Sejarah Tahu Di Amerika, Sempat Booming Di Era 60-an

Sejarah Tahu Di Amerika, awalnya sempat diremehkan dan mendapat penolakan. Namun Akhirnya Booming di Era 60 an.

Kini makanan dari kedelai itu sudah tak asing lagi di Supermarket Amerika, meski popularitasnya masih kalah dengan yoghurt atau daging.

sejarah tahu di amerika
sejarah tahu di amerika

 

BantenTribun.id- Siapa yang tidak kenal tahu di Indonesia? Kebanyakan orang di negeri ini memilih tahu sebagai teman makan nasi atau jadi makanan camilan.

Aneka olahan tahu cukup variatif di Indonesia, begitu juga di negeri asalnya Cina.

Orang Indonesia biasa mengolah tahu dengan cara digoreng, di kukus untuk teman siomay, jadi tahu gejrot, tahu bakso dan sebagainya.

Sementara di Cina olahan tahu juga sebenarnya tak jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Apalagia Chinese Food, jenis makanan ini sudah begitu akrab dengan kebanyakan orang di negeri ini.

Lalu bagaiamana sejarah tahu di negara lain, di Amerika misalnya? Bagaimana bisa sampai di negeri paman sam? bagaimana sejarahnya? Kita akan coba urai dalam artikel ini.

 

Sejarah Tahu Di Amerika

Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), kehadiran Tahu di Amerika ternyata tak lepas dari peran Benjamin Franklin, seorang tokoh Amerika sekaligus pemimpin revolusi di jamannnya.

Pria kelahiran Boston 17 Januari 1706  itu terkagum dengan tahu dan berbagi informasi dengan temannya lewat sepucuk surat. Ia pun mengirim temannya tersebut beberapa kacang kedelai.

Benjamin terkagum dengan tahu dan kedelai setelah membaca sebuah buku karya Pastor Domingo Fernandez Navarrete, seorang biarawan dan misionaris Dominika yang datang ke Cina.

“Ini adalah keju yang dibuat orang Cina. Orang pasti banyak  yang suka karena rasanya seperti daging ayam, bahkan lebih.” tulis Domingo dalam bukunya.”

Meski dikenalkan di abad ke-17, nyatanya tahu baru eksis di Amerika satu abad berikutnya, yakni di tahun 1800-an.

“Tahu datang ke Amerika bersama imigran asal Asia, kira-kira pada tahun 1860-an, seiring dengan banyaknya warga Asia yang bekerja di kereta api.” Tulis Mathew Roth, penulis buku Magic Bean, The Rise of Soy in America.

Sejak saat itu makanan asli Cina itu berjuang berebut simpati di negeri Paman Sam. Meski faktanya masyarakat Amerika tak mudah menerimanya.

Tahu mendapat cibiran, mereka mengenalnya sebagai makanan aneh yang menumpuk di jendela China Town.

Banyak orang yang mencoba mengenalkan tahu pada warga Amerika dan gagal. termasuk soerang dokter bernama Yamei Kin.

Pria itu mencoba mengenalkan tahu sebagai alternatif daging. Tahu lebih murah dan tidak boros di banding daging. Tapi Yamei Kin berhadapan dengan selera orang Amerika.

Yamei pernah ditugaskan pemerintah Amerika untuk memperdalam tahu di tempat asalnya. Alasannya makanan itu akan dijadikan alternatif daging di masa perang.

Sepulang dari Cina, Dokter itu lalu melakukan penelitian di laboratorium yang kini dikenal dengan kantor Food and Drug Administration. Ia melakukan banyak percobaan. Tujuannya satu menjadikan tahu sesuai selera Amerika, meski akhirnya tetap saja gagal.

Pada Perang Dunia Kedua, produksi tahu di Amerika menurun. Hal itu dipucu adanya ketegangan antara Amerika vs Jepang. Kondisi itu pun diperparah pasca serangan Pearl Harbour.

Sektiar 120 ribu etnis Jepang yang tinggal di Amerika di kirim ke kamp interniran di pantai barat usai peristiwa Pearl Harbor.

Saat ditahan itulah etnis Jepang Amerika kembali membangkitkan tahu, karena mereka tidak bisa makan makanan yang disedikan pihak penjara.

Mereka meminta izin untuk memproduksi tahu di kamp di California, dan disetujui. Produksi pun mulai berangsur pulih selama masa perang.

 

Masa Kejayaan

Baru pada era 60-an, tahu menemukan masa jayanya di Amerika. Ia tumbuh seiring dengan budaya vegetarisme dan melimpahnya produksi kedelai dalam negeri Amerika.

Tahu makin populer di akhir tahun 60-an, akibat adanya gaya hidup hippy khusunya di San Francisco. Selain itu solidaritas warga akibat adanya perang Vietnam juga menjadi bagian lain dari tumbuhnya konsumsi tahu.

Apalagi, gerakan itu didukung pula oleh terbitnya sebuah buku The Book of Tofu yang ditulis oleh Surtleff dan Akiko Aoyagi. Buku itu mengungkap banyak hal tentang tahu, mulai dari resep hingga detail produksinya.

“Kami membeli mobil van putih dan berkendara sekitar 7,500 mil untuk menunjukan pada warga Amerika tentang resep dan cara produksi tahu. Hasilnya luar biasa kami mendapat sambutan positif dari warga Amerika.” Kenang Shurttlef pada SCMP.

Sejarah Tahu Di Amerika, sejak saat itu tahu mulai dikenal oleh banyak warga Amerika, dan mereka mulai paham bahwa itu bukan keju, tapi protein nabati dari Kedelai.

 

Pemandangan Biasa

Kini sudah bukan pemandangan aneh bila tahu hadir di gerai-gerai supermarket, meski popularitasnya belum sehebat daging atau yoghurt.

Meski begitu, tahu sudah tak lagi mendapat cibiran dan banyak diterima di lidah orang-orang Amerika. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.