Pasutri Asal Jatim Ini Lakukan Perjalanan Umrah dengan Satu Sepeda

Hakam Mabruri dan istrinya Rofingatul Islamiah, pasutri asal yang umrah ke Makkah, Arab Saudi dengan mengayuh sepeda selama setahun. (Foto/Saudi Gazette)
Hakam Mabruri dan istrinya Rofingatul Islamiah, pasutri asal Malang, Jatim, yang umrah ke Makkah, Arab Saudi dengan mengayuh sepeda selama setahun. (Foto/Saudi Gazette)

Pasangan Suami- istri asal Malang JawaTimur, Hakam Mabruri dan Rofingatul Islamiah, melakukan perjalanan umrah ke tanah suci Makkah, Arab Saudi, dengan cara tak lazim. Pasutri ini mengayuh satu sepeda menempuh 12.000 kilometer atau setara  dengan 12 kali jarak Anyer-Panarukan lewat pantura. Pasangan ini melintasi tujuh negara dalam rentang waktu  setahun. 

BantenTribun.id – Pasangan suami istri asal Malang JawaTimur, melakukan perjalanan umrah ke tanah suci Makkah, Arab Saudi, dengan cara tak lazim. Mereka mengayuh satu sepeda dalam perjalanan setahun ke kota suci umat Islam tersebut. Hakam Mabruri dan istrinya; Rofingatul Islamiah, keduanya berusia 35 tahun, membutuhkan waktu setahun untuk sampai ke tanah suci.

Dilansir dari laman sindonews, pasangan  Hakam-Rofingatul, sudah tiba di Makkah setelah mengayuh sepeda yang dibuat khusus untuk mereka melakukan perjalanan umrah. Pasangan Hakam,  melewati tujuh negara dan melintasi jarak sekitar 12.000 kilometer.

Perjalanannya dimulai  pada 17 Desember 2016. Sebelum memulai,  pasangan tersebut menghabiskan 1,5 bulan di kampung halaman mereka di Malang, Jawa Timur, untuk melakukan persiapan.

Hakam dan istrinya sengaja merancang sepeda impian mereka dan mengirimkan desain ke pabrik pembuat sepeda. Sepeda itu membutuhkan dua kursi, pengangkut barang dan dua set pedal untuk menjalankannya.

Perjalanan pasangan ini  mendapat dukungan dari berbagai LSM dan masyarakat yang senang dengan tujuan mereka. Hakam dan Rofingatul telah memutuskan untuk memanfaatkan perjalanan mereka untuk menyebarkan pesan damai Islam di antara orang-orang dari agama lain yang mereka temui di masing-masing negara yang dilewati.

Hakam mengatakan, dia dan istrinya memilih sepeda untuk perjalanan ke Makkah karena melambangkan harmoni dalam kehidupan pernikahan. Yakni, untuk mendorong roda kehidupan ke depan. Pasutri, harus membuat banyak kompromi dan penyesuaian.

”Sepeda mengajarkan orang bagaimana dengan lancar menavigasi melalui pasang surut dalam kehidupan. Untuk naik ke atas mereka perlu bekerja lebih keras dan saat turun mereka harus menjaga segala sesuatu terkendali. Filosofi ini juga bisa diterapkan untuk menghadapi tantangan hidup,” katanya,  seperti dikutip dari Saudi Gazette, Jumat (16/2/2018).

Pasangan  Sarjana

Hakam  seorang sarjana lulusan ilmu pertanian,  dan istrinya seorang psikolog. Tidak sulit bagi Hakam untuk meyakinkan istrinya tentang perjalanan unik itu, karena dia sudah mengenalnya sebagai petualang yang banyak bepergian ke dalam dan luar negeri.

Perjalanan ke Makkah, telah membawa keluarga Hakam lebih dari sekadar berpetualang dan mencari kesenangan. Berita besarnya adalah pasangan yang telah menikah selama empat tahun ini segera memiliki bayi pertama mereka dalam beberapa bulan ke depan. Pasangan  itu berencana  menamai bayi mereka Mukafeh, yang berarti “seorang striver (orang yang berjuang)”.

Sebelum memulai perjalanan, Hakam melakukan persiapan untuk menyesuaikan diri terhadap budaya masyarakat di negara-negara yang akan disinggahi. Dia juga dilatih untuk membantu menjaga perjalanan di jalur yang benar dengan menggunakan teknologi GPS dan Google Maps.

Selain belajar keterampilan memperbaiki sepeda dan memasak, dan menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda, Hakam percaya bahwa petualangan adalah perjalanan spiritual yang mengajarkan orang bagaimana untuk bersabar, mempercayakan segalanya kepada Allah, dan membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan.

Melewati 7 Negara

Perjalanan Hakam, melewati Malaysia, Thailand, Myanmar dan India. Untuk menghindari negara-negara yang dilanda konflik dalam rute tersebut,  mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Yordania dari India dan kemudian ke Mesir hingga akhirnya sampai di Arab Saudi.

Di banyak negara, mereka mendapatkan visa yang dikeluarkan secara online dengan waktu tunggu rata-rata satu bulan. Sepanjang perjalanan, pasangan ini menggunakan perlengkapan tenda untuk beristirahat, memasak makanan sendiri dan minum air minum dengan menggunakan saringan.

Setiap saat, sebelum pindah dari tempat pemberhentian, mereka rutin memeriksa sepedanya dan mengganti ban dan rantai jika perlu dengan bantuan penduduk setempat.

Mereka mengaku tidak memiliki masalah dengan makan makanan dari budaya yang berbeda. Sang istri juga berjuang untuk beradaptasi di beberapa tempat, meski kehilangan berat bada 5 kilogram di salah satu negara yang mereka lewati. Menurut Rofingatun, makanan Thailand dan shawarma Arab adalah favoritnya.

Warga Mesir Sinai yang Ramah

Berbicara tentang berbagai orang yang mereka jumpai selama perjalanan, mereka menemukan orang-orang Mesir di Sinai yang sangat hangat dan ramah.

Menurutnya, meskipun ada ketidaknyamanan di awal pertemuan  dengan orang-orang Sinai, namun pengunjung segera terkejut dengan sifat rendah hati dan ramah yang membuat semua orang betah.

Ditanya bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang-orang yang berbicara  dalam bahasa yang berbeda, Hakam mengandalkan pembicaraan dari hati ke hati dan bahasa isyarat.

Pasangan ini  menghabiskan sebagian besar bulan Ramadan di komunitas Muslim di wilayah selatan Thailand dan kemudian merayakan Idul Fitri di India. Mereka kemudian pergi ke Amman, di mana mereka merayakan Idul Adha.

Di Mesir, pasangan ini mengadakan pertemuan pertama mereka dengan masyarakat campuran berbagai budaya Arab sebelum mereka tiba di Madinah.

Mereka berencana untuk pulang ke rumah dengan pesawat setelah melakukan umrah. Mereka akan membuat negara mereka bangga sebagai pasangan Indonesia pertama yang melakukan perjalanan ke Makkah dengan satu sepeda. Dan jika semuanya berjalan baik, mereka akan naik sepeda lagi dalam beberapa tahun ke depan untuk perjalanan yang sama. Hanya saja, perjalanan ke depannya untuk ibadah haji.*(red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.