunai juga bisa membantu lembaga-lembaga pendidikan Islam

Umat Islam dapat lebih mandiri dalam mengembangkan dunia pendidikan tanpa terlalu bergantung pada alokasi anggaran belanja negara.

Tiga filosofi dasar yang harus ditekankan dalam pengelolaan wakaf tunai:

Asas integrasi, alokasi wakaf tunai harus dilihat dalam bingkai “proyek terintegrasi”.

Asas kesejahteraan nazhir, kesejahteraan nazhir harus diperhatikan, seperti yang dicontohkan Turki yang memberikan alokasi dana 5% kepada Badan Pengelola Wakaf.

Asas transparansi dan accountability

Mengenai wakaf uang di Indonesia, pada saat ini sudah tidak ada masalah lagi karena pada tanggal 11 Mei 2002 Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia telah menetapkan fatwa tentang wakaf uang, yang isinya adalah sebagai berikut:

1.Wakaf uang (Cash Wakaf/Waqf al-Nuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok  orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.

2.Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.

3.Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh).

4.Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar’i.

5.Nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan atau diwariskan.

Dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004  Tentang Wakaf, wakaf uang diatur dalam bagian tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa wakaf uang memang penting dikembangkan di Indonesia.

Dalam Pasal 28 Undang-undang tentang Wakaf disebutkan bahwa wakif dapat mewakafkan benda bergerak berupa uang melalui lembaga keuangan syariah yang ditunjuk oleh Menteri.

Wakaf uang memang sangat penting dikembangkan di Indonesia karena pada saat masih cukup banyak saudara kita yang menghadapi kesulitan hidup.

Di berbagai negara yang wakafnya sudah berkembang dengan baik, hasil pengembangan wakaf uang dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan berberbagai masalah sosial dan ekonomi yang ada dalam masyarakat.

Tugas selanjutnya bagi Badan Wakaf Indonesia (BWI), para akademisi dan praktisi ekonomi syariah di Indonesia adalah bagaimana menjadikan kegiatan wakaf ini (khususnya wakaf uang) menjadi budaya masyarakat kita. Wallahu’alam bish-shawaab. *

*Yayan Suryana, Lc.ME (Kang Yasin) — Alumnus universitas Al-Azhar Kairo Mesir & universitas Ibn Khaldun Bogor, Kontributor BantenTribun Karawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.