Tetap Menulis, karena Tulisan akan Temukan Takdirnya Sendiri

 

Oleh : Kamim Rohener

Tetap menulis sampai tulisan menemukan takdirnya sendiri

Satu saat, saya sempat tercenung dengan kalimat yang terlontar dari seorang birokrat, Utuy B. Setiadi.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Pandeglang, yang menilai saya bukan seorang wartawan, tapi seorang penulis.

Saya meraba apa gerangan yang dimaksud beliau? Apa karena saya sudah jarang bertandang hubungi  narasumber? Atau sudah dianggap pensiun dari lalu lintas nyamuk pers yang kerap mencegat untuk wawancara? Atau sebab buku tulisan kolom saya yang masih dimilikinya?

Boleh jadi “pensiun “ sudah disematkan ke saya. Tapi, karena pensiun itu tetap pekerjaan juga,  maka saya akan terus menulis.  Karena tulisan akan menemukan takdirnya sendiri, seperti kata Pramoedya Ananta Toer.  Karena kesuksesan seperti yang diharapkan, juga bisa diraih dari menulis.

Selanjutnya, saya semakin bergairah menuangkan tulisan. Seperti mendapat supplement obat kuat pemberian Abdul Latif, Kasubag Akuntabilitas yang karirnya ‘dimandegkan’ seolah tertahan di berkas. Padahal ia berotak encer, gesit capai target.

Sukses menulis, seperti kata Bonnie Friedman,  yang sudah udzur itu, bukanlah orang yang menulis kalimat terbaik, melainkan mereka yang terus menulis.

“Mereka adalah orang-orang yang menemukan apa yang paling penting dan teraneh serta paling menyenangkan dalam diri mereka, dan tetap percaya pada nilai pekerjaan mereka, meskipun menghadapi kesulitan,” kata Friedman.

Saya memang tidak meragukan pendapat Bonnie ini karena saya pernah ditempa sejak bangku kuliah menjelang kejatuhan rezim. Bangku sekolah yang mengajari saya bagaimana menjadi jurnalis dan trampil menulis. Meski praktiknya dalam keseharian, masih belum egois, masih terganggu kerumitan dapur.

Ini karena  kegalauan saya pada masa lalu yang sudah diwakili dan dikemukakan Bonnie. Dalam satu titik, saya merasa menulis bukan untuk kehidupan. Menulis tidak akan berperan besar dalam menopang hidup, bahkan sekadar menghidupi diri sendiri.

Contoh banyaknya penulis yang menderita dan sengsara di masa tuanya, sungguh berat menghantui pikiran saya.

Namun, setelah kunjungan Agus Sandjadirdja, Ketua Dewan Penasihat PWI Banten yang pegang Pers Card Number One dan sudah merasa pensiun, mendadak seperti ada suntikan. Seakan ada bimbingan dari langit, menuntun tangan saya terus mengarahkan saya kepada keybord laptop, kepada buku dan bacaan yang diperlukan sebagai gizi untuk menulis.

Saya teringat perkataan penulis lain, yang lupa saya sebut namanya. Katanya, untuk jadi penulis yang baik, temukanlah pekerjaan yang baik terlebih dahulu.

Sebab pekerjaan sebagai manager pertama sudah saya alami. Sebab menjadi direktur perusahaan kecil sudah dilakoni. Dan sebab menjadi pedagang tangkil juga sudah dijalani, maka apalagi yang dikerjakan ketika semua itu sudah dianggap pensiun?  Apalagi status wartawan masih ditempelkan, maka saya wajib menulis.

Bagaimana bisa menulis tanpa pekerjaan? Anggapan ini jelas keliru. Karena pensiun itu juga pekerjaan, bahkan mungkin pekerjaan yang baik. Tidak percaya, liat saja di kolom KTP atau isian formulir. Pekerjaan : Pensiunan.

Soal ketidak- setujuan Rudi Daud Suwandi, Kasek SMP yang juga sudah digerbang menjemput SK pensiun,  tapi masih meragukan pensiun itu sebagai pekerjaan, itu soal lain. Betul-betul lain soal.

Beruntung, tatkala aktivitas  menulis saya mengendor, istri tercinta kerap menegor. Kenapa tidak menulis? Jangan berhenti, karena itu passionmu.

Tetap menulis dan terus menulis meski langit akan runtuh, juga perlu modal. Modal terbesar, Percaya diri, melawan malas, melatih diri.

Saya juga percaya dengan omongan Pepih Nugraha, “Setiap penulis adalah unik dan keunikan inilah yang harus terus ditawarkan kepada publik dalam bentuk opini, artikel, puisi, drama dan cerita. Tanpa modal percaya diri ini, akan selamanya tersesat dalam kegamangan, terjebak dalam ketidakpastian,” kata Pepih.

Jadi, tetaplah menulis sekiranya bermanfaat buat pembaca. Mumpung sudah tidak ada lagi suara tik-tak bising irama mesin ketik. Karena percaya saja kata Pramoedya, setiap tulisan akan menemukan takdirnya sendiri.**

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.