Pekik Maulid; Sirna Ilang Pekik Maulid Timbul

 

Peneliti Arkeologi Islam, pada Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
Waketum Bidang Budaya Perkumpulan Urang Banten

Oleh : Ki Najib Al Bantani

Pekik Maulid, suara kencang menggelegar ketika membaca zikir ngadeg dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Pekik Maulid, memotivasi, membangkitkan kembali semangat melawan penindasan kolonial, di saat Banten melemah dan Kolonial menguat atau sedang memekik kerinduan terhadap pemimpinnya yang telah menemu kenali Islam sebagai jalan hidup.

Pendahuluan

Pekik, berdasarkan KBBI yaitu; teriakan, jeritan. Maulid berasal dari kata walada, yuladu, mualid. Maulid isim masdar yang berati kelahiran. Pekik Maulid berarti bacaan keras Zikir.

Dalam prosesi bacaan (zikir) Maulid, ada 7 macam nada. Antara lain: (1).Zikir As-Shala, lafaz zikirnya assalamulai zainul ambiya, (2) Zikir Bissahri, lafaz zikirnya bisyahri robbi inni ba’da nuruuhul a’la, (3) Zikir Tanaqqal, lafaz tannakal la fi asylabi arbabin su’da’in, (4) Zikir Wulida, lafaz wulida habibu wakodduhu m’tawarridho, (5) Zikir Alhamdulillah, lafaz alhamdulillahillazi a’toni, (6) Zikir Badatlana, lafaz badat laa fi robi’inni tola’atul komari. (7) Zikir Ngadeg, lafaz asrokol badru ‘alaina.

Nomor satu sampai enam posisi zikirnya duduk, sedangkan nomor 7 posisi zikirnya berdiri, karena itu disebut Zikir Ngadeg.  Nada dalam zikir ngadeg ini amat sangat keras, seperti terpekik-pekik. Pekik Maulid, artinya zikir Maulid yang memekik.

Pekik Maulid ini muncul pada saat Banten , tertindas, terzolimi, terjajah. Pada saat itu Banten mengalami stagnasi, kekuasaan Sultan telah dibatasi, dikontrol oleh Kolonial hingga kekuasaan Sultan tidak berfungsi lagi yang disebut dalam catatan sejarah, dianeksasi.

Kedudukan sultan telah menjadi bawahan kolonial, diangkat dan digaji, dalam kedudukan sebagai Landrof, di bawah kekuasaan Residen dan juga sebagai embrio terbentuknya kabupaten.

Pekik Maulid pada saat itu, seakan memotivasi masyarakat untuk bangkit dan menyerukan perlawanan terhadap kolonial, hingga muncul pergerakan-pergerakan perlawanan terhadap Kolonial.

Hal itu Maulid pada masa Banten Stagnasi, bagaimana Maulid di Banten masa sebelum stagnasi. Untuk mengetahui Situasi Maulid di Banten sebelum stagnasi, sebelum masa Stagnasi berarti masa Perkembangan dan sebelumnya disebut masa Pertumbuhan. Bagaimana Maulid di Banten pada Masa Perkembangan.

Maulid Masa Perkembangan

Masa Perkembangan Banten berada di dua Fase, Fase Kerajaan dan Fase Kesultanan. Pada Fase Kerajaan, Masa Perkembangan Banten telah dimulai pada Periode Panembahan Maulana Yusuf (1570-1580). Program Kerjanya membangun infrastruktur kota, sarana dan prasarananya. Lalu pada masa putranya, Panembahan Maulana Muhammad telah mengembangkan sistim moneter dengan mencetak mata uang.

Pada Fase Kesultanan: masa Perkembangannya telah dilakukan pada Periode Sultan Abul Mafakhir Ahmad Kanari.

Program kerjanya, menata negara, menggunakan landasan ajaran islam, diantara referensinya adalah; Kitab Markum, Kitab Muntahi dan Kitab Wujudiah.

Pada Periode Sultan Abulmafakhir Ahmad Kanari, Maulid menjadi peringatan rutin kenegaraan, bentuk kegiatannya, keliling kota mengarak “Lambang Kesultanan Banten”

Periode Sultan Abulmafakhir Ahmad Kanari

Tiga kitab tersebut di atas nampaknya memiliki nilai penting bagi Sultan Abul Mafakhir Ahmad Kanari.

Mengingat pentingnya tiga kitab tersebut, sehingga muncul niatan, mengirim diplomasi, menemui penguasa Makkah, Syarfif Jahed. Tujuannya; “ isun mangko anedha, ing Sultan Makkah ing benjing, muradipun Kitab telu punika, lawan isun nedha wong Alim pisan kang mulya pantes dadiya, damar ing Banten”.

Berdasarkan tujuan tersebut, dibuat surat permohonan ditujukan kepada Sultan Makkah, antara lain:

salam dunga kawula katuri ing Sultan iku Sarip Jahed ingkang nama

Lan pinten-pinten kapuji, sakehe ingkang Kautaman, puji kang angiring mangko lawan ati ikhlas tuwan, dunga kang sanitiyasa, saraintan kalayan dalu, ingkang nelesaken ika, kautamaning sakalir, pitung bumi langit ika, ingkang menuhi sakabeh, ing jagating parmodita, kang amimiti karsa, kang amekasi ing kayun, kang agung kang amimesya.

Myang tah ingtusaneki, Nabi Mursal kang wiwitan, kinarya patutup kabeh, Nabi alaihissalam, ba’da sinampunan, sawing king saking puniku, punika atur kawula.

Punika Pajang Bagori, Pojenggei lan Pala, Mangsoyi, Candana, Dedes, Tampaus, Garu sadaya, malih atur kawula, nuhun berekatan iku sakarsa pacatu tuwan. Lan kawula nedha, murading kitab Kawula, Markum, Wujudiah rekeh, kalayan Muntahi tuwan, anedha Murad Tuwan, amba nedha malih tuhu, titiyang alim satunggal

Ingkang ajeng ngajawi, kang kenging kinarya pandham, ing nagari Banten mang ke, kawula angarsa-arsa syaing panuhun kawula, rahajengan kang ingutus, ing syapangat kanjeng tuwan.

Hal yang penting dari permohonan Sultan Abulmafakhir Ahmad Kanari ini adalah telah memiliki landasan politik dalam Kesultanan Banten. Al-Mawahib Ar-Rababaniyah ‘An Asilah Al-Jawiyyah berdasarkan analisis dari ketiga Kitab; Kitab Markum, Kitab Muntahi dan Kitab Wujudiah. Berikut ini rangkuman dari ketiga kitab tersebut.

Hal-hal Lainnya, dari upaya diplomasi dengan Makkah adalah; Pemberian Gelar Sultan untuk Abulmafakhir Ahmad Kanari, lalu penobatan (Jumenenga) melalui perwakilan utusan Sultan Abulmafakhir, yang dinobatkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, sekitar tahun 1636 M, setiap tanggal 12 Rabiul Awwal untuk mengarak Tutunggul, Lambang Kesultanan Banten.”Punika benjang ing saban ing wula Mulud, iderana maring kutha (demikain wewekas dari Sultan Makkah)

Maulid Masa Stagnasi

Sirna Ilang Jumenenga Tinulis Pekik Maulid Timbul.

Mengarak Tutunggul sudah bergeser menjadi mengarak Lehe. Lemahnya kekuasaan kesultanan tidak menyurutkan ingatan pada Ilahi. Prosesi Maulud pada masa stagnasi ini seperti; (1) dilakukan oleh Masyarakat, (2), masyarakat menyiapkan makanan untuk di bawa ke Masjid (3) makanan yang di bawa ke Masjid di hias, menggunakan Lehe (4)di arak dari rumah menuju Masjid (5) pembagian makanannya perlehe. Ada lehe untuk Pezikir, ada lehe untuk Pengeropok, (6) sebelum pembagian makanan, para pezikir membacakan kitab Barjanji. (7) ada 7 nada Zikir, (8) Nada Zikir Ngadeg, atau disebut juga Pekik Maulid,

Suasana peringatan Maulid di Kabupaten Serang, sebelum acara mengarak (foto-Nur/BantenTribun)

Barangkali inilah sebagaimana Candrasengala atau sandi tersebut di atas. Sirna Ilang Jumenenga Tinulis Pekik Maulid Timbul.

Timbulnya pekik Maulid pada Maulid masa stagnasi, seakan- akan untuk membangkitkan semangat, untuk menghadapi penindasan, penjajahan pada masa kolonial atau sedang memekik kerinduan terhadap pemimpin yang menghantarkan pada nilai-nilai ajaran Islam.**

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.