Patung Kuda Sultan Ageng Tirtayasa : Menanti Restorasi dan Berdiri di Pasabilan

Patung Kuda Sultan Ageng Tirtayasa, pernah berdiri gagah di pertigaan Kebon Jahe Kota Serang, sekitar dua puluh tahun silam. Sejak dibongkar penguasa kala itu,  patung artistic itu sempat menghilang. Hingga ahirnya ditemukan teronggok diemperan  perkantoran.

patung kuda
Patung Sultan Ageng Tirtayasa, tergeletak di depan Kantor Kecamatan Pontang (foto Nur.H-BantenTribun)

BantenTribun.id–Sekitar 20 tahun silam,  patung Sultan Ageng Tirtayasa  yang berdiri gagah di pertigaan Kebon Jahe Kota Serang, menjadi ikon dan ciri kota bagi warganya. Nama Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan ke 6 penguasa Banten 3 abad lalu, juga banyak diabadikan. Salah satunya universitas negeri di Kota Serang, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Kabarnya patung ini dikerjakan oleh seniman termashur di Indonesia, sehingga yang bersangkutan  bisa menerawang ujud ekspresi sultan, meski hingga saat ini belum ditemukan sketsa wajahnya.

Meskipun beda periode dengan waktu pembongkaran patung, rupa Sultan Ageng Tirtayasa juga  pernah berpolemik akibat instansi resmi pemerintah daerah memasang foto Sultan Agung Mataram (Jogja) yang diklaim sebagai foto Sultan Ageng Tirtayasa.

Sejak dibongkar oleh penguasa saat itu karena dianggap berhala, patung yang sangat artistik itu sempat  menghilang entah kemana. Sampai akhirnya ditemukan “teronggok” di emperan gudang di kantor sebuah instansi.

“Soal Patung Tirtayasa memang harus dibicarakan secara seksama. Setelah patung itu dibongkar dan ditarik  Dinas PU KabupatenSerang. Setiap 4 bulan sekali  saya bersihkan patung itu dari rusaknya akibat kekayuan tumbuhan Lamtoro, Kedondongan, Abasia dan lainnya,” ujar Ibnu PS Megananda dari Paguyuban Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya, kepada BantenTribun.

Atas inisiatif dari beberapa pegiat seni dan budaya Banten, patung tersebut  lalu dibawa ke Pontang untuk direstorasi.

Namun apadaya, nasibnya justru bertambah miris. Harapan untuk mendapat perhatian Pemda sebagai karya seni untuk apresiasi dan mengenang kebesarannya, justru jauh panggang dari api.

Hingga Senin, 12 Oktober 2020, potongan patung kuda itu masih teronggok di pagar depan Kantor Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang sejak 5 tahunan lalu.

Sementara badan dan kepala sultan, telah diselamatkan dan berpindah tempat ke studio Sultantvco di Banjar Agung, Kota Serang.

“Kami sempat berencana untuk membawa ke Rawa Walantaka, atau ke Situs Surosowan dan sudah dibicarakan juga  diijinkan, bahkan siap dibiayai oleh tokoh setempat. Namun mengingat sejarah Sultan Tirtayasa Ageng Tirtayasa yang pernah mengasingkan diri di pelosok Pontang, maka rasanya lebih baik jika didirikan di sana”, jelas Ibnu.

Menurutnya, dari pelajaran sejarah yang banyak diketahui, Sultan Ageng Tirtayasa  selain pernah mengasingkan diri di Pontang, juga  membangun kekuatan ekonomi dan pasukan, dan  dibuktikan dengan adanya irigasi air, sampai beliau disebut Sultan Ageng Tirtayasa.

“Selain itu juga membangun kekuatan keprajuritan, dengan bukti ada Desa Pasabilan di Pontang, dan memimpin perang Sabil,” ujar Ibnu.

Menurut Ibnu, hampir 3 tahun badan patung itu sempat hilang, namun kemudian  dipinggir jalan daerah Sawahluhur.

“Rupanya badan patung diselamatkan Oji Setiakarya,”

“Atas dasar bahwa sultan akhir hidupnya membangun kekuatan masyarakat di Pontang. serta daya kekuatan jiwa, agamis, kesatria, patriotik bisa dijadikan cermin Pemuda Pontang – Tirtayasa, patung itu kami bawa ke Pontang. Menunggu untuk direstorasi, didirikan, dikenang sejarahnya dan cermin  semangat patriotiknya,” imbuhnya.*(Nur/kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.