Tubagus Iwan Ridwan: Bakat Menulisnya Justru Ditemukan Seorang Prajurit

Siapa sangka, bakat menulisnya justru ditemukan oleh seorang prajurit saat ia mengikuti tes taruna Akmil. Ia terus mengasah ketrampilan menulisnya. Menurutnya, tidak ada yang sulit dalam menulis, yang ada hanya malas untuk memulai.

Padahal, orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian, katanya mengutip Pramoedya Ananta Toer. 

bakat menulisnya
Tubagus Iwan Ridwan@BantenTribun

 

Pandeglang,BantenTribun.id-Nama Tubagus Iwan Ridwan, pria kelahiran Kampung Ustad Adi Hidayat, Ciekek Babakan Karaton Pandeglang, kini kerap menghiasi wajah surat kabar ataupun media online, sebagai penulis opini atau artikel.

Padahal, sewaktu SD hingga SMA ia tidak menaruh minat apalagi merasa berbakat menulis. Tugas mengarang yang diberikan guru pelajaran Bahasa Indonesia, hampir tak pernah diselesaikan karena malas dan tidak tahu apa yang mau diceritakan.

“Saya teringat pada prajurit saat mengikuti tes calon Taruna Akmil di Bandung, yang menilai saya punya kemampuan menulis dan meminta untuk terus berlatih dan dikembangkan,” ungkap Iwan Ridwan, kepada BantenTribun, Rabu,1 Juli 2020.

Masuk Akmil dan menjadi perwira, memang menjadi mimpi awalnya, meskipun pada akhirnya gagal dan mentok ditahapan “pantauhir”.

Sementara cita-cita kuliah di Perguruan Tinggi saat itu hanya sebatas impian dan angan-angan saja, karena ia sadar dengan kemampuan ekonomi keluarganya.

Namun, hasratnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi semakin menguat ketika mendengar cerita pengalaman teman-temannya yang melanjutkan pendidikan dan menuntut ilmu di Kota Bandung.

 “Motivasi atau dorongan untuk kuliah memang saya akui banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan teman dan sahabat waktu SMA. Mereka secara tidak langsung menginspirasi dan menjadi motivator dalam mewujudkan mimpi kuliah di perguruan tinggi. Banyak aral yang harus dihadapi, meski pada akhirnya saya diterima dan bisa kuliah di Unpad Bandung,” kenang pria kelahiran Maret 1978 ini.

Pada saat kuliah di Bandung, ia tidak pasif dan mencoba mendalami dunia jurnalistik dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan jurnalistik dasar se – Bandung Raya yang diselenggarakan Universitas Pasundan.

Dari situ pula ia mulai mengetahui teknik penulisan artikel, berita, opini dan feature. Kemudian bersama  sahabatnya, Herdi Wibowo dan Windu Iwan Nugraha membentuk pers kampus, semacam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dengan nama Buletin Lentera. Saaran itu ia gunakan untuk mengasah bakat menulisnya.

 “Alhamdulillaah baru terbit langsung di “bredel” karena mungkin dianggap terlalu kritis oleh pimpinan kampus,” kata suami dari Popi Harpenasari, ASN yang bertugas di BPN Pandeglang.

Iwan masih ingat betul, jika tulisan pertamanya di muat di media lokal “Banten Ekspose” sekitar tahun 2005. Tulisan dalam bentuk artikel tentang pemberdayaan UMKM.

“Rasanya sangat senang sekali punya karya tulis dan terbit disebuah media dengan oplah cukup besar waktu itu sampai berulang kali dibaca,  lebih senangnya lagi ada foto penulisnya tertera disitu, meskipun honornya tidak pernah diambil karena merasa diterbitkan saja cukup puas” ucapnya.

Setelah itu, media lokal lain pernah menerbitkan tulisannya. Badak Pos, Kabar Banten juga BantenTribun.id.

Menurutnya, tidak ada yang sulit dalam menulis, hanya saja terkadang malas untuk memulainya. Banyak orang yang bakat menulisnya baik, lalu mencoba menulis namun bingung mau nulis apa, dan mulainya dari mana.

“ Membuat tulisan bisa dimulai dari hasil pengamatan kita terhadap lingkungan sekitar. Atau terhadap fenomena yang terjadi dan menurut kita perlu diberikan solusinya. Secara keilmuan fenomena itu adalah kenyataan atau realita yang dipikirkan atau kenyataan yang dapat diinderai,” terang Iwan,   ASN yang bekerja sebagai  Analis pada Bagian Hukum dan Persidangan Sekretariat DPRD Provinsi Banten.

Secara pribadi, Iwan mengaku lebih senang menulis bernuansa ilmiah seperti jurnal. Dalam menulis artikel dan opinipun, masih kata Iwan,  sebisa mungkin menggunakan data dan metode penulisan sesuai kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah, dengan menggunakan  cara berpikir sesuai pilihan, berpikir analitis, abstrak, general, atau hipotesis.

Soal waktu untuk mengasah bakat menulisnya, Iwan mengatakan tidak ada waktu khusus untuk menulis. Sebagian orang mungkin saja melakukan kebiasaan menulis pada waktu tertentu.

“Bagi saya kapan saja bisa disisihkan waktu untuk membuat konsep tulisan asalkan tidak mengganggu aktivitas pokok sebagai pekerja di institusi pemerintah. Suasana ba’da sholat subuh juga sangat mendukung untuk memulai aktivitas menulis,” paparnya.

Menurutnya banyak ASN yang mempunyai potensi untuk membuat berbagai macam jenis tulisan. Hanya saja mungkin  belum ada waktu yang cukup untuk fokus mengembangkan kemampuannya itu. Karena untuk menulis butuh waktu ekstra terutama dalam mengumpulkan data dan informasi.

“Kalau ada anggapan masih minimnya ASN yang mau menulis, menurut saya ini soal keberanian saja. Maksudnya keberanian mengungkapkan sesuatu atau pemikirannya kemudian dibaca oleh masyarakat luas. Tapi anehnya kalau menulis status di Media Sosial banyak yang berani, sebentar-sebantar di share, kadang-kadang semuanya ditulis dan diungkapkan,” ujarnya,

Jika ada ASN yang membuat tulisan yang bernada kritikan bersifat konstruktif, objektif dan bisa dipertanggungjawabkan, sebaiknya disediakan ruang untuk mendiskusikan masalah yang diangkat dalam tulisan.

“Siapa tahu tulisan itu bisa dijadikan bahan untuk merumuskan kebijakan kepala daerah. Atau tinggal diarahkan dan disediakan kanal khusus, bukan malah dicap jelek,” tutup alumni S2 program magister di Universitas Padjadjaran ini.*(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.