Puasa Anak Sekolah dan New Normal

 

Oleh : Kamim Rohener

“Anak-anak, minggu depan mulai libur panjang. Mulai  puasa, lebaran dan mungkin sampai tahun ajaran baru. Ini bakal jadi libur terpanjang selama kita sekolah. Bagi yang nilai ulangannya bagus, boleh bersenang hati. Bagi yang tidak, boleh murung, asal tidak banyak-banyak. Ini merupakan pentung di kepalamu supaya lain kali belajar lebih baik. Sekarang semuanya boleh pulang, sampai ketemu habis lebaran atau tahun ajaran baru, ” kata Kepala SDN Benda 1 Indramayu.

 

Besoknya, beduk puasa berdentam-dentam. Lepas sahur, anak-anak senewen pimpinan Hadi Handoko itu keluar masuk kampung menabuh kaleng rombeng. Kemudian duduk di batang kelapa hingga lohor, sesudah itu tidur menelungkup menekan perut keras-keras ke ubin mushola hingga hampir maghrib. Jika saat berbuka tiba, mereka nyaris menelan seluruh isi bumi. Tapi ini tidak berlangsung lama, sembahyang tarawih sudah menunggu, yang mereka lakukan sambil sekali dua kali menyikut rusuk temannya.

Beres puasa, lebaranpun berlalu. Anak-anak mulai merasakan jenuh tiada hingga. Bahkan, saking kangen teman-temannya, Aisyah, bocah TK itu menangis meraung-raung minta masuk sekolah. Anak yang lain, ada yang sampai menggantung kue lebaran  di sekolahnya, hanya sekedar mengobati rindu tiada tara.

 

Dalam hubungan ini, pemerintah manapun pada umumnya berusaha bijak. Buat apa bikin perkara dengan mereka kalau maksud sedalam- dalamnya adalah urusan rezeki. Tak perlu main paksa, toh kultur bangsa kita cukup kuat, mampu memproduksi penduduk yang paling taat kepada atasannya di seluruh dunia. Jika memang harus libur, peduli apa?

Zaman berganti. Virus korona kiriman negeri china mulai mewabah dan menjangkiti. Jika bangsa Menir Si Penjajah meliburkan anak sekolah di bulan puasa, maka libur sekolah kali ini diperpanjang enam kali, bisa jadi se-semester.

Tapi, bulan puasa bukan untuk libur. Apalagi dimasa pandemi. Sekedar toleransi untuk perut yang kaget-kaget. Tetap belajar. Bila ada satu-dua yang diam-diam menggigit mangga muda di belakang kakus, tak usah diributkan.

Di alam merdeka tentu keadaan berbeda. Anak- anak sekolah tambah jangkung, lebar dada dan pantatnya. Ini berkat gizi cukup dan kemakmuran yang makin merata, terutama berkat kegesitan orang tua masing-masing. Jangan dibilang lagi tingkat kecerdasan mereka yang makin tinggi. Sebagian disebabkan karena orang sekarang mempunyai cara mengukurnya, dengan bantuan mesin yang sulit dibantah. Akibat mereka yang ingin sekolah jauh lebih banyak jumlahnya dari bangku yang tersedia. Maka yang berhasil duduk dengan sendirinya merupakan mahluk pilihan, seperti ayam bangkok di antara ayam kampung.

Betapapun istimewanya anak murid, mereka punya guru baik lelaki maupun perempuan.  Menjelang hari puasa, pendidik itu tegak berdiri didepan kelas.

“Anak-anak, sesuai dengan panggilan zaman, kamu dipersiapkan untuk berjalan-jalan dari planet ke planet atau menyuruk masuk ke perut bumi. Karena itu kamu musti belajar keras, tak terkecuali di musim libur terpanjang ini. Satu hari terlewat berarti rugi dua puluh lima tahun.”

Idhul Fitri terlewati, tapi sekolah masih cuti hingga waktu yang tak pasti. Kegundahan dan rindu sekolah, mendera-deru Rajan, siswa SDN 4 Pandeglang.

Dan… alangkah gembiranya anak-anak itu saat mereka dengar sekolah segera masuk lagi. Namun ada yang beda. Keresahan kini berganti menyelimuti Ajat Jubaedi, orangtua siswa yang mengirimkan anaknya sekolah sambil nyantri ditanah Jawi.

Betapa tidak, dikala jumlah anak terpapar virus alami tren naik, disaat 584 anak

terkonfirmasi positif dan 14 anak meninggal akibat covid, maka pembukaan sekolah

tahun ajaran baru 13 juli nanti tentu membuat cemas dan was-was.

“Butuh persiapan matang untuk membuka sekolah” kata Retno  Listyarti, Komisioner KPAI .

Soal 13 Juli itu kalender tahun ajaran baru, bukan berarti tatap muka belajar dimulai. Ini

kata pemerintah. Ada New Normal atau tatanan kehidupan normal baru, termasuk

sekolah. Protokol kesehatan, masker, cuci tangan dan jaga jarak, menjadi kewajiban.

Entah lupa entah yakin. Rindu sekolah Aisyah, Rajan dan Hadi Handoko, dan anak lain, semata karena kangen bertemu teman sebayanya. Berangkulan, berbagi makanan, tak terkecuali menjahili teman.

Soal pakai masker, ini jelas keuntungan lain bagi Sukoco. Bisa menutupi lubang hidungnya yang tak henti berlendir.

“Masuk sekolah langsung naik kelas ya pa?” tanya Sukoco.

“Terus uang bayar ujian dan uang perpisahan dikembalikan nda pa? Juga uang tabungan kapan dibagikan?” imbuh Hadi.

“Iya pak, emak nanya terus, katanya buat beli beras,” kata siswa lain di SDN 4 Pandeglang

Astaghfirullahhaladziim. Guru Hambali terdiam. Tulang sendi dan ekor terasa linu. Bagaimana mungkin Sukoco mendadak girang cuma karena masker gratis tapi tubuh tetap kotor dan malas cuci tangan akibat air sekolah berhenti ngocor? Bagaimana juga mereka bisa menagih uang ujian dan perpisahan?

Ia merasa seluruh pengabdiannya telah diberikan demi kemajuan anak-anaknya. Padahal tidak pernah seumur hidupnya ia kencing berdiri. Tapi soal uang, itu soal lain. Betul-betul lain soal.

Kepala Guru Hambali mulai terasa pening. Ia teringat uang tabungan muridnya dipinjam untuk belanja genting akibat rumah bocor. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.