Pengembangan Agrowisata di Sekitar Landmark Kaduengang Harus Perhatikan Ini

 

Rencana pengembangan agrowisata di Kaduengang (foto-mik-BantenTribun)

Rencana pengembangan Agro wisata berkonsep “Petik Langsung dari Kebun”di Kampung Kaduengang, yang digagas Kelompok Tani Saung Biru, harus hati-hati dan memperhatikan beberapa aspek. Pemilihan komoditas pertanian mesti tepat untuk menghindari longsor, dan tidak mengalami “nasib sama” seperti Lembang Bandung.

Pandeglang,BantenTribun.id- Rencana pengembangan Agrowisata yang digagas Kelompok Tani Saung Biru di Kampung Kaduengang Pandeglang, diminta untuk hati-hati dan mempertimbangkan berbagai aspek lingkungan agar tidak mengalami nasib seperti Lembang Bandung.

Konversi lahan di area pegunungan menjadi kebun sayur, berpotensi menimbulkan kerawanan longsor. Selain itu, dengan berdirinya Landmark Kota Pandeglang  juga bisa mengundang tumbuhnya bangunan  permanen berupa vila-vila disekitar kawasan tersebut. Padahal, jika kawasan memiliki kemiringan tanah lebih dari 40 derajat,  jelas dilarang mendirikan bangunan. Pemerintah Daerah Pandeglang harus bertindak tegas, jika hal itu terjadi.

Hal tersebut disampaikan Tb Iwan Ridwan, pemerhati lingkungan yang pernah “nyantri” di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB Bandung, kepada BantenTribun, Selasa (16/6/20).

Menurut pria asal Pandeglang ini, jika masyarakat sekitar berniat mengembangkan Agrowisata, sebaiknya memilih komoditas yang tepat dan variatif, disesuaikan dengan kontur tanah atau tidak semua lahan disulap menjadi kebun sayur.

“ Bisa dengan kopi, atau lainnya yang memiliki akar kuat untuk resapan air dan penahan longsor. Luasan lahan yang digunakan  juga harus ada batasannya berapa persen yang bakal digunakan untuk kebun sayuran,” kata Iwan.

Meskipun demikian, ia menyatakan setuju dengan catatan, jika warga sekitar mengembangkan daerah itu sebagai Agrowisata untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekitar dan menggerakkan  roda ekonomi perdesaan.

“Ya, jika Agrowisata dengan petik sayur langsung dari kebun ini bisa terwujud, maka ekonomi desa akan terangkat. Pengangguran bisa dikurangi, serta tidak ada lagi laporan warga yang sering kehilangan buah pisang atau petainya,” kata Jajang Kuncir Aklik, Ketua Poktan Saung Biru, penggagas Agrowisata.

Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Pandeglang, Bayu Daniswara, juga mengingatkan agar pengembangan agrowisata di sekitar landmark di Kampung Kaduengang, memilih komoditas yang tepat dan tidak semua petani seragam  dengan kebun sayuran.

“Pandeglang terkenal sebagai penghasil buah durian.  Komoditas ini bisa dijadikan salah satu pilihan dan tetap bisa berkonsep petik langsung dari kebun,” terang Agus, Selasa (16/6/20).

Menurut Agus, meski daerah Kaduengang dikenal sebagai wilayah penghasil sayuran dataran tinggi, namun dengan adanya landmark yang bisa mengundang keramaian pengunjung, dikhawatirkan ide Poktan mengembangkan agrowisata dapat memicu tindakan serampangan.

“Meskipun itu dilahan milik petani. Prinsipnya kami mendukung pengembangan Agrowisata itu. Apalagi jika memberdayakan lahan yang tidak produktif, ekonomi desa bisa bergerak dan kesejahteraan petani juga meningkat,” kata Agus.

Lebih jauh, ia memastikan pihaknya tidak akan mengeluarkan rekomendasi  untuk pembangunan permanen berupa vila di kawasan tersebut.

“Daerah sekitar merupakan resapan air,” imbuh Muhadi, Kabid Sumber Daya Air Dinas PUPR Pandeglang.

Kepala Urusan Tehnik Kehutanan Perhutani Pandeglang, Syakir Syahroni, mengatakan penggunaan lahan milik Perhutani untuk budidaya komoditas tanaman oleh masyarakat sekitar pada dasarnya diperbolehkan, dengan mempertimbangkan aspek dan prosedur yang ditentukan.

“Pada dasarnya bisa diberdayakan untuk komoditas tertentu oleh masyarakat sekitar, asal menempuh prosedur yang ditetapkan,” jelas Syakir di Kantor Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan  Pandeglang.*(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.