Sering Merugi, SPBU Milik PKPRI Pandeglang Terpaksa Dijual

SPBU PKPRI
SPBU Milik PKPRI Pandeglang yang dijual, Foto Banten Tribun

Pandeglang,BantenTribun.id- Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum ( SPBU) milik Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) Kabupaten Pandeglang, akhirnya diputuskan di jual alias dilego. Pengurus koperasi mematok harga jual sebesar Rp17 milyar.  Keputusan penjualan itu mengundang keheranan sebagian besar Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai pemegang sahamnya.

“Masa  sampai rugi dan harus dijual? Wah itu mah banyak bocor. Saya juga pemegang saham,”kata Dicky Supriadi, anggota Koperasi Dewi Sri, Dinas Pertanian Pandeglang.

SPBU  atau pom bensin yang berlokasi di Kampung Kadudampit Kecamatan Saketi Kabupaten Pandeglang ini, merupakan SPBU ketiga yang dimiliki PKPRI Kabupaten Pandeglang, selain pom bensin Cibaliung dan Panimbang.

Pom bensin ini mulai diambil alih kepemilikan oleh PKPRI dari pemilik lama sejak awal tahun 2010 dengan menggelontorkan dana sebesar Rp3 milyar. Namun sejak 2 tahun terahir SPBU ini ternyata terus merugi akibat  berbagai kebocoran dan lemahnya pengawasan.

Eha Julaeha, Bendahara Koperasi Peternakan juga menyayangkan jika pom bensin itu harus dijual akibat rugi. Menurutnya, jika yang menjadi penyebab utamanya masalah kebocoran, pengurus PKPRi seharusnya dapat segera mengatasi.

“Sebenarnya bukan kebocoran, tapi  penguapannya terlalu tinggi sehingga keuntungannya tidak sebanding dengan modal kerja dan nilai assetnya,” kata Juhaedi, sekretaris PKPRI Pandeglang kepada BantenTribun, senin (14/8).

Menurut Juhaedi,  SPBU Saketi ini dibeli tidak  menggunakan dana penyertaan modal dari anggota, tetapi dari dana pinjaman Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE) Jakarta milik Induk PKPRI.

Keputusan untuk menjual pom bensin ini, masih kata Juhaedi, sudah disepakati melalui rapat anggota luar biasa pada akhir Juli 2017 kemarin.

 “Awalnya kami mengundang anggota sebanyak 58 KPRI anggota. Namun karena tidak memenuhi kuorum dan peserta yang hadir bukan ketua, rapat ditunda dan diputuskan melalui mekanisme rapat luar biasa,” ucap Juhaedi.

Wacana pelepasan SPBU Saketi ini sebenarnya  sudah digulirkan sejak  2 tahun yang lalu akibat tingginya tingkat kebocoran.

“Benar, sudah diusulkan dijual sejak 2 tahun lalu dari pada terus merugi. Lebih baik dijual daripada jadi parasit,”kata Bayu Purbaya, Mantan Pengawas PKPRI.

Sekretaris PKPRI ini juga menghimbau agar anggota tidak perlu merasa resah dengan keputusan pengurus menjual SPBU Saketi itu. Ia meyakinkan penjualan itu tidak mengganggu kinerja koperasi.

“Saya mendapat mandat dari pengurus PKPRI untuk menuntaskan penjualan ini, meskipun awalnya saya termasuk satu-satunya pengurus yang tidak setuju dengan rencana penjualan,”katanya.

Juhaedi juga menceritakan salah satu alasan dilepasnya unit usaha itu, selain kekurangan modal kerja untuk operasional SPBU, juga karena semakin meningkatnya kebutuhan dana pinjaman anggota koperasi sendiri.

IKPRI Jakarata  sudah mengajukan penawaran sebesar Rp13 milyar, namun pengurus menghendaki Rp 17 milyar dengan disertai permintaan agar pemilik baru tidak melakukan PHK karyawan,” kata Juhaedi.

Kerugian SPBU Sudah Menurun 400 persen

Sejak pengurus PKPRI intensif melakukan pengawasan dan merotasi karyawan,  kondisi pom bensin Saketi saat ini sebenarnya beranjak membaik. Kerugian menurun drastis hingga 400 persen dalam 4 bulan terakhir. Namun hal itu tidak merubah keputusan pengurus untuk “melego”. 

Angka penguapan sudah turun 400 persen dalam 4 bulan terakhir ini,” kata Juhdi (25) yang baru 4 bulan menjabat Manager SPBU Saketi.

Keterangan Foto: Juhdi (25), Manager SPBU Saketi.

Menurutnya, omzet penjualan pom bensin ini rata-rata 500.000 liter untuk 5 jenis BBM yaqng tersedia. Namun demikian, Juhdi mengakui jika di pom ini sering terjadi kekosongan BBM, terutama tiap hari senin.

 “Modal kerja kurang. Idealnya harus doubel atau sekitar 1 milyar, agar bisa memesan DO untuk mencukupi kebutuhan,” ungkapnya. ( Kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.