Socrates: Sepakbola, Gelar Dokter dan Hobi Menulis

Socrates bukanlah pesepakbola biasa, ia adalah anomali, pemain bola dengan intelektualitas tinggi, ia punya kesadaran politik, punya gelar medis dan menjadi penulis atau kolumnis di beberapa surat kabar Brazil.

socrates
Socrates, foto: Flickr – Oyosan

BantenTribun.id- Socrates Brasiliero Sampaio de Souza Vieira de Oliveira, atau biasa dikenal sebagai Socrates adalah sosok pesepak bola asal Brasil yang unik dan anomali.

Betapa tidak, sebagai seorang pemain, ia adalah gelandang terbaik di masanya, seorang kapten di Piala Dunia 1982, dan menjadi bagian dari generasi emas Selecao kala itu, bersama Zico, Falcao, Oscar dan Eder.

Meski tak sanggup membawa Brasil ke partai puncak dan menjadi juara, Brazil 1982 cukup mencuri perhatian, kampiun Piala Dunia saat itu adalah Italia, tim yang menyingkirkan dirinya dan kolega di putaran kedua.

Kontribusi sang jenderal lapangan tengah untuk timnas Brasil bukan kaleng-kaleng, 7 tahun ia setia mengabdi untuk negaranya, membela dalam sepakbola. Ia juga telah mencetak 22 gol selam karirnya di timnas.

Selain Piala Dunia, sang jenderal lapangan tengah itu juga ikut membela Brasil di Copa Amerika, tepatnya di tahun 1979 dan 1983.

Di level klub, karir pria kelahiran Para’ itu pernah membela banyak klub, seperti Botafogo, Flamengo dan Santos. Socrates juga pernah bertaruh nasib di Italia bersama La Viola Fiorentina, namun tidak lama.

Socrates dan Menulis

Menulis dan bermain sepakbola, sesuatu yang jarang dilakukan oleh pesepakbola profesional saat ini, apalagi mereka yang mencoba menulis tema berat seperti politik dan sosial.

Tapi tidak untuk Socrates, pemain ini melakukannya. Ia mendapatkan kecintaan pada buku lalu menuangkan dalam tulisan semua didasarkan pada pengalaman dan kecintaan orang tuanya pada buku.

Tidak seperti pesepakbola Brasil yang berjuang dari garis kemiskinan dan menaruh harapan pada sepak bola, pemain ini berlatar orang berada.

Ayah Jenderal Lapangan itu adalah seorang pejabat di Sao Paulo, hal itu membuatnya punya banyak kesempatan untuk mendapat pendidikan terbaik.

Ia pun lebih leluasa membaca dan mendapatkan banyak buku berkualitas. Terlebih ayah Socrates adalah seorang ‘kutu buku’ dan punya perpustakaan pribadi.

Soal politik, pemain yang oleh Pele dimasukan ke dalam 100 pesepakbola terbaik negeri samba, telah merasakan dunia itu sejak kecil.  Ia dan keluarganya adalah korban kediktatoran politik Brasil, saat itu ia masih berusia 10 tahun.

Setelah dewasa, ia pun dipercaya menjadi kolumnis atau penulis kolom di beberapa surat kabar Brasil.

Socrates tidak hanya menulis soal sepakbola, tapi juga politk dan ekonomi. Semua itu ia dapatkan dari kegemarannya membaca buku.

Seorang Dokter

Jika pesepak bola terjun menjadi pemimpin politik kini mulai lumrah, karena politk identik dengan uang, maka menjadi pemain sepakbola dan bergelar dokter adalah hal yang sangat langka.

Socrates melakukan hal itu, ia mungkin satu dari sedikit pesepakbola yang punya gelar medis. Ia adalah alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sao Paulo.

Belum puas, ia pun kembali memperdalam ilmu kedokterannya itu di Universitas Riberio Preto Brasil, setelah ia memutuskan pensiun dari sepakbola.

Kini Socrates memang telah tiada, tapi karir sepakbola, kecintaannya pada buku dan menulis serta mendapat gelar dokter saat bermain sepak bola menjadi pelajaran untuk pesepakbola dimanapun bahkan kita pecinta sepakbola, betapa banyak hal baik yang bisa kita perbuat ditengah tekanan pekerjaan sehari-hari. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.