Perbankan Siap Gelontorkan Rp300 Milyar Untuk KUR, Distan Fasilitasi Petani

 

sosialisasi kur di aula Distan (foto-BantenTribun)

Tahun ini, 3 bank di Pandeglang siap menggelontorkan Rp300 milyar untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga rendah . Permintaan kolateral diperkirakan masih jadi sandungan. Dinas Pertanian pun memfasilitasi petani untuk mendapatkan kredit yang ditawarkan.

Pandeglang,BantenTribun.id-Kucuran kredit berbunga rendah untuk pelaku UMKM, 3 lembaga perbankan siap menggelontorkan  sekitar Rp 300 milyar. BNI, BRI dan Mandiri, bank plat merah menjadi bank penyalur kredit usaha ini.

Kredit bagi pelaku usaha kecil ini hanya berbunga 6 persen pertahun atau 0.5 persen tiap bulannya. Skema pengembalian dapat diusulkan per tri wulan, “yarnen” atau flat bulanan dengan tenor kredit 1 tahun.

Dinas Pertanian (Distan) Pandeglang, mencoba memfasilitasi petani untuk bisa mengajukan kredit yang digadang-gadang tanpa agunan atau kolateral  berbunga ringan ini.

“ Usulan yang sudah masuk dari petani yang mengajukan kredi KUR sebanyak 151 orang, dengan nilai hampir Rp40 milyar,” kata Uun Junandar, Kepala Bidang Sarpras Distan, kepada BantenTribun, usai sosialisasi dengan petani di Aula Distan, Rabu(24/6).

Dari jumlah itu, pengajuan kredit dari 131 pelaku usaha tani sudah masuk ke perbankan, dengan nilai kredit yang diajukan sebesar Rp17,9 milyar.

Menurut Uun, tenor atau jangka waktu pengembalian kredit selama 1 tahun, dengan skema pembayaran yang diusulkan petani triwulan, flat bulanan dan ada pula yang mengajukan “yarnen” atau bayar sesudah panen.

Besaran pinjaman yang dapat diusulkan tanpa menyertakan agunan, masih kata Uun, mulai dari Rp5 juta sampai Rp 50 juta.

“Kalau 5 sampai 50 juta biasanya tanpa agunan, namun itu tergantung evaluasi dari pihak bank yang menentukan kelayakan usaha, Kita hanya memfasilitasi saja. Kalau usulan dari petani ada yang meminta bayar atau pengembalian kreditnya sesudah panen, “ jelas Uun.

Permintaan kolateral atau agunan dari pihak bank untuk kucuran kredit ini, diperkirakan bakal menjadi sandungan atau hambatan.

“Pakai agunan  sertifikat mah saya belum punya,” kata Didi, salah satu peserta sosialisasi.*(red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.