Seribu Hektar Lebih Tanaman Padi di Pandeglang Diserang Wereng Coklat

Lebih dari 1.100 hektar lahan tanaman padi yang tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Pandeglang diserang wereng coklat. Ancaman gagal panen atau puso dipastikan bakal dirasakan, terutama petani yang mengalami rusak berat akibat serangan serangga kecil namun ganas ini.

wereng coklat
Tanaman padi milik petani di Desa Langensari Kecamatan Saketi Pandeglang, yang terdampak Wereng Batang Coklat (foto-ist-BantenTribun)

Pandeglang,Banten Tribun.id- Sampai hari ini,  Seluas 175 hektar lahan tanaman padi di Kabupaten Pandeglang mengalami rusak berat akibat serangan hama Hereng Coklat.  Jumlah luasan itu tersebar di 8 kecamatan.

Sementara seluas 203 hektar lahan tanaman padi yang mengalami kerusakan  level sedang, dan 758 hektar mengalami kerusakan level ringan akibat serbuan hama  kecil ini.

Kecamatan Sindangresmi, menjadi wilayah terparah akibat serangan hama wereng coklat, dengan luas 75 hektar terdampak. Kecamatan Angsana seluas 47 hektar, disusul Pagelaran 25 hektar, Kecamatan Munjul 10 hektar, 6 hektar menimpa Kecamatan Cigeulis, Bojong 5 hektar, lalu Sukaresmi 4 hektar dan Panimbang 3 hektar.

“ Pihak Dinas Pertanian sudah mengingatkan petani terhadap ancaman hama yang jadi siklus 2 tahunan ini. Saran untuk menggunakan varietas benih padi yang unggul dan tahan wereng coklat, juga sudah disosialisasikan sebelum masuk masa tanam,” jelas Asep Mahpudin, Kepala seksi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman (Perlintan) Dinas Pertanian Pandeglang, kepada Banten Tribun, Kamis, 10 September 2020.

Menurut Asep Mahpudin, dengan besarnya dampak serangan hama wereng coklat ini, pihaknya juga sudah mengusulkan permintaan Cadangan Benih Daerah (CBD) ke Dinas Pertanian Provinsi,  untuk membantu petani yang terdampak serangan.

wereng coklat
Asep Mahpudin, Kasie Perlintan Dinas Pertanian Pandeglang (foto- BantenTribun)

Lebih jauh Asep menjelaskan, jika gerakan pengendalian (Gerdal ) hama dan penyakit tanaman padi, juga kerap dilakukan petugas POPT, penyuluh dan petani di hampir semua wilayah, sebelum gelombang serangan wereng terjadi.

Namun demikian, pasca serangan wereng coklat yang mem-puso-kan, Asep kembali mengingatkan untuk menggunakan benih padi dari varietas yang kuat terhadap serangan sebgai pergiliran,  serta dengan pola tanam “legowo” sebagai upaya memutus rantai serangan.

“Sanitasi lingkungan, misalnya membersihkan pematang sawah dari rumput dan gulma lain, juga penting dilakukan. Atau bisa juga petani menanam bunga semisal bunga marigold atau bunga tai kotok. Ini sebagai salah satu upaya memutus wereng secara biologi, sebelum penggunaan racun atau pestisida,” terang Asep.

gerdal wereng coklat
Gerakan pengendalian hama diDesa Teuk Lada Kecamatan Sobang (foto-BantenTribun)

“Saat tahap pengamatan sesudah tanam padi, jika ditemukan hama wereng ini  dan masih dalam ambang batas, segera lakukan tindakan,” imbuhnya.

Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) Kecamatan Kaduhejo, Muhammad Syarif, mengiyakan pendapat Asep.

Menurut Syarif, fase pengamatan hama tanaman sesudah 15-20 hari tanam, menjadi sangat penting untuk pengendalian hama wereng coklat. Jika sudah ditemukan serangga ini 5-6 ekor dalam satu rumpun tanaman padi, meski masih dalam ambang batas, sebaiknya segera dilakukan tindakan pembasmian.

“Kami endiri sudah melakukan pengamatan hama tanaman bersama petugas di blok Kadu Kanas seluas 2 hektar, dari luasan 30 hektar. Sudah ditemukan wereng itu, dan sudah kami ajukan permintaan obat pembasmi ke Balai Proteksi Tanaman Pangan Holtikultura di Serang. Minggu ini turun dan melakukan gerakan pengendalian,” kata Syarif.

gerdal wereng coklat
pengamatan hama di Kecamatan Kaduhejo oleh petugas POPT dan PPL (foto-BantenTribun)

Keterbatasan obat dan pestisida, juga menjadi salah satu faktor penyebab sulitnya mengatasi serangan hama wereng coklat, yang dikenal memiliki daya rusak tinggi dan cepat itu.

“Kami tidak memiliki stok obat pestisida atau racun,” terang Dicky  Supriadi, Kasie Pupuk dan Obat, Distan Pandeglang.

Wereng Coklat, Serangga Kecil Pengisap Cairan Super Cepat

Wereng coklat (Nilaparvata lugens) merupakan hama padi yang paling berbahaya dan merugikan, khususnya di Indonesia. Serangga kecil ini menghisap cairan tanaman padi dan sekaligus juga menyebarkan virus (reovirus) yang menyebabkan tanaman padi terinfeksi penyakit tungro.

Saat ini tanaman padi di Indonesia sudah rentan (lemah) terhadap serangan wereng coklat, terbukti beberapa tahun yang lalu khususnya di daerah Jawa Timur, petani diresahkan akibat mewabahnya hama wereng ini.

Varietas tahan wereng yang ada saat ini pun diyakini  belum dapat mengatasi hal tersebut,

Hampir semua varietas tanaman padi di Indonesia hanya mampu tahan pada wereng coklat biotipe 1,2 dan 3.

Sedangkan mulai tahun 2010 di daerah Jawa Timur (Jember, Banyuwangi, Situbondo, dan Sidoarjo) wereng coklat telah berkembang ke biotipe 4.

Biotipe adalah sekelompok hama yang memiliki kemampuan beradaptasi dan berkembang terhadap tanaman inang. Munculnya biotipe hama baru karena patahnya gen varietas tanaman yang awalnya tahan menjadi rentan (lemah).

Adapun penyebab utama hal tersebut dikarenakan pola penanaman yang terus menerus dengan menggunakan varietas yang sama.

Ciri Serangan

Wereng coklat mulai menyerang tanaman padi pada umur 15 hari sesudah tanam (HST) dan gejala serangan akan nampak pada umur tanaman 20-40 hst.

Tidak hanya menghisap cairan batang tanaman padi, hama wereng coklat juga menularkan virus pada tanaman, sehingga tanaman terjangkit penyakit virus kerdil rumput dan virus kerdil hampa. hingga saat ini kedua virus ini belum dapat di obati.

Serangan Virus Kerdil Hampa dicirikan dengan bengkoknya daun sehingga pertumbuhan tanaman nampak tidak normal, daun berwarna hijau gelap dan tinggi tanaman kerdil. jika tanaman telah diserang mulai awal pertumbuhan (15Hst) mengakibatkan banyaknya malai hampa saat dewasa.

Serangan Virus Kerdil Rumput dicirikan banyaknya anakan yang muncul, sedangkan daun berwarna kekuningan, lebar daun sempit (menyerupai rumput) serangan diawal pertumbuhan mengakibatkan tanaman seperti terbakar saat umur 40-45 Hst.

Kemungkinan sebesar 80% gagal panen jika tanaman mulai terserang sejak umur 10 – 15 HST.

Serangan hama wereng ini sering menyerang pada tanaman padi sawah, jarang terjadi pada padi gogo. Dengan kondisi lahan yang lembab, selalu tergenang air, lahan ternaungi, penggunaan pupuk N yang tinggi memicu perkembangan hama wereng semakin tinggi.

Pencegahan dan Pengendalian

Terdapat beberapa metode untuk mencegah serangan hama wereng coklat, antara lain:

Menggunakan varietas tahan

Penggunaan Varietas IR74 dapat menurunkan populasi wereng coklat biotipe 4 sebesar 52%, sedangkan varietas Ciherang menurunkan sebesar 19,1%

Dianjurkan pula menggunaan varietas baru seperti Inpari 18, Inpari 19, Inpari 31 dan Inpari 33, semua varietas Inpari tersebut tahan terhadap wereng coklat biotipe 1, 2.

Keengganan petani menggunakan  varietas Inpari  ini karena dianggap memiliki bulir padi kecil, menurut  Asep Mahpudin, tidak beralasan.

“Jenis Inpari juga banyak yang berbulir besar, seperti yang diinginkan petani,”

Penggiliran Varietas Antar Musim

Pergiliran varietas pada daerah wereng coklat biotipe 3 dilakukan dengan menanam varietas yang mempunyai gen tahan Bph1+ (IR64) dan Bph3 (Inpari 13) pada musim hujan. Pada musim kemarau ditanam varietas dengan gen tahan Bph1 (Ciherang) dan bph2 (Inpari 31/33).

Penggunaan Pestisida

Penggunaan pestisida sistemik dengan bahan aktif imidakloprid (Contoh Merk Confidor 5WP), dosis 0.5Kg/Ha dapat mengurangi populasi hama wereng sebesar 20,1 – 52,4%

Penggunaan pestisida kontak lambung dengan bahan aktif BPMC (Contoh Merk Sidabas 500 EC), dosis 1,5 L/Ha dapat mengurangi populasi hama wereng coklat sebesar 9,2 – 26,4%. * (kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.