Suku Baduy Bukan Pelarian dari Kerajaan Padjajaran

 

Suku Baduy saat melakukan Seba ke Gubernur Banten, beberapa waktu lalu (foto-Nurhaipin-BantenTribun)

Jika masih ada yang beranggapan Suku Baduy merupakan pelarian dari Kerajaan Padjajaran, ini keliru. Jaro Tanggungan,  Ayah Saidi, tegas membantah itu. Di Baduy, tidak semua warganya boleh memberikan pendapat kepada warga luar.

Pandeglang,BantenTribun.id- “Kami Mah Lain Pelarian Ti  Padjadjaran, Ti Heubel Na Geh Urang Kanekes Mah di Dieu Cicingna (Kami ini bukan pelarian dari padjajaran. Baduy sejak jaman Pajajaran sudah ada, Dari dulu sudah tinggal di daerah Kenekes-red),” kata Jaro Tanggungan,  Ayah Saidi.

Jaro Baduy merupakan simpul pemersatu masyarakat Baduy Dalam yang terdiri dari 3 kampung (Cikeusik, Cikertawarna, Cibeo serta Baduy Luar. Musyawarah adat dan lainnya, dilakukan dibawah koordinasi jaro.

“Jaro dipilih oleh musyawarah Puun. Sementara “Puun” dipilih melalui wangsit,” terang Ahmad Yani, penulis Etnografi Baduy, saat dihubungi BantenTribun, Senin, 29 Juni 2020.

Suku Baduy merupakan sebutan masyarakat Luar Baduy untuk Masyarakat di Desa Kanekes yang menetap di daerah pengunungan wilayah Banten Selatan yang menganut ajaran Sunda Wiwitan.

“Informasi Baduy Pelarian dari Padjajaran adalah informasi yang tidak benar, karena masyarakat Baduy tidak pernah berpindah-pindah tempat sejak keberadaannya,” jelas Yani.

Menurutnya, asal -usul masyarakat adat Kanekes – sebutan mereka sendiri  untuk komunitas dimaksud- ada sejak sebelum Masehi.

Hal ini dapat dilihat dari hal-hal diantaranya : Berdasarkan kalender Sunda Buhun, pada tahun 2020 ini sudah masuk tahun 3000 an, berdasarkan bentuk tulis yang mereka kenal, dimulai dari bentuk tulis purba dengan ragam tulis berupa garis, lingkaran, segi tiga dan segi empat.

Selain itu, masih terang Yani, dari ajaran yang mereka anut yakni “ Sunda Wiwitan” yang ada sebelum masa Hindu dan Budha, serta dari silsilah Prabu Siliwangi, merupakan keturunan dari Kampung Cikeusik (salah satu Baduy Dalam) yang keluar dari ikatan adat sunda wiwitan dan mengembara serta menjadi seorang raja di masa Hindu dan Budha.

“Pendapat yang disampaikan Tanggungan ini, juga sama dengan yang disampaikan Jaro Tangkeusan, dan jaro adat lain, yang menyebut Komunitas mereka sejak dulu tinggal di situ dan tidak berpindah-pindah,” terang Mang Ripin, tour guiede yang kerap keluar masuk Baduy.

Mang Ripin (kaos merah) saat berkunjung dan berbincang dengan warga Baduy di rumah kokolot (foto-BantenTribun)

Salah satu keunikan di Baduy, masih kata Mang Ripin,  tidak ditemukan adanya artefak apapun yang terkait dengan tinggalan sejarah masa lalu, kecuali cara hidup dan budaya mereka.

“Ari penganut Sunda Wiwitan mah Loba,  dimana Oge Aya, tapi di nu sejen mah Ikutan…. kulantaran di Batur mah Sunda Wiwitan na Teu Aya Seba, Ngalanjakan, Kapundayan jiga cara Urang di Dieu “ kata Jaro Ayah Saidi,  (Kalau penganut Sunda Wiwitan, mah, banyak. Dimana-mana juga ada, tapi yang lain mah ikutan, lantaran disana, mah, tak ada Seba, Ngalanjakan, Kapundayan, seperti cara orang Baduy disini-red)* (kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.