Porang Kini Mulai Merambah Pandeglang

Tanaman Porang atau ada yang menyebutnya iles-iles, sebuah tanaman yang termasuk umbi-umbian, mulai popular belakangan ini. Tanaman yang semula dianggap liar, sekarang banyak dibudidayakan petani, karena gampang dan mempunyai nilai ekonomi tinggi.

porang
Iping Saripin, saat melihat budidaya Porang di Desa Neglasar Kecamatan Saketi (foto-ist-BantenTribun)

Kisah sukses petani tanaman ini menarik minat banyak orang.  Porang yang menjanjikan pun kini mulai merambah wilayah Pandeglang.

Pandeglang,BantenTribun.id-Komoditas tanaman umbi-umbian yang satu ini semula tidak ada yang melirik, bahkan dianggap tanaman liar.

Di Pandeglang, tanaman umbi dari spesies Amorphophallus muelleri ini ada yang menyebutnya sebagai iles-iles bahkan ada yang mengatakan “parab oray atau pakan ular”.

Porang mulai naik daun saat terpublis cerita keberhasilan petani dari Jawa Timur yang sukses menjadi miliader dari bisnis ekspor  porang ini.

Cerita sukses petani porang, juga menarik minat petani Pandeglang untuk mencoba membudidayakannya.

Saat ini, tanaman yang juga disebut iles-iles itu mulai banyak dibudidayakan petani di wilayah Mandalawangi, Saketi, Mekarjaya juga di Kecamatan Cimanggu.

“ Di Mandalawangi ada yang sudah membudidayakan tanaman tersebut di lahan seluas kurang lebih 5 hektar, “ ujar Caswa, Camat Kecamatan Majasari, kepada BantenTribun.

Tanaman Porang juga sudah mulai dibudidayakan Kelompok tani Neglasari Desa Talagasari Kecamatan saketi

“Di Saketi sudah dibudidayakan petani  di lahan milik Perhutani sekitar 3 hektar, sebagai tanaman tumpangsari tanaman kopi,” kata Iping Saripin, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Pandeglang, kepada BantenTribun, Selasa,14 Juli 2020.

Menurut Iping Saripin, tanaman Porang yang sudah menjadi komoditas ekspor ini termasuk komoditas yang tidak sulit dibudidayakan. Namun demikian, petani masih menemui kesulitan mendapatkan bibit berkualitas dan harga yang relative masih mahal.

“Kalau pemilihan lahan, tanaman ini masih bisa di tanam di antara tegakkan tanaman lain, dengan mendapat penyinaran matahari sekitar 40-60 persen,”jelas Iping.

Di Kecamatan Mekarjaya, masih kata Iping, juga  ada petani yang sudah mulai membudiyakan porang lebih intensif dan termasuk membuat pembibitan dari umbi batang yang sudah punya titik tumbuh.

“Bibit bisa juga dari umbi katak (bubil) yang terdapat di bagian atas tanaman ini dan bisa ditanam secara langsung. Kalau di Mekarjaya petani porang sudah lebih intensif dalam menyediakan lahan yang sudah dibuat guludan dan penggemburan tanahnya, “ ujar Iping.

bubil porang (foto-BantenTribun)

Selain di wilayah tersebut, Porang juga sudah dibudidayakan petani di Kecamatan Cimanggu.

Di daerah ini, setidaknya sudah ada pembudidaya porang di lahan sekitar 4 hektar yang tersebar di beberapa spot atau titik.

“Ada sekitar 4 hektar dan tersebar, petani Porang di Cimanggu. Kemarin malah ada yang sudah panen, padahal umurnya baru sekitar 6 bulanan,” kata Hasni, Kordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Cimanggu, saat dihubungi BantenTribun, via WhatsApp, Selasa (14/7).

Menurut Hasni, dengan usia sekitar 6 bulan tersebut, umbi tanaman  yang dihasilkan petani di Desa Ciburial sekitar 1,5 kilogram perbatang. Harga jual porang ditingkat petani ini diterima berkisar Rp 8000 sampai Rp 10.000, per kilo.

“Pembelinya datang dari JawaTimur, yang dijual baru sekitar 1 ton, atau tidak  dijual semua, karena petani masih merasa sayang dengan umur tanaman yang baru 6 bulan. Menurut saya prospek tanaman ini bagus sekali,” ungkap Hasni.

Sejauh ini, luasan lahan pasti petani di Pandeglang yang mengusahakan tanaman yang berguna untuk obat itu, memang belum dapat dipastikan karena belum ada kegiatan dukungan dari pemerintah, seperti yang disampaikan Iping Saripin.

Manfaat porang

Tanaman umbi-umbian ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, selain juga untuk pembuatan lem dan “jelly” yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang.

Melansir laman resmi Kementerian Pertanian, Umbi tanaman itu banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang

Tanaman tersebut dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl. Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan di bawah naungan tegakan tanaman lain.

Tanaman itu memiliki nilai strategis untuk dikembangkan, karena punya peluang yang cukup besar untuk diekspor.

Catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor pemilik nama lain iles-iles itu  pada tahun 2018 tercatat sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspor yang mencapai Rp 11,31 miliar ke negara Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lain sebagainya.

Komoditas satu sangat menjanjikan, dan kini  mulai merambah Pandeglang, mungkinkah Porang juga bisa menjadi komoditas unggulan?*(kar).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.