Rudi Daud Suwandi : Membuat Mesin Hebel CLC Sendiri, Menyiapkan Pensiun

 

Rudi Daud Suwandi, di depan kerangka mesin hebel produksinya (foto-BantenTribun)

Guru yang satu ini terpaksa harus “berguru” ke kanal YouTube demi bisa membuat mesin hebel CLC sendiri, untuk persiapan masa pensiunnya yang hanya tinggal hitungan bulan. Meski sempat diledek, namun keyakinan dalam “mengaktualisasikan diri”akhirnya membuahkan hasil.

Pandeglang, BantenTribun.id– Rudi Daud Suwandi, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Majasari Pandeglang ini, mengaku hanya bermodal optimis, jika ia bisa membuat sendiri mesin produksi bata ringan atau hebel jenis CLC.

Bukan tanpa alasan jika Rudi harus bersusah payah belajar sendiri membuat mesin produksi tersebut, yang notabene sesuatu yang baru di Pandeglang, dibanding jika harus membeli produk jadi yang sudah ada di pasaran.

Selain senang ngotak-ngatik hal tehnik, ia juga merasa tertantang dan optimis mampu memproduksi mesin itu. Harga pun menjadi pertimbangannya.

Rudi melakukan pekerjaan mengelas sendiri di garasi bengkel rumahnya.

“Kalau harus beli paket mesin yang sudah jadi, harganya mahal, sekitar 400 jutaan. Saya hanya berprinsip, jika orang lain bisa, saya juga harus bisa,” kata Rudi kepada Banten Tribun, Minggu, 28 Juni 2020, saat ditemui di garasi bengkelnya.

Menurutnya, membuat mesin hebel CLC,  selain belum ada di Pandeglang, juga sebagai persiapan dirinya yang akan masuk masa pension Oktober tahun ini.

“Ini pilihan usaha saya nanti setelah pensiun. Saya buat sendiri dengan belajar dari YouTube dan referensi lainnya. Kalau beli yang sudah jadi, selain pertimbangan harga, kita jadi tidak menguasai karena nggak ngerti,” terang Rudi.

“Tinggal empat item mesin lagi yang harus diproduksi, untuk bisa memulai usaha hebelnya,”imbuhnya.

Baca juga : Hindari Depresi Saat Memasuki Masa Pensiun

Pilihan bisnis di jalur ini untuk masa pensiun nanti, masih kata Rudi, karena ia melihat peluang bata ringan atau hebel jenis CLC masih langka di Pandeglang.

“Kalau saya harus pilih bertani atau berkebun, saya tidak yakin bisa. Pensiun itu kan identik berkurangnya kekuatan fisik karena faktor usia. Kalau milih bertani, kenapa tidak dari dulu saja sewaktu masih muda?” ucapnya.

Dilingkungan tempat tinggalnya, Komplek Saruni Majasari, Rudi sempat “diledek” karena dianggap salah memilih pekerjaan sebagai guru. Ini lantaran itu tadi, kesibukan membuat mesin  hebel yang dilakukannya sendiri, mulai dari mengelas rangka, sampai melakukan percobaan formulasi produksinya.

Menurutnya, hebel yang banyak beredar di pasaran, merupakan jenis Autoclaved Aerated Concrete (AAC), yang diproduksi dari daerah lain.

“ Kekuatan hebel jenis CLC setara dengan AAC. Yang membedakan hanya dari warnanya cenderung lebih abu-abu. Harganya pasti lebih murah karena ongkos distribusi bisa ditekan.  CLC ini juga bisa dipasang dengan semen biasa” jelasnya.

Menurut pria alumni Matematika IKIP Bandung ini, dengan memproduksi sendiri mesin hebelnya, biaya yang dibutuhkan hanya sekitar 30 persen saja dari harga mesin jadi.

“Ya, salah satu prinsip saya, harus bisa dan terjun langsung, atau tidak banyak bergantung kepada orang lain jika berbisnis, sebagai persiapan menjelang pension. Kalau kendala dalam membuat mesin ini tentu saja ada,” tutup pria kelahiran Sukabumi, Oktober 1960 ini.

Boleh jadi, langkah Rudi membuat mesin sendiri dengan belajar otodidak lewat YouTube, merupakan “Aktualisasi Diri”  yang menjadi kebutuhannya, untuk melakukan atau mencapai sesuatu yang sesuai dengan potensi, prinsip, dan jati diri yang ia yakini.*(kar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.