Sumur Tujuh Gunung Karang Masih di Lockdown Perhutani

 

Syakir Sahroni, Kaur Tehnik Kehutanan, Kantor Kesatuan Pemangkuan Hutan Pandeglang (fot0-BantenTribun)

Hingga saat ini, pendakian ke Sumur Tujuh Gunung Karang belum dibuka alias masih di “Lockdown” akibat pandemic covid. Ada perubahan skema jika pendakian atau ziarah ke sumur tujuh dibuka nanti.   

Pandeglang,BantenTribun.id– Sejak ditetapkan ditutup sementara atau lockdown bagi pendaki atau peziarah ke Sumur Tujuh Gunung Karang, februari lalu, hingga saat ini Perhutani Pandeglang belum berencana membuka kembali.

Pembukaan pendakian atau ziarah ke tempat tersebut, akan memperhatikan situasi dan kondisi keamanan di tengah pandemic  covid-19.

“Sampai saat ini Sumur Tujuh Gunung Karang masih ditutup sementara. Masyarakat yang mau ziarah atau para pendaki harus bersabar sampai pandemic covid ini berakhir,” kata Kepala Urusan  Tehnik Kehutanan Perhutani Pandeglang, Syakir Ansori, kepada BantenTribun, Selasa (16/6/20).

Menurut Syakir, penutupan itu dimaksudkan untuk keselamatan peziarah atau pendaki, dan mencegah penyebaran covid yang masih dalam kondisi pandemic.

Jika pendakian atau ziarah ke Gunung Karang kembali dibuka, Protokol kesehatan akan diterapkan. Selain itu, juga akan ada perubahan skema  kerjasama pengelola dengan Perhutani.

“Nantinya ziarah ke Sumur Tujuh akan dikerjasamakan dengan LMDH atau atau pihak desa sebagai guide ke lokasi. Selama ini hanya dikelola oleh masyarakat sekitar hutan,” terang Agus Suhendar, Asisten Perhutani (Asper) Pandeglang, melalui pesan WhatsApp yang diterima Banten Tribun.

Batu Masjid Puncak Manik akan dikaji untuk Wisata Abadi

Batu Masjid Puncak Manik di Gunung Karang yang disebut –sebut sebagai lokasi Pertapaan Maulana Hasanudin, akan dikaji menjadi objek  ziarah yang baru di Gunung Karang.

Jalur menuju ke lokasi ini, menurut Syakir Sahroni, bukan jalur baru namun jalur setapak yang sudah ada.

“Tidak menutup kemungkinan nanti akan dibuka jalur bagi peziarah untuk megetahui atau napaktilas sejarah Banten, meskipun tidak ada yang bisa  memastikan lokasi itu sebagai  tempat pasti bertapanya pendiri Banten,” terangnya.

Pembukaan jalur ke lokasi, masih kata Syakir, harus memperhatikan berbagai aspek: kondisi jalan, dan masukan ulama yang lebih paham.*(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.