Terbaru, Ignasius Jonan Ungkap Transformasi Kereta Api Indonesia

Transformsi Kereta Api Indonesia yang kini menjadi moda transportasi favorit bangsa Indonesia tak bisa lepas dari sosok Ignasius Jonan.

Pria Kelahiran Singapura itu berhasil membawa Kereta Api menjadi transportasi yang lebih bermartabat dan manusiawi.

ignasius jonan
Ignasius Jonan saat wawancara di akun youtube Helmy Yahya

BantenTribun.id- Bagi generasi milenial, moda transportasi Kereta Api adalah salahsatu pilihan terbaik ketika melakukan perjalanan, baik untuk tugas atau sekedar traveling.

Mereka bisa dengan mudah mengakses pembelian tiket secara online, punya kepastian tempat duduk, waktu yang relatif tepat, tidak macet. Hingga mendapat layanan maksimal dalam kereta.

Perubahan itu sebenarnya tidak didapat dengan mudah. Setidaknya sebelum tahun 2010an, Kereta Api bisa dibilang sebagai transportasi kelas bawah, kumuh dan tidak tertib. Jauh dari kata aman dan nyaman.

Buktinya, dulu saat naik kereta ekonomi, kita menyaksikan pedagangan asongan menawarkan jajanan sepanjang jalan, dalam kereta. Muatan padat, nomor kursi tidak jelas, penumpang naik dimana saja bahkan diatas kereta.

Kini, semua itu berubah. dan transformasi itu tak bisa lepas dari sosok inovatif, Ignasius Jonan.

Lalu apa yang dilakukan mantan Menteri ESDM itu, hingga mampu kultur dunia kereta api menjadi moda transportasi pilihan masyarakat?

PT KAI
Suasana di Salah Satu Stasiun, Jauh Berubah dibanding dulu

Komunikasi

Sejak didapuk menjadi bos PT Kereta Api Indonesia (KAI), Jonan langsung melakukan komunikasi dengan berbagai unsur di BUMN itu. Tak hanya dengan petinggi, ia pun melakukan komunikasi dengan juru lansir hingga penjaga pintu perlintasan.

“Saya ngobrol denga penjaga pintu perlintasan di stasiun senen, perlintasan yang paling makan korban. saya tanya gajinya yang hanya 1,5 jute perbulan, saya bilang kita harus berubah. Begitu juga dengan petugas lain di lapangan.” Ungkap Jonan, di akun youtube Helmy Yahya Bicara, Sabtu 17 Oktober 2020.

Igansius Jonan juga mengatakan, semua unsur di KAI meragukan ia bisa melakukan perubahan.

“Semua ragu termasuk menteri perhubungan dan pak Sofyan Jalil, saya kira wajar mengingat BUMN paling susah dirubah.” Tambahnnya.

Lulusan Tufts University Amerika Serikat itu, mengaku membangun paradigma perubahan di KAI bukan perkara mudah.

“Saya terus wacanakan, sosialisasikan dan beri contoh, dari 5 tahun 8 bulan masa kerja saya, dihabiskan di luar di PT KAI, mungkin hanya 4 bulan saya berada dirumah.” Kenang Ignasius Jonan.

Budaya Organisasi

Selain komunikasi, Jonan juga melakukan banyak perubahan dalam organisasi perusahaan. Ia meyakinkan Menteri BUMN kala itu untuk merubah struktur gaji di PT KAI.

“Saya pertaruhkan karir saya, saya minta  6 bulan untuk membuktikan, jika gagal saya rela dipecat.” Imbuhnya.

Selain itu, ia juga melakukan sistem karir berbasis merit sistem. Dimana, promosi hanya bisa diraih dengan satu ukuran, yakni kinerja.

“Ada yang namany Subakir, lulusan SMA, kini sudah pensiun, awalnya adalah juru lansir, namun karena kinerjanya bagus, terakhir ia bisa menjabat Direktur Operasi PT KAI. Ada yang juga yang awalnya penjaga pintu perlintasan, terakhir bisa menjabat Direktur Logistik.” jelas Jonan.

Selain gaji dan sistem karir, pak Ignasius Jonan juga menerapkan budaya efektif dan efisien dalam bekerja.

“Dulu kalau ada petugas PT KAI pindah, itu yang nganter bisa puluhan bahkan ratusan, sekarang tidak lagi, just pack and go.” Jelasnya.

Ignasius Jonan Perbaiki SDM PT KAI

Sumber Daya Manusia (SDM) PT KAI menurut Jonan awalnya parah. “Bayangkan sebagian besar mereka adalah lulusan SD dan SMP. Bagaimana coba cara merubah mindset mereka.” Ungkapnya.

Ia melakukan banyak hal, sesuatu yang belum dilakukan sebelumnya di PT KAI.

“Saya kirim mereka ke Hotel, ke Cina, Prancis dan beberapa negara lainnya untuk belajar. Bukan hanya pejabat, tapi juga karyawan di level bawah. Syaratnya mereka berkinerja baik selama 6 bulan terakhir. Selama menjabat di KAI mungkin saya telah mengirim sekitar 3000 karyawan.” Kenangnya.

Jonan menjelaskan hasilnya bisa di lihat sekarang, PT KAI bisa lebih baik. Inovasi berjalan terus dan pelayanan sangat baik.

“Dulu Pay Take Home Kepala Stasiun hanya 2 sampai 3 juta, sekrang bisa mencapai Rp 25 sampai 30 juta.” terangnya bersyukur.

“Mas Helmy bayangkan, parkiran gambir itu sekarang bisa menghasilkan hingga Rp 100 juta per hari.” tambah Jonan.

Ignasius Jonan menanamkan satu hal, ia mengaku jabatan yang diterima adalah amanah, dan harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Sebagai pemimpin ia sadar harus menjadi contoh bagi bawahannya, menerapkan disiplin dan berkinerja baik.

“Kita tidak bisa diam dan duduk di ruang ac, kita harus bekerja keras dan turun ke lapangan. Hasilnya lihat PT KAI sekarang.” Pungkas Jonan. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.