Pemimpin Pilihan Banten ; Dalam Beberapa Catatan Tinggalan Banten

 

Peneliti Arkeologi Islam, pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Waketum Bidang Budaya Perkumpulan Urang Banten

Oleh: Ki Najib Al-Bantani

 

Banten sebagai sebuah tempat berarti mengandung makna ‘Sesaji”. Pemimpinnya yang berada di Banten disebut “Surasaji”. Singgasana sebagai tempat pemimpinnya disebut Surasowan. Banten=Surasaji=Surasowan (Hoesein Djayadiningrat, 1983:210  )

Para pemimpin Banten, patut menyandang gelar Surasaji, yang bermakna Pemimpin Gagah Perkasa yang di Ridhoi Tuhan Yang maha Esa. Pemimpin Banten mengemban Amanah sebagai wasiat dari Sultan Banten yaitu; “al-aakibatul Khoir Salamatul Iman, La fatah ila Ali Rujito, La Syaifa illa Zulfikar, Lahua lam yakun Kufuan ahad” mengandung makna menjaga amar maruf nahi mungkar.

 

Pendahuluan

Banten telah melewati dua Pradaban Besar, Pradaban Hindhu Budha dan pradaban Islam dan telah lolos dari Ujian Pradaban Eropa, yang telah mewarnai model kepemimpinannya. Memasuki masa Republik, Mayarakat Banten menemukan kembali model Kepemimpinannya.

Dasar model Kepemimpinan Banten telah diabadikan dalam Manuscrip.” “nyata gawe ing sihipun, kang dihin si pariksa, syih dana ingkang ping kalih, ping tigane punika ing syih sancaya” (mengenai pilihan pemimpin, yang jelas cinta dan tanggungjawab, yang pertama adil, yang kedua pemurah yang ketiga dapat dipercaya). Dan Prasasti.”al-‘akibatul khoir, salaamatul iimaan-lafatah ila Ali rujita la syaifa ila Zullfikar la Hua Lam yakun kufuan ahad”.(yang mengandung makna sebagai wasiat untuk menjalankan amar, ma’ruf dan nahi mungkar).

Nampaknya masyarakat Banten secara naluri merindukan model kepemimpinan yang telah muncul di Banten sejalan dengan karakter Urang Banten.

Pada awal kemerdekaan, hampir kepemimpinan-kepemimpinan baik di Tingkat II atau Kabupaten maupun Residen, kepemimpinan didominasi oleh seorang Cendekia Muslim, yang memiliki dasar agama dan Kepemerintahan. Antara lain; Residen Banten K.H.Tubagus Ahmad Chatib, Bupati Serang K.H. Sam’un, Bupati Lebak K.H.Moh. Hasan, Bupati Pandeglang K.H. Abdullah, dan Bupati Tanggerang K.H. Tubagus Amin Abdullah.

Sudah hampir seratus tahun Banten telah meninggalkan model Kepemimpinan tersebut di atas. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Ali Imran: 40,  disebutkan setelah seratus tahun akan kami pergilirkan kembali “ Nudawwiluha”.

Pada tahun ini akan diadakan Pilkada dan Pilgub secara serentak, termasuk Banten juga akan menyelenggarakan Pilkada, akankah Masyarakat memilih, Pemimpin yang Cendekia Muslim?.

Peran Tokoh Moralis

Pemilu kedua pasca Reformasi telah menjadi pelajaran bagi kaum muda, bahwa bagaimanapun hebatnya sistem ternyata tidak membawa perubahan signifikan bagi bangsa ini, yang menjadi sorotan kaum muda adalah mental/moral pelaksana sistem.

Sejarah telah mencatat, bahwa setiap pergantian sistem permasalahan esensi tentang bangsa ini seperti kemiskinan tidak pernah terpecahkan, walaupun telah memiliki dasar sumber hukum, baik pada hukum negara maupun hukum agama.

Tetapi kemiskinan bukannya dapat ditekan malahan semangkin meningkat, sehingga sekarang muncul istilah kemiskinan baru yang disebut dengan kemiskinan terselubung, kemiskinan intelektual, kemiskinan ahlaq dll.

Disamping munculnya istilah baru kemiskinan, juga kemiskinan dijadikan tumbal, dijadikan bemper, dijadikan jembatan, dijadikan promosi, dijadikan kampanye menuju perbaikan nasib dirinya, menaikkan gengsi status sosial dan menjadi elite baru dengan cara sesingkat-singkatnya melalui pedidikan kilat untuk memperoleh sertifikat menuju perbaikan nasib.

Cara seperti itu, bagaikan seorang yang membelah bambu, diangkat bagian atas dan diinjak bagian bawahnya.

Kemiskinan telah menghantar kejenjang sesorang untuk duduk dalam sebuah kursi yang diperebutkan. Setelah mendapat kedudukan, lupa berdiri.

Rupanya isu kemiskinan masih aktual untuk mempertahankan kedudukan, lagi-lagi kemiskinan menjadi tameng, bemper, jembatan. Hanya bukan untuk menarik suara tetapi untuk menarik dana.

Sirkum likusi, lingkaran setan pada masa orla, dan orba akan muncul kembali bahkan lebih hebat lagi. Tidak lagi eksekutif, legislatif dan yudikatif yang telah kemasukan lingkaran setan, juga masyarakat bahkan institusi agamapun akan terkena lingkaran setan.

Demikian juga masyarakat miskin akan terbiasa dengan pola-pola kebohongan. Mereka cukup puas dengan bagi-bagi sembako, bagi-bagi kaos, bagi-bagi mie dan yang terbaru adalah bagi-bagi uang.

Sisi lain model bagi-bagi semacam itu tidak mendidik. Pola kebohongan kalau dibiarkan akan melembaga atau membudaya dan dianggap biasa, sehingga secara tidak disadari yang meningkat atau yang maju adalah sistem kebohongannya.

Sejarah kebohongan telah ditanamkan oleh kolonial, mulai dari pandangan terhadap ketokohan, pandangan hidup matrialistis dll..

Dalam pandangan ketokohan telah disusupkan konsep tokoh abstrak /fiktif yang tidak bisa diterapkan dalam kehidupan. Sementara tokoh kongkrit dalam sejarah lokal, dimusnahkan atau disebutkan sebagai tokoh legenda.

Tokoh fiktif yang dimunculkan atau dipopulerkan oleh kolonial adalah tokoh Ratu Adil atau Tokoh Imam Mahdi/Missianisme.

Tokoh Ratu adil dibesar-besarkan dan diharap-harapkan kemunculannya. Pada saat kita berharap kosong, pada saat itulah kolonial masuk memberi harapan real yang penuh kebohongan.

Dalam pandangan matrial, telah membunuh mental/charakter masyarakat dari pandangan moral atau religius ke pandangan matrialistis. Satu-satunya kebenararan, satu-satu nya yang paling hebat, satu- satunya yang disembah, satu satunya yang mengayomi adalah matrial. Sehingga kepercayaan terhadap seorang tokoh terbatas sampai sejauhmana tokoh tersebut memiliki materi.

Sebaliknya bagi seorang tokoh yang tidak memiliki matrial, dianggapnya kurang memberi manfaat.

Karena dasarnya materi, seorang tokoh pun akan berfikir sejauh ada materinya, artinya setelah diperoleh, maka seorang tokoh akan memilih suara materi dibandingkan suara kemiskinan. Sebaliknya bagi sseorang tokoh yang memiliki pandangan moral, maka titik tolaknya pun sejauh ukuran moral.

Tokoh moralis tidak hanya akan mengayomi masyarakat, sehingga mampu menarik empatik dan simpatik masyarakat, juga akan mengusik kelanggengan kolonialisme.

Dan gerakan moral tersebut akan mampu menumbangkan kekuatan yang memiliki teknologi berat seperti kolonial.

Ingat emberio charakter moral Panembahan Maulana Hasanuddin, telah muncul kembali ke dalam perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa, sehingga ia dikenal dengan musuh besar kolonial, lalu muncul lagi ke dalam perjuangan Sultan Rafiuddin yang telah menggagalkan korban besar-besaran pada masyarakat Banten dengan kerja rodinya. Berikutnya muncul pada perjuangan diri K.H.Wasyid dst, dengan kata lain pola perjuangan berikutnya telah dikendalaikan oleh seorang tokoh ulama, dan pesantren sebagai bentengnya.

Karakteristik Tokoh Moralis

Legitimasi transedental dan intransedental atau legitimasi natural dan supranatural merupakan modal dasar bagi kepemimpinan ketimuran.

Dalam catatan sejarah modal dasar tersebut coraknya atau modelnya yang berubah-ubah, namun esensinya tetap menganut konsep ketimuran.

Suksesnya suatu kepemimpinan tergantung dari nilai esensi yang dimilikinya. Sukses dalam membawa /mengemban amanat aspirasi  rakyat yang dipimpinan dan sukses dalam mengemban sifat-sifat Ilahia yang juga seharusnya dimiliki oleh manusia. Atau pimpian sebagai wakil Allah dimuka bumi.

Kepemimpinan legitimate “ganda” yang merupakan model kepemimpinan ketimuran, di Banten, telah muncul semenjak masa prasejarah, klasik dan Islam.

Berikutnya terjadi revolusi kepemimpinan oleh kolonial yang membawa model kepemipinan legitamate tunggal

Revolusi kepemimpinan dari pejabat regent hingga pejabat onder regent (Demang). Disamping itu juga terjadi revolusi mekanisme untuk menjadi pimpinan dalam pemerintahan antara lain ditunjuk, diangkat dan diberhentikan oleh pejabat tertinggi. ( asasten Residen, Residen Gubernur Jenderal dan seorang Ratu).

Revolusi kepemimpinan tersebut ada sesuatu yang dikorbankan atau ada sesuatu yang hilang yaitu aspek ikatan transedental atau aspek ikatan supranatural.

Aspek transendental hanyalah sebuah bayangan atau simbol utuk melegitimasi kepemimpiannya, karena ia hanya sebagai simbol atau bayangan saja, sehingga yang muncul dalam kepemimpinan sifat hipokrit, basa basi, ABS, kebohongan publik, kepura-puraan, berlindung dibalik kemiskinan, berlindung dibalik demokrasi, belindung dibalik rakyat dll Kitab suci yang dijadikan saksi sumpah jabatan merupakan pelecehan agama.

Banten yang mayoritas beragama Islam, memberikan suatu kepercayaan yang tinggi terhadap seorang pemimpinnya, karena dalam Islam seorang pemimpin adalah “ulil amri minkum”, yaitu  “ wajib” untuk dilaksanakan aturannya.

Demikian juga bagi seorang pemimpin beranggapan bahwa seorang pemimpin adalah amanah, dan akan dipertanggungjawabkan apa yang dipimpinnya dihadapan Allah.

Tentu yang dimaksud adalah pemimpin yang memiliki aspek transenden ( yang mengaplikasikan nilai-nilai atau sifat-sifat ilahiat dalam kehidupannya).

Lunturnya kepercayaan karena telah terjadi pergeseran nilai kepemimpinan dari bentuk kepemimpinan legitimate ganda ke bentuk kepemimpinan legitimate tunggal, ia hanya bertanggung jawab secara horizontal, sehiggga tanggungjawabnya bersifat semu, setengah hati, sementara ucapan dan janji-janji politik yang diingkarinya tidak ada sangsi hukumnya.

Sehingga secara leluasa seorang pemimpin mudah mengingkari janjinya, sebaliknya bagi seorang pemimpin yang memiliki legitimate ganda, walaupun tidak ada sangsi hukum positif, ia tidak akan mudah mengingkari janji, karena ikatan janjinya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.

Akhir-akhir ini muncul sistem baru atau mekanisme baru yang hendak mengubah bentuk kepemimpinan yang mengalami pergeseran nilai. Persoalanuya adalah mungkinkah mekanisme/sistem baru itu akan mengubah karakter kepemimpinan ? Apakah perubahan sisitem/mekanisme itu menjamin perubahan karakter terhadap kepemimpinan ke arah yang lebih baik ?

Karena bagaimnapun hebatnya atau modernnya suatu sistem bilamana pelaksana sistem tersebut tidak memiliki semangat moral/ semangat religius, maka sistem hanyalah sebagai simbol atau hanyalah sebagai tameng untuk menghalalkan segala cara.

Karena kepimpinan tanpa dilandasi semangat/motivasi moral maka akan terjadi Power lends to corrupt ( kekuasaan itu cenderung diselewengkan, disalah gunakan/dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Nampaknya perubahan sistem/mekanisme pemilihan kepemimpinan harus diimbangi dengan perubahan paradigma pimpinannnya dari pandangan legitimasi tunggal intransedental/natural/horizontal ke pandangan yang memiliki legitimasi ganda tidak hanya intransedental/natural juga memiliki pandangan transedental/supranatural/vertikal.

Model Tokoh Pemimpin di Banten

Tokoh pemimpin di Banten yaitu tokoh yang mencintai, memahami, mengenal lebih jauh tentang masyarakat dan lingkungannya, siapapun yang terpilih sebagai pimpinan di Banten.

Bagaimana ia akan menjadi pimpinan di Banten, ia sendiri tidak memahami masyarakat dan lingkungannya. Memahami tidak hanya sekedar mengetahui tapi mengayomi, meneladani, memotivasi, kearifan, amanah dan fatonah.

Secara umum kepemimpinan berkaitan erat dengan tiga jenis; otoritas seperti yang dikemukakanoleh Weber, yaitu otoritas legal-rasional, otoritas tradisional dan otoritas kharismatik.

Otoritas legal-rasional adalah otoritas yang didasarkan atas kepercayaan terhadap legalitas peraturan-peraturan dan hak bagi mereka yang berkuasa atas dasar peraturan-peraturan.

Otoritas tradisional adalah otoritas yang didasarkan atas kepatuhan karena hormat terhadap pola tatanan lama yang telah mapan.

Otoritas kharismatik adalah otoritas yang didasarkan  atas pengabdian terhadap kesucian, kepahlawanan, keteladanan serta pola-pola atau tatanan normatif yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin.(Max Weber 1964:328)

Dalam catatan sejarah di Banten kepemimpinan ulama, masih dominan hingga saat ini, Ulama dalam masa awal di Banten ia sebagai pemimpin agama juga sebagai pemimpin negara,

Syarif Hidayatullah merupakan satu-satunya walisongo yang menduduki jabatan pemimpin pemerintahan, walau ia tidak lama. Namun, sifat Syarif Hidayatullah tersebut diturunkan pada putranya, Hasanuddin, seingga ia dijuluki Panembahan yang berarti gelar kehormatan bagi raja dan juga dijuluki Maulana yang berarti gelar kehormatan bagi ulama besar atau sufi ( KBI 2001: 725)

Pada masa awal Kemerdekaan, kepemipinan ulama kembali tampil untuk mengisi jabatan-jabatan puncak dalam pemerintahan di Banten.

Walaupun kolonial telah mempersiapkan tongkat estafet di luar kepemimpinan ulama, namun masyarakat mempunyai kehendak lain, mereka lebih memilih ulama sebagai pengayomnya. Jabatan-jabatan ulama pada awal-awal kemerdekaan di Banten anatara lain;  Residen Banten K.H.Tubagus Ahmad Chatib, Bupati Serang K.H. Sam’un, Bupati Lebak K.H.Moh. Hasan, Bupati Pandeglang K.H. Abdullah, dan Bupati Tanggerang K.H. Tubagus Amin Abdullah

Bilamana kata Ulama muncul pada masa Islam di Indonesia, khususnya di Banten, yang embrionya dari tradisi kuna orang-orang suci.

Hasanuddin adalah seorang sosok pimpinan yang memiliki gelar Panembahan (gelar kehormatan bagi seorang raja) dan gelar Maulana ( gelar kehormatan bagi ulama besar atau sufi). Ketauladanan ayahnya Syarif Hidayatullah telah mengalir pada putranya.

Pada masa runtuhnya kesultanan, benteng pemerintahan adalah pesantren-pesantren. Para zuriat kesultanan menyebar ke berbagai daerah untuk mendirikan pesantren. gelar-gelar kesultanan ditanggalkan, karena kolonial berjanji akan membumi hanguskan anak cucunya.

 

Karena kolonial beranggapan dosa ayahnya akan diturunkan pada anak cucunya, tradisi kolonial ini juga pernah diterapkan terhadap PKI, oleh orde baru.

Tradisi kolonial yang memiliki kepercayaan adanya dosa turunan, telah dialami oleh Saddam dan anak cucunya yang terus diburu.

Setelah runtuhnya kesultanan, muncul gerakan-gerakan perlawanan terhadap kolonial, sehingga dalam caatatan sejarah Banten dikenal sebagai daerah bergejolak (lihat Sartono Kartodirjo), dan juga Banten dikenal dengan Musuh Besar Kolonial ( lihat Uka Tjandrasasmita).

Dalam mengahadapi musuh bersama “ kolonial”,  Masyarakat Banten bersatu. Kesatuan masyarakat ini dalam perjalanan berikutnya sehingga dikenal dengan Ulama, Umaro dan Jawara.

Khususnya umaro, dari tingkat regen ke bawah yang dijabat oleh pribumi (Banten), dalam saat-saat menghadapi musuh bersama ia membantu dalam bentuk spirit dan informasi. Hal tersebut sulit ditemukan dalam etnis manapun.

Demikian juga jawara. Dalam catatan sejarah umaro dibesarkan oleh kolonial, namun jawara tidak dibesarkan oleh kolonial, ia adalah tatanan khas Banten.

Dalam hasil riset STIE la tansa Mashiro, telah disinggung tentang Jawara, bahwa Jawara identik dengan Jaro (namun masih perlu pengkajian lebih lanjut).

Dari sudut bahasa, Jawara, berasal dari kata Ja dan Wara. Ja berarti kelahiran dan wara berarti kesucian. Artinya kelahiran yang suci. Namun dalam perkembangan berikutnya telah terjadi pergeseran nilai.

Untuk itu tugas kita bagaimana mengembalikan makna Jawara yang sesungguhnya.(lihat; Tb.Najib, eksistensi Jawara di Banten Fajar Banten, Mei 2004).

Mengedepankan Amal Maruf Dalam Meruntuhkan Nahi Mungkar

Amal maruf dan nahi mungkar seperti dua sisi mata uang, satu kesatuan yang tidak bias dipisahkan.

Amar maruf artinya, menyuruh kepada yang mungkar dan nahi mungkar artinya mencegah kejahatan. Setelah masuknya pengaruh sekularisme di Indonesia, telah terjadi disentegrasi.**

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.