Produksi Beras MT II Diproyeksi Turun, Dosen IPB Sarankan Diversifikasi Horisontal

produksi beras

Produksi Beras pada Musim Tanam II (MT II) diproyeksi menurun, perlu ada inovasi untuk mengatasi hal itu, Dosen IPB sarankan ini.

BantenTribun.id- Musim Tanam Kedua (MT II) untuk pertanaman padi kemungkinan besar akan menghadapi kendala. Musim kering dan masih berlangsungnya pandemi Covid-19 membuat produksi padi dan produksi beras pada MT II diproyeksi turun.

Menurunya produksi beras, biasanya akan berimplikasi pada langkanya komoditas pangan utama itu dipasar, dan tentu akan berpengaruh pula pada peningkatan harga jual di tingkat konsumen serta menurunkan daya beli masyarakat. Ujungnya nilai tukar petani (NTP) juga anjlok.

Menyikapi kelangkaan beras, Dosen Divisi Produksi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB) Purwono mengusulkan model Diversifikasi Horisontal.

Menurut Purwono Diversifikasi Horisontal merupakan upaya mengganti konsumsi beras dengan pangan yang setara, seperti Jagung, Sagu, Singkong dan beberapa komoditas lainnya.

“Diversifikasi pangan merupakan upaya memanfaatkan pangan lokal selain beras di suatu wilayah,” ungkap Purwono.

Menurut Purwono sudah saatnya konsumsi beras masyarakat diturunkan. Data Badan Pusat Statistik 2018 (BPS) mengungkap konsumsi beras masyarakat Indoensia sebesar 312 gram per kapita per hari.

“Jika diturunkan 20 persen, maka penurunan konsumsi beras sebanyak 60 gram atau menjadi 252 gram,” ungkapnya

Lebih lanjut, Purwono menjelaskan dengan Penurunan 60 gram, jika dihitung secara matematis maka akan terjadi pengurangan konsumsi beras sebanyak 5,5 juta ton. Jika dihitung dengan rendemen, maka pengurangan konsumsi beras 20 persen sama dengan 9,5 juta ton Gabah Kering Panen.

“Jadi konsumsi kita bisa berkurang sebanyak itu,” jelasnya.

Soal pengganti beras yang setara, Purwono mengaku hal itu sangat mungkin mengingat sumber karbohidrat non padi di Indonesia sangat melimpah, dan aneka olahan makanan dari bahan non beras juga tidak sedikti.

Jika Diversifikasi Horisontal terus di gaungkan menurut Purwono beban beras sebagai konsumsi pagan utama akan berkurang.

Jadi pengambangan pangan lokal (karbohidrat lokal) tentu beban beras sebagai karbohidrat utama akan berkurang karena di beberapa daerah jadinya lebih memilih pangan lokal mereka dibandingkan beras,” jelas Purwono.

Diversifikasi horizontal juga akan menjaga ketahanan pangan nasional. Jadi pangan Indonesia cukup, mandiri dan berdaulat. “Cukup yakni pasokan cukup, mandiri karena diproduksia dari dalam negeri, dan berdaulat karena berasal dari dalam negeri sehingga kebijakannya datang langsung dari kita,” pungkasnya. (red/SinarTani)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.