Ratusan Tahun Tak Diketahui, Nama Asli Masjid Banten Akan Diungkap Arkeolog

masjid banten lama
Foto Masjid Agung Banten sebelum dan hingga selesai selesai penataan oleh Gubernur Banten sejak 2017 belum juga diketahui nama aslinya (foto-Nur.H/BantenTribun)

Ada jutaan peziarah pertahun yang mengunjungi Masjid Agung Banten Lama, namum tak satupun yang tahu nama asli Masjid Banten Lama itu. Demikian pula masyarakat umum seputar Serang, Banten. Bahkan pegiat wisata dan budaya juga tak tahu.

Nama Asli Masjid Banten ini akan diungkap seorang peneliti arkeolog nasional asal Banten

Serang,BantenTribun.id- Masjid di seluruh dunia pastilah memiliki nama. Pun masjid yang dibangun saat priode kenabian, misalnya Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Mekkah masih meninggalkan nama hingga kini.

Tak demikian dengan nama masjid agung yang ada di kawasan Banten Lama, kota yang pernah berjaya dimasa lalu dan pernah menjadi kota internasional yang dikenal hingga eropa dan belahan dunia lainnya.

Penyusuran Banten Tribun keberbagai sumber literature atau buku sejarah Banten, juga tak menemukan nama asli masjid tersebut. Bahkan sebuah buku berjudul “Masjid Agung Banten, Nafas Sejarah dan Budaya” yang ditulis seorang peneliti sejarah dari BPCB yang menulis khusus tentang masjid tersebut juga tidak mengungkap nama asli masjid Banten Lama.

Titik terang nyaris terungkap saat Banten Tribun bertemu seorang peneliti Arkeologi Nasional asal Banten.

Peneliti dengan nama dan gelar Prof. Dr. Drs Tubagus najib, ditemui saat diadakan latihan gelar pencak silat oleh Perkumpulan Urang Banten (PUB) untuk pembuatan flashmob bertema Banten Tanah Jawara yang berlangsung di kawasan wisata Baduy Outbond, Baros, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (19/7).

Tubagus Najib, peneliti Arkenas yang lebih akrab dipanggil Ki Najib (foto-Nur/BantenTribun)

Menurut Najib, ia akan mengungkapkan bahwa nama masjid Banten ada dalam manuskrip yang pernah ditemui saat penelitian sejarah Banten, termasuk tanggal dan hari pembangunan masjid tersebut.

“Pernah ada saya temukan dalam sebuah manuskrip, nanti saya lihat lagi. Nama tersebut tercantum saat pembangunan masjid yang jatuh pada 5 Zulkaidah 966 Hijriyah atau 1562 Masehi” kata Najib.

“Dalam peta dan lukisan tahun 1596 masjid ini berbentuk segi empat tanpa ada serambi, padahal masjid dibangun pada pada tahun 1562 masa pemerintahan Maulana Hasanuddin” sambung Ki Najib, panggilan akrabnya dalam Perkumpulan Urang Banten.

Berdasar catatan sejarah Banten, masjid yang saat ini menjadi ikon Banten, merupakan masjid yang penuh dinamika sosial dan budaya sepanjang sejarahnya yang berlangsung sejak ratusan tahun lalu, karena masjid berdiri di pusat kota Surosowan yang pernah menjadi kota besar dimasanya. Sebuah kota yang dihuni dan disinggahi oleh berbagai penduduk nusantara dan bangsa-bangsa lain dari berbagai belahan dunia.

Dalam catatan sejarah pula, diseputar kota ini pada tahun 1596 bangsa Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman pertama kali menginjakkan kakinya di Nusantara sebelum menjajah selama ratusan tahun.

Masjid berbentuk segi empat dengan atap tumpang lima ini, sejak dibangun oleh Maulana Hasanuddin tahun 1562 masehi, atau hampir 500 tahun lalu atas petunjuk Syarif Hidayatullah, tercatat beberapa kali mengalami pembangunan di masing-masing priode Kesultanan Banten.

Dalam proses perubahan dan pembangunannya bahkan tercatat melibatkan beberapa ahli asing, misalnya Cek Ban Cun yang berkebangsaan Mongolia, juga arsitek Lucas Cardeel saat pembangunan menara.

Sejak masa runtuhnya Kesultanan Banten pada abad 19, masjid ini tidak tercatat adanya perubahan dan pembangunan.

Pada  tahun 1923 dan 1930, mulai dilakukan pemugaran. Hingga tahun 1945-1961, Residen Banten H.Tb. Acmad Chotib melakukan perbaikan masjid bersama masyarakat Banten.

Selanjutnya, pembangunan demi pembangunan terus berlangsung.

Ki Najib saat menjadi pemandu sejarah ketika pencanangan penataan kawasan Banten oleh Gubernur Wahidin Halim beserta jajarannya, 21 Juli 2017.(foto-Nur/BantenTribun)

Dikutip dari buku Masjid Agung Banten, Nafas Sejarah dan Budaya  yang ditulis Juliadi, peneliti jebolan Unhas Makassar yang bertugas di BPCB Banten, tercatat adanya pemugaran oleh Dinas Purbakala (1966-1967).

Tercatat pula pemugaran menyeluruh oleh Korem 064 Maulana Yusuf pada Mei Tahun 1969. Juga perbaikan demi perbaikan yang bersumber dari berbagai unsur, termasuk bantuan Pertamina pada tahun pada 1970.

Tahun 2001 atap masjid diganti dari genteng lama menjadi genteng baru.

Dalam perjalanan sejarah, masjid yang pernah luput dari amukan hebat letusan hebat Gunung Krakatat tahun 1883 yang mendunia ini, hingga dilakukan penataan kawasan Banten Lama yang menelan anggaran ratusan milyar oleh pemerintahan Wahidin Halim yang pencanangannya di mulai Juli 2017, nama masjid agung ini belum juga ditemukan, dan masih  menyebut  dengan nama Masjid Agung Banten Lama.

Soal nama masjid Agung Banten Lama ini, Profesor Najib berjanji akan segera mengungkapkannya kepada BantenTribun.(Nur.H/kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.