Program Asuransi Pertanian Kurang Diminati, Klaim Lambat Tak Sesuai Janji

asuransi pertanian
ilustrasi petani @resonansi.id

Maksud hati ingin memperbaiki kesejahteraan petani dengan asuransi pertanian, Pemerintah Kabupaten Pandeglang harus gigit jari, karena berdasarkan data, capaian Asuransi Pertanian atau dikenal dengan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) hingga saat ini baru mencapai sekitar 29 persen.

Lambatnya pencairan klaim pertanggungan asuransi bagi petani, ditenggarai menjadi salah satu faktor turunnya angka capaian ini.

Pandeglang,BantenTribun.id Menurut Kasi Pembiayaan dan Investasi Dinas Pertanian Pandeglang, Apipudin, tahun ini Pemkab Pandeglang ditarget 4000 hektar sawah ikut AUTP. Namun, hingga mendekati akhir Juli ini, baru tercapai 1,167.55 ha yang mendaftar. Ini artinya baru sekitar 29 persen dari target yang ditetapkan.

Angka capaian ini jauh lebih rendah dibanding tahun lalu pada periode musim tanam yang sama.

“Sampai hari ini baru sekitar 29 persen yang ikut  mendaftar asuransi pertanian, masih jauh dari target,” kata Apipudin, kepada BantenTribun, Senin, 20 Juli,2020.

Rendahnya minat petani mengikuti asuransi pertanian ini, membuat cukup miris, mengingat program AUTP dimaksudkan untuk melindungi petani bila gagal panen.

Padahal, untuk menarik minat petani mengikuti program ini, Kementerian Pertanian juga memberi subsidi sebesar 80 persen untuk pembayaran premi.

Dari Rp. 180 ribu yang harus dibayar, petani yang ikut asuransi pertanian hanya perlu membayar premi sebesar Rp. 36 ribu untuk luasan 1 hektar.

Kemudian bila gagal panen, petani akan mendapat harga pertanggungan maksimal sebesar Rp 6 juta perhektar. Besaran ini sebenarnya bisa menutupi biaya budidaya padi perhektar permusimnya atau sekitar 4 bulan-an.

Rendahnya minat petani terhadap asuransi pertanian (AUTP), ditenggarai akibat berkurangnya kepercayaan petani terhadap lembaga asuransi.  Jasindo, Perusahaan Asuransi plat merah yang menangani urusan petani ini, dianggap lamban dalam proses pencairan klaim jika terjadi gagal panen.

“Petani merasa mulai enggan karena saat diajukan proses klaim gagal panen, dianggap sangat lama dan berbelit, atau tidak sesuai janji manis saat sosialisasi program,” terang Jasra, Penyuluh Pertanian Kecamatan Koroncong.

Menurut Jasra, usaha mengajak petani mengikuti asuransi, termasuk asuransi ternak kerbau, banyak mendapat penolakan karena lamanya pencairan  klaim pertanggungan.

Ia juga mencontohkan, jika di wilayahnya ada yang sudah lebih dari 4 bulan sejak petani mengajukan klaim asuransi  kematian ternak,  tapi sampai saat ini masih ada yang belum direalisasi dari Jasindo.

Pendapat senada juga disampaikan Hasni, Kordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Cimanggu.  Menurutnya, keengganan petani mengikuti program ini, lebih disebabkan kecenderungan adanya anggapan pengajuan klaim pertanggungan yang lambat.

Menanggapi hal itu, Apipudin mengaku pihaknya sudah melakukan sosialisasi, baik melalui dinas yang langsung ke kelompok tani, maupun dari penyuluh pertanian yang membina petani di masing-masing wilayah.

Menurutnya, sesuai pedoman dari Kementerian Pertanian, klaim pertanggungan asuransi, harusnya hanya butuh 14 hari atau maksimal 3 minggu  saja sejak diajukan .

“Pernah ada laporan keterlambatan pembayaran klaim dari petani. Biasanya kita membantu dengan cara berkirim surat atau kontak telpon ke pihak asuransi untuk segera direalisasi pembayaran klaimnya,” terang Apipudin.

Apipudin juga memastikan anggapan keliru jika petani dari daerah tadah hujan bakal ditolak mengikuti program asuransi pertanian (autp) ini.

“Kriteria lokasi sesuai pedum, bisa dari lahan beririgasi teknis, setengah teknis, irigasi desa juga irigasi sederhana.Selain itu juga lahan rawa pasang surut atau sawah tadah hujan yang tersedia sumber-sumber air permukaan atau air tanah, bisa ikut asuransi ini,”ungkapnya.

Apipudin menjelaskan lebih jauh, jika salah satu kriterai petani yang dapat mengikuti AUTP adalah penggarap atau petani pemilik lahan dengan luas maksimal 2 ha.

Sementara resiko yang bisa dijamin program asuransi ini adalah kerusakan atau kerugian pada tanaman padi yang disebabkan akibat banjir, kekeringan, dan serangan organisma pengganggu tanaman (OPT).

Petani peserta program AUTP, masih kata Apipudin, dapat mengajukan klaim pertanggungan jika intensitas kerusakan lebih dari atau sama dengan 75 persen, dengan ditinjau atau diverifikasi lapangan oleh tim dari Jasindo dan petugas pengendali OPT.

Meskipun demikian, Apipudin mengakui jika pencairan klaim pertanggungan asuransi yang diajukan petani, masih sering melampaui dari batas yang ditentukan sesuai pedoman umum dari Kementan.

“Kenyataannya memang pencairan klaim pertanggungan asuransi dari Jasindo untuk  program AUTP ini sering makan waktu 2 sampai 3 bulan. Saya tidak tau persis alasan pihak asuransi Jasindo kenapa,” terang Apipudin.

Hingga berita ini diturunkan, pihak asuransi Jasindo belum bisa dihubungi. Pertanyaan tertulis yang dikirim juga belum ditanggapi.

Bisa jadi, lambatnya klaim yang tak sesuai janji sosialisasi, menjadi alasan petani semakin enggan ikut asuransi.  lalu inovasi apa yang sudah dilakukan Distan pandeglang untuk memperbaiki capaian asuransi yang ditargetkan Kementan?*(kar).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.