Tuntutan bagi Kalangan Dosen: Kompetensi dan Integritas

 

tuntutan bagi kalangan dosen

Oleh Dr. Elli Widia, S.Pd., MM.Pd*

UNESCO, badan dunia yang menangani pendidikan menyerukan kepada bangsa-bangsa di dunia bahwa jika ingin memperbaiki keadaan seluruh bangsa, maka haruslah dimulai dengan memajukan bidang pendidikan, sebab pendidikan adalah kunci menuju perbaikan terhadap peradaban.

Organisasi yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu juga merumuskan bahwa pendidikan adalah “learning how to think” (belajar bagaimana berpikir) dan “learning how to do” (belajar bagaimana melakukan).

Pendidikan juga berarti “learning how to be” (belajar bagaimana menjadi), “learning how to learn” (belajar bagaimana belajar), dan “learning how to live together” (belajar bagaimana hidup bersama).

Dengan demikian, pendidikan sangat penting bagi kemajuan umat manusia serta tidak sekedar merupakan “transfer of knowledge” (transfer ilmu pengetahuan). Tujuan pendidikan sesungguhnya adalah menciptakan pribadi yang memiliki sikap dan kepribadian yang positif.

Sikap dan kepribadian yang positif antara lain bangga memiliki kompetensi, bangga berdisiplin, tahan mental menghadapi kesulitan hidup, jujur dan dapat dipercaya (memiliki karakter dan integritas yang baik), suka bekerjasama dalam tim, dan memiliki pola pikir yang rasional (pola pikir unggul).

Selain itu, terbiasa bekerja keras, bertanggungjawab, mengutamakan kepedulian terhadap sesama, mengutamakan diskusi daripada berdebat, taat pada aturan, menghormati hak-hak orang lain, memiliki moral dan etika yang baik, dan mencintai pekerjaan dengan sepenuh hati.

Dengan demikian, setiap aktivitas belajar-mengajar sejatinya tidak hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan kepada warga didik (warga belajar), tetapi juga membimbing mereka melalui motivasi dan contoh keteladanan yang bermuara pada pembinaan sikap maupun etika atau moral peserta didik.

Dalam kaitan ini, tidak dapat dipungkiri bahwa proses pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan, sehingga apa yang menjadi sasaran pendidikan belum dapat diwujudkan secara penuh dan komprehensif.

Keadaan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, jumlah penduduk yang besar, kondisi geografis yang luas serta belum maksimalnya peranserta seluruh komponen masyarakat di bidang pendidikan menjadi kenyataan yang dapat memperlambat proses pembangunan pendidikan di Indonesia.

Namun patut disyukuri bahwa berbagai upaya signifikan telah dilakukan Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk mempercepat pembangunan pendidikan nasional.

Penetapan anggaran pendidikan sebesar 20 prosen dari APBN maupun APBD (Sesuai pasal 31 ayat 3 UUD 1945) menjadi indikator utama dimulainya percepatan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Di sisi lain pembenahan kurikulum nasional dan penataan mutu tenaga pendidik yang simultan diharapkan dapat membawa perubahan ke arah terciptanya manusia Indonesia yang berpendidikan, bermoral, dan berdaya saing tinggi.

Patut disyukuri pula bahwa saat ini sudah banyak generasi muda di Indonesia yang berpendidikan tinggi. Mereka adalah bagian dari kalangan cerdik pandai (intelektual) yang nantinya diharapkan dapat turut menyelesaikan permasalahan bangsa.

Kebangkitan Indonesia sejak masa perlawanan terhadap penjajahan Belanda juga dimotori oleh kalangan terdidik, yakni para mahasiswa kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), sekolah kedokteran pertama di Indonesia yang kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).

Presiden pertama RI Soekarno dan Tokoh Pendidikan Ki Hajar Dewantara juga pernah mengingatkan bahwa satu-satunya cara untuk dapat mengubah nasib suatu bangsa (terutama dalam hal ini bangsa Indonesia) hanyalah melalui pendidikan.

Dalam upaya memajukan pendidikan, sikap terbaik adalah bahwa para mahasiswa dituntut untuk terus berusaha menjadi insan yang kreatif, inovatif, dan kompetitif serta memiliki integritas dan moral yang baik, karena bagaimana pun mereka adalah agen perubahan menuju perbaikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Sementara itu hasrat untuk meraih pendidikan tertinggi (Ph.D) dan memiliki otoritas kepakaran (Profesorship) harus terus dipacu yang melekat pada sistem penghargaan dan jenjang karier seorang akademisi, sehingga perguruan tinggi ke depan dapat melahirkan banyak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul.

Selanjutnya, integritas dan moral yang baik akan tercipta kalau para mahasiswa dan dosen idealnya dapat meneladani sifat-sifat kenabian, yakni siddiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathonah (cerdas).

Dengan begitu segenap sivitas akademika akan dapat mengimplementasikan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan baik yang mencakup pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Di sisi lain, saat ini ada fenomena menarik dan menggembirakan di berbagai daerah, yakni kecenderungan semakin tingginya semangat belajar generasi muda, termasuk banyaknya karyawan yang bekerja sambil kuliah, apapun motivasinya. Mereka menuntut ilmu di sela-sela tugas kantor yang menumpuk.

Mereka dituntut mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, terutama karena dunia mahasiswa tidak jauh dari tugas “menumpuk” yang diberikan dosen. Belum selesai tugas dosen yang satu, muncul lagi tugas dosen yang lain, dan semua tugas harus dikerjakan sesuai deadline.

Selain soal manajemen waktu, tantangan lain bagi mereka yang bekerja sambil kuliah adalah masalah keuangan yang harus berbagi dengan keluarga serta anak-anaknya yang umumnya juga sedang belajar.

Sementara itu nasib dan hari depan suatu perguruan tinggi, baik Perguruan Tinggi Negeri (PTS) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS), dan baik yang berada di kota maupun di daerah sepenuhnya berada di tangan sivitas akademikanya sendiri.

Dalam kaitan ini, kemampuan para pengelola perguruan tinggi dalam memanfaatkan peluang dan mengatasi berbagai kondisi lingkungannya akan sangat menentukan kemajuan  perguruan tinggi yang bersangkutan

Kalangan sivitas akademika juga harus mengubah paradigma tentang perguruan tinggi yang selama ini hanya dianggap sebagai tempat mencari ilmu di ruangan perkuliahan menjadi tempat berkarya dan pengejawantahan ilmu untuk memberikan manfaat atau nilai bagi lingkungannya.

Dengan demikian perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di manapun diharapkan dapat mendorong kemajuan masyarakat sebagai salah satu perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Selanjutnya, dalam upaya memajukan PTN maupun PTS perlu adanya otonomi yang lebih luas, sementara itu tugas Rektorat adalah memberikan arahan, penguatan sistem dan budaya kerja, serta memfasilitas fakultas dan program studi untuk berkembang dengan “stakeholders” (pemangku kepentingan) yang lebih luas.

Sebagai contoh, Fakulats Ekonomi akan semakin lincah bergerak bila dapat memberi manfaat bagi industri dan asosiasinya melalui riset dan pengembangan yang difasilitasi Rektorat sebagai payung dan pengembang jejaring (networking).

Salah satu wujud otonomi yang luas itu adalah kebebasan perguruan tinggi untuk menyusun kurikulumnya sendiri dengan mempertimbangkan pasar di wilayah di mana perguruan tinggi tersebut berada.

Tetapi perlu dicatat bahwa menurut Pasal 9 Ayat 1 Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan, kurikulum perguruan tinggi itu sendiri perlu dikembangkan dan dilaksanakan dengan berbasis kompetensi.

Di sisi lain, tidak dapat disangkal bahwa kunci kemajuan perguruan tinggi di mana pun akan lebih banyak ditentukan oleh manusianya sebagai sumberdaya utama, khususnya para dosen atau pengajarnya.

Para dosen seyogyanya perlu terus belajar, meskipun mereka telah mencapai gelar akademik tertinggi, terutama dengan merawat jejaring dengan lingkungan profesional dengan dibekali akses informasi dan pengetahuan baru secara terus-menerus.

Di samping itu fasilitas belajar-mengajar yang dibutuhkan juga harus memadai, termasuk ruangan untuk dosen, ruang laboratorium, dan sistem informasi (database)nya dengan berbasis teknologi informasi.

Lebih dari itu, jika direnungkan secara mendalam, jelas bahwa para dosen tidak cukup hanya perlu bekerja keras dan mempunyai kompetensi di bidangnya, tetapi yang lebih penting adalah harus memiliki integritas dan moral (akhlak) yang baik, sebab mereka adalah teladan bagi para mahasiswanya.

Maka tepat apa yang pernah dikemukakan pemikir Islam terkemuka Imam Ghazali bahwa “Tidak akan sampai ke puncak kejayaan kecuali dengan kerja keras, dan tak akan sampai ke puncak keagungan kecuali dengan sopan santun (akhlak yang baik)”.

*Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Batam (Uniba) serta Tutor Pendidikan Dasar S1 dan Pascasarjana Universitas Terbuka (UT). Akademisi kelahiran Blang Pidie Nanggroe Aceh Darussalam ini juga mengajar di SD Islam Nabilah Batam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.