Produktivitas Perikanan Indonesia Masih Rendah, Ini Kata Praktisi

Produktivitas perikanan perlu terus ditingkatkan, selain dapat menopang ekonomi yang terpuruk karena pandemi.

Konsumsi ikan juga bagian penting dari pemenuhan gizi masyarkat. Terutama untuk mencagah mal nutrisi dan stunting.

produktivitas perikanan
Produktivitas Peikanan Masih Rendah

BantenTribun.id- Perikanan merupakan salah satu sektor yang berperan menopang ekonomi Indonesia. Selain itu, ikan juga sumber pangan hewani kaya protein dan baik untuk manusia.

Tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan pangan ikan juga terbilang sudah baik. Meskipun masih terglong rendah dibandingkan negara maju seperti Singapura dan Jepang.

Indonesia sebenarnya punya potensi untuk meningkatkan konsumsi ikan. Selain memiliki pantai panjang mumpuni, Aneka ragam ikan juga bisa tumbuh maksimal di negeri ini

Masyarakat Indonesia bisa dengan mudah menikmati ragam ikan, baik ikan laut, payau ataupun ikan air tawar.

Sayangnya produktivitas perikanan di negeri ini masih  rendah, padahal kesadaran masyarakat untuk konsumsi ikan muali tumbuh.

Gibrah Huzaifah seorang praktisi usaha perikanan mengatakan, Indonesia masih menghadapi kendala klasik di produksi dan budidaya ikan. Padahal menurutnya potensi produksi ikan Indonesia sangat besar.

“Bayangkan kita saat ini menjadi negara dengan potesni perikanan terbesar kedua setelah cina. Padahal kita baru mengerahakn 7 persen potensi itu.” Ujar Gibran dalam sebuah dialog dalam Podcast Asumsi Bersuara di paltform Spotify.

Gibran yang juga founder e-fishery meyakini Indonesia bisa menyalip Cina jika serius.

“Kita berada di dua musim, Cina empat musim, artinya kita bisa produksi ikan sepanjang tahun, sedang Cina tidak.” Ungkapnya optimis.

Kendala Produktivitas Perikanan

Meski begitu, Gibran juga menyadari, untuk meningkatkan peroduktivitas perikanan di Indonesia bukan hal mudah.

Alumni Institut Teknologi Bandung masih menyoroti tentang teknik budidaya perikanan Indonesia yang masih ketinggalan.

“Cina, Vietnam dan Thailand sudah menerpkan teknologi perikanan yang baik. Mereka memperhatikan soal benih, genetikanya, penyakit, probiotik, dan sebagainya. Sementara pembudidaya kita masih banyak yang belum.” Ungkap Gibran.

Lebih lanjut Gibran juga mengatakan, meningkatkan produktivitas perikanan berarti harus mempertimbangkan pakan, kualitas air hingga ketahanan hidup ikan atau Survival Rate.

“Di Thailand sudah hampir 90 persen kolam menggunakan auto feeder, di kita baru ribuan dari sekian juta kolam. Masih jauh.” Imbuhnya.

Dalam hal ini pria yang masuk Forbes Under 30 di tahun 2017 ini mengajak semua pihak untuk membantu implementasi auto feeder untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pangan.

Sementar disektor hilir, pembudidaya ikan kita juga belum merasa nyaman karena ketidak pastian pasar.

“Pasar penting untuk pembudidaya ikan. Adanya jaminan membuat mereka secure dan menjaga produktivitas perikanan dengan baik.” Jelas Gibran.

“Hingga kini menjaga kepasatian pasar di Indonesia ini sulit karena tengkulaknya banyak. Belum lagi konektivitas antara pembudidaya dan market masih fragmented.” Pungkasnya. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.