Siapa yang Pertama Bikin Baju Batik Motif Baduy ?

Bagi warga Banten, memakai batik berwarna biru tua bermotif kupu-kupu yang menjadi ciri khas baju batik motif Baduy sudah menjadi hal biasa saat ini.  Batik, bisa digunakan pakaian harian, saat ke acara resepsi, acara kedinasan, juga saat jadwal wajib batik ke kantor.

baju batik motif baduy
Dua warga Baduy, Pulung (paling kiri) warga Kampung Cipaler dan Ijom (paling kanan) warga Kampung Gajeboh, keduanya warga Baduy Luar, serta Memed (tengah), warga Tangerang yang pernah mendokumentasi berbagai spesies tumbuhan di Baduy . Ketiganya terlibat dalam acara resepsi( foto Nur/BantenTribun)

Bagi warga Banten, memakai batik berwarna biru tua bermotif kupu-kupu yang menjadi ciri khas Baduy sudah menjadi hal biasa saat ini.  Batik, bisa digunakan  pakaian harian, saat ke acara resepsi, acara kedinasan, juga saat jadwal wajib batik ke kantor.

Batik motif Baduy bahkan terkesan menjadi identitas dan cenderung menjadi batik wajib bagi warga Banten

Tapi tahukah anda, sejak kapan, dan siapa yang pertama kali memakai dan menciptakan baju batik dengan motif Baduy tersebut?

Serang, BantenTribun.id- Siapa yang menduga, jika motif batik baduy yang kala itu hanya sebatas menjadi “romal” atau ikat kepala, akhirnya ngetrend menjadi baju batik baduy, ternyata berawal dari ide seorang auditor inspektorat dan wartawan.

Adalah Ahmad Yani dan Mang Ripin, seorang pegiat foto  yang terlibat  dalam penulisan  buku Etnografi Baduy, yang kala itu keduanya masih aktif di kepengurusan Himpunan Pramuwisata Indonesia atau HPI.

Ahmad Yani berencana akan mengkhitan anaknya dan bermaksud membuat seragam batik yang bernuansa Banten bagi panitia dan keluarganya saat resepsi. Namun kala itu ia merasa agak bingung karena Banten tak memiliki tradisi batik.

Yani saat itu terpikir untuk menggunakan Batik Banten, tapi dirasa agak umum.

Karena terbiasa bolak-balik dari Banten Lama ke Baduy untuk mendokumentasi dua objek sejarah dan budaya tersebut, terlebih pernah menulis buku Etnografi Baduy, maka  ia terbersit untuk mengangkat tema Banten Lama dan Baduy  dalam acara itu.

Lalu munculah ide menggunakan baju adat atau baju batik motif Baduy. Lagi-lagi dirasa agak umum dan tak “mencirikan” sesuatu yang khas dan bukan batik. Sedangkan untuk tema Banten Lama dituangkan dalam design undangan yang menampilkan dominasi foto Gerbang Bentar, Kraton Kaibon, Banten.

Secara tak sengaja timbul ide untuk membuat seragam baju batik motif baduy dari ikat kepala yang sering dipakai warga Baduy atau yang biasa disebut ‘romal’.

Musung bin Taslim, warga Kampung Gajeboh, Baduy Luar, saat pertama memakai seragam batik bermotif Baduy. Ia juga terlibat kepanitiaan saat acara berlangsung(foto-Nur/BantenTribun)

Ide ini langsung di eksekusi.  Maka dibelilah beberapa puluh lembar  ikat kepala Baduy, kemudian didesign menjadi baju batik seragam acara resepsi khitanan tersebut.

“tiba-tiba kami dapat ide untuk membuat batik dari ikat kepala Baduy. Maka langsung ide itu dieksekusi dengan membeli beberapa puluh potong ikat kepala yang kemudian dijahit menjadi seragam untuk acara resepsi khitanan anak. Modelnya tetap mengadopsi pakaian Baduy  yang biasa mereka sebut model Kampret dan jenis kemeja” ungkap Yani, kepada BantenTribun.

Meski idenya mendadak dan diluar mainstream atau kebiasaan serta agak nyeleneh, diluar dugaan saat acara resepsi berlangsung pada 17 Oktober 2009 banyak mendapat pujian dari tamu yang hadir, khususnya para PNS.

Rata-rata mereka menanyakan asal muasal dan berminat untuk segera memiliki batik motif Baduy tersebut. Terlebih saat itu kegandrungan terhadap batik dari motif daerah masing-masing sedang ngetrend .

Respon tamu menjadi semakin berlebih saat mereka tahu bahwa disaat berlangsung acara tersebut banyak dilibatkan warga asli Baduy menjadi penerima tamu dan membantu lainnya, dengan menggunakan seragam batik tersebut.

“Saat itu responnya cukup bagus dan antusias, teman-teman PNS yang hadir banyak yang tanya dan berminat untuk memiliki seragam serupa,’ cerita Ahmad Yani yang saat ini bekerja sebagai auditor di Inspektorat Provinsi Banten.

”Terlebih tahu bahwa yang terlibat di acara banyak melibatkan warga Baduy,” sambung Yani.

Sejak saat itu, batik motif Baduy menjadi trending di kalangan warga Banten. Dan sampai sekarang, banyak tersedia di pasar seputar Banten.

Baju batik Baduy ini juga banyak dipakai untuk berbagai kegiatan formal atau non formal yang yang bertema batik.*(Nur.H/kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.