Sudah 40 Tahun Kakek Unda Bertahan dengan Ramuan Cincau Cylea Berbata

Sampai saat ini, Kakek Unda (65)tetap konsisten dengan ramuan cincau. Saban hari, ia harus melewati kontur jalan yang menanjak untuk  berkeliling kampung dengan beban seberat 60 kg di pundaknya. Dan entah, berapa ribu orang pelanggannya yang merasa terobati saat merasakan sakit tenggorokan atau panas dalam, berkat minum ramuannya.

ramuan cincau
Kakek Unda, memikul beban berat setiap hari berkeliling menjajakan cincaunya (foto-BantenTribun)

Pandeglang,BantenTribun.id Kalau beban berat sudah berkurang, jalan pun terasa “hampang”. Tak peduli berapa ongkos dibuang, yang penting cepat pulang bawa uang.

“Sudah lemes capek, pingin cepet pulang, jadi pake ojek aja,” terang Kakek Unda. Setidaknya itu sudah memberikan gambaran alasan kenapa kakek ini selalu memikul beban berat saat berangkat, meski harus berajalan lebih dari 1 Km dengan jalan menanjak, namun pulang dengan naik opang (ojek pangkalan) saat beban ringan.

“Iya, abah itu selalu memikul dagangan cincaunya, tidak pake gerobak, pulangnya sering pakai ojek,” kata Solihin, warga Kampung Nagara, yang selalu dilintasi kakek Unda setiap berjualan.

 

Pulang setelah kelelahan dengan ojek opang (foto-BantenTribun)

Ternyata sudah 40 tahun, kakek  Unda, Pria kelahiran Ciampea Bogor ini   bertahan dengan ramuan cincau Cylea Berbata,

Cylea Berbata adalah tanaman merambat yang diolah menjadi cincau hijau. Selama itu pula ia harus memikul beban berat  sekitar 60 kg dan berkeliling kampung hingga ke Pasar Badak Pandeglang.

Kakek Unda,  warga Kampung Babakan Masjid atau dikenal Legok Noong, RT 01 /08  Kelurahan Kadumerak, Kecamatan Karangtanjung,  Pandeglang ini, memang sudah lama dikenal sebagai Pedagang Cingcau hijau di sekitar tempat tinggalnya.

Lebih dari separuh umurnya, kakek dengan 10 anak ini,  tetap konsisten dengan ramuan  cingcaun. Ramuan tanaman rambat Cylea Berbata menjadi cincau, minuman pelepas dahaga yang bermanfaat buat kesehatan. Ia mengaku itu adalah satu-satunya keahlian yang dimiliki.

“Dari tahun 1980 abah berjualan cincau ini. Padahal sekarang sudah tua dan hampir nggak kuat mikul, Cuma bagaimana lagi? Ini satu-satunya kebisa-an abah buat makan keluarga,” kata Kakek Unda mengawali cerita, kepada BantenTribun, Rabu, 24 Juni 2020.

Menurut Abah Unda, tanaman cincaunya sengaja dibudidayakan untuk bahan baku utama dagannnya. Pemanis yang digunakan terbuat dari gula aren.

Ia memulai memproduksi cincau di rumahnya sejak pukul 5 pagi, dengan dibantu istrinya. Dan baru keluar berkeliling  sekitar jam 10 atau 11 siang. Sore hari, ia akan kembali pulang sekitar pukul 5.

“Habis atau tersisa, abah pulang jam segitu,” terangnya.

Dengan harga jual segelas Rp 3000, jika cincaunya habis, abah mengaku bisa membawa pulang sekitar Rp 100 ribu. Pendapatan itu masih kotor, sebelum dipotong ongkos produksi dan jajan saat berkeliling.

“ Ya bersihnya mah paling Rp50 ribuan, itu juga kalau habis. Ada juga yang beli cuma Rp1000 atau Rp2000, abah tetap layani, kasihan,” ucap abah sambil menyeka keringat.

Jika tidak habis, ia akan menawarkan cincaunya kepada siapa saja yang mau secara gratis.

“Kalau nggak habis, sebelum pulang cincau abah bagikan buat siapa  saja yang mau. Sayang nanti jadi air,”

Pilihannya tidak menggunakan gerobak dan tetap memikul dagangannya, kata abah, karena dengan gerobak justru merasa lebih sakit dan pegal.

“Pernah dicoba pake gerobak, malah tambah sakit,” jelas abah.

Lebih jauh abah menceritakan, jika membuat cincau gampang-gampang susah. Jika tidak tepat, cincau yang dihasilkan bisa terlalu kenyal seperti agar, atau terlalu encer.

Dengan kondisinya seperti sekarang, Abah Unda yang masih memiliki anak bungsu berusia 6 tahun, mengaku  tetap akan menjalani hari-harinya. Ia berprinsip jangan sampai berhutang untuk  makan keluarganya.

“Biar hasilnya kecil mudah-mudahan barokah,” tutupnya.

Cincau hijau memang memiliki segudang manfaat. Selain bisa untuk mengobati panas dalam, menjaga kestabilan tekanan darah, juga bisa untuk obat Antimalaria, demam, antibiotic,peng hilang racun dari makanan laut  serta bisa mencegah Osteoporosis.  Tentu saja dengan pengolahan yang berbeda.

Jadi, jika tenggorokan kita terasa gatal atau panas dalam, coba saja ramuan Cyle Berbata, ramuan cincau hijau kakek Unda yang terasa lembut meleleh ditenggorokan. *(kar).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.