Pandeglang Riwayatmu Kini

Pandeglang, Riwayatmu Kini -Muhaimin
Pandeglang, Riwayatmu Kini -Muhaimin

*Oleh : Muhaemin

Minggu 1 April 2018, Kabupaten Pandeglang genap berusia 144 tahun. Ini merujuk pada Staatsblad 1874 Nomor 73 Ordonansi tanggal 1 Maret 1874 yang mulai berlaku 1 April 1874 yang berisi pembagian daerah, diantaranya Kabupaten Pandeglang dibagi 9 distrik atau kewedanaan yakni Pandeglang, Baros, Ciomas, Kolelet, Cimanuk, Caringin, Panimbang, Menes dan Cibaliung.

Namun tulisan ini tidak bermaksud menceritakan kembali sejarah berdirinya Kabupaten Pandeglang karena usia ke 144 sudah firm dan pada 1 April 2018 kita akan menyaksikan dan menikmati perayaan hari jadi.

Akan tambah asyik lagi jika kita sambil menikmati hasil pembangunan. Jangan lupa pula mari kita sedikit berkontemplasi akan apa yang sudah terjadi di kabupaten berjuluk Sejuta Santri Seribu Ulama ini hingga diusia 144 tahun, untuk kemudian bergerak menuju kebaikan-kebaikan hidup bersama.

Sama seperti setahun lalu, perayaan hari jadi atau dengan kata lain pesta perayaan Hari Jadi Pandeglang, tahun ini  dipastikan meriah karena sudah jauh-jauh hari panitia hari jadi mengumumkan susunan acara di sudut-sudut kota, perempatan jalan dan halaman perkantoran.

Banyaknya spanduk pengumuman dan ucapan hari jadi tak ayal membuat pagar-pagar kantor pemerintahan tampak kumuh dan semrawut karena nyaris tidak ada sejengkal pun space yang lowong.

Pesta Hari Jadi kali ini akan diisi banyak acara, sebut saja festival sholawat, pertunjukkan band papan atas, wayang golek, pertunjukan budaya dari berbagi kabupaten/kota di Indonesia, bahkan negara tetangga yang dikemas dalam culture festival.

Aneka lomba dan berbagai macam seremoni lainnya juga sudah digelar jauh-jauh hari. Jalan-jalan protokol di wilayah perkotaan yang selama ini kita saksikan dan rasakan aspalnya terkelupas atau berlubang dalam, pun mendadak ditambal dan rumput-rumput disepanjang trotoar terus dicungkili pasukan oranye.

Tujuannya tentu agar tamu-tamu yang akan datang ke pusat perhelatan pesta yaitu Alun-alun atau Pendopo merasa nyaman dan mendapat kesan bahwa Pandeglang telah berubah.

Tema yang diusung di hari jadi ketiga bagi Bupati dan Wakil Bupati Pandeglang Irna Narulita-Tanto Warsono Arban saat menakhodai Pandeglang, sama dengan tema yang digunakan tahun lalu “Pandeglang Boga Urang” dengan tambahan tema ‘Kita Tingkatkan Prestasi dan Daya Saing untuk Mewujudkan Pandeglang Maju dan Mandiri’.

Perayaan hari jadi yang durasinya cukup lama dan banyak mengundang pesohor diberbagai bidang ini tentu sangat menguras energi, konsentrasi dan mungkin keuangan daerah.

Tidak hanya itu saja, pesta di pusat kota secara otomatis akan membuat Masyarakat Selatan (demikian warga Kabupaten Pandeglang di bagian selatan menyebut dirinya) harus merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa menikmati pesta bersama orang-orang Pandeglang (sebutan bagi masyarakat  Pandeglang yang tinggal di wilayah utara atau perkotaan).

Tidak sekadar merogoh kocek, orang-orang Selatan pun masih harus berjuang menyusuri jalan-jalan yang rusak, gelap saat malam hari, atau menyebrangi jembatan-jembatan bambu untuk sampai ke pusat Kota Kabupaten.

Jika realitasnya seperti ini, penulis sebagai Orang Pandeglang rasanya sangat merekomendasikan, kedepan perayaan hari jadi tidak terkonsentrasi di pusat kota namun diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup warga.

Energi, konsentrasi, bahkan keuangan daerah untuk pesta, dialokasikan untuk memperbaiki infrastuktur vital. Menerangi lingkungan yang gelap gulita serta membangun jembatan-jembatan permanen di pelosok desa, mengentaskan puluhan desa tertinggal serta menyelamatkan ribuan penderita gizi buru akut (stunting) yang tersebar wilayah Pandeglang.

Cara-cara merayakan Hari Jadi dengan mengoptimalkan pembangunan, tentu nilanya akan lebih baik sekaligus meninggalkan kesan lebih mendalam bagi Orang Selatan, karena mereka akan merasa diperhatikan sekaligus menjadi upaya nyata Pemerintah Daerah Pandeglang meniadakan garis demarkasi antara Selatan dan Utara Pandeglang, sekaligus wujud nyata meningkatkan daya saing (masyarakat) serta mewujudkan Pandeglang maju dan mandiri.

Harus diakui, polarisasi keadilan dan pembangunan di selatan dengan utara Pandeglang masih sangat mencolok. Persoalan ini tampanya sulit beranjak dari satu pemimpin ke pemimpin lainnya.

Akibatnya muncul pertanyaan benarkan kemiskinan di Selatan Pandeglang itu sengaja dipelihara? Soalnya kantung-kantung kemiskinan oleh sebagaian teoritikus sosial dianggap sebagai medan empuk para pencari kekuasaan (politisi) mempertahankan kekuasaan atau meraih kekuasaan politik.

Namun, untuk menjawab ini tergantung dari perspektif mana kita memandang. Kaum Marxian (penganut paham Karl Marx Filsup Jerman) tentu bakal menyatakan bahwa ini akibat dari pertentangan kelas akut dan banyaknya kebijakan borjuasi yang mengalienasi hajat hidup rakyat.

Sementara kaum kapitalis, mungkin berpendapat ini konsekuensi dari kemajuan zaman yang akan menggerus mereka-mereka yang tidak siap dengan perubahan baik karena akses terhadap pendidikan rendah maupun minimnya akses terhadap lembaga ekonomi.

Perang terhadap ketertinggalan masyarakat di Selatan Pandeglang, sebenarnya terus digelorakan pemerintah daerah Pandeglang. Masing-masing kepala derah dipastikan memiliki program unggulan untuk memerangi kemiskinan rakyatnya.

Di era kepemimpinan Bupati Erwan Kurtubi-Heryani tahun 2010-2015 misalnya, dikenal dengan program pengentasan desa tertinggal dengan cara setiap OPD (Organisasi Perangkat Daerah) diminta mengalokasikan anggaran/program dengan target 10-15 desa per tahun bisa dientaskan.

Hasilnya dari 143 desa tertinggal, 66 desa dinyatakan berhasil dientaskan dan tercatat masih ada 77 desa lagi yang statusnya tertinggal atau diwarisi ke kepala dareah berikutnya.

Di era kepemimpinan Bupati Irna Narulita-Tanto Warsono Arban, program pengentasan desa tertinggal dilanjutkan namun dengan format yang berbeda. Ini tercermin  dari visi memimpin Irna-Tanto yakni “Terwujudnya Pandeglang Berkah melalui transformasi harmoni agro bisnis,  maritim bisnis dan  wisata bisnis menuju rumah sehat dan keluarga sejahtera 2020”.

Wujud nyata perang Irna-Tanto terhadap kemiskinan adalah menekankan pada pembangunan infrastuktur ekonomi perdesaan melalui pembentukan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) di setiap desa.

Sejatinya, BUMDes merupakan program prioritas pemerintah pusat lewat Dana Desa (DD). Harus diakui BUMDes baru nyata di atas kertas. Belum terlihat kemajuan-kemajuan ekonomi perdesaan lewat BUMDes.

Kemudian gerakan tanam jagung dan kedelai yang digelorakan kepala daerah bekerjasama dengan pemerintah pusat baru-baru ini, juga bisa kita kategorikan sebagai upaya pengentasan kemiskinan.

Program-program ini memang belum terasa hasilnya atau paling tidak tercatat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani atau masyarakat.

Mudah-mudahan dua tahun ke depan segera ada laporan bahwa program ini berhasil. Tidak hanya program yang dijalankan karena masih banyak program lainnya namun secara umum harus dikatakan belum mampu membuat kemiskinan beringsut.

Satu hal lagi yang menjadi PR (pekerjaan rumah) Irna-Tanto adalah tingginya anak-anak di Kabupaten Pandeglang yang terlahir dan tumbuh dalam situasi kekurangan gizi kronis dan akan menjadi anak kerdil (stunting).

Kerdil (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh Balita (Bawah 5 Tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya.

Berdasakan data yang dirilis Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Pandeglang masuk menjadi 100 kabupaten/kota di Indonesia prioritas untuk intervensi anak kerdil (stunting).

Di era kepemipinan Irna-Tanto, Pandeglang juga sangat seksi dimata Presiden RI Joko Widodo.

Betapa tidak, ornang nomor satu di Indonesia itu hilir mudik berkunjung ke Pandeglang dengan membawa serangkaian program percepatan pembangunan seperti penetapan wilayah Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) bidang pariwisata, rencana membuka akses transportasai bebas hambatan atau jalan tol Serang-Panimbang sepanjang 83 kilo meter, rencana reaktivasi Kereta Api Rangkasbitung-Labuan, dan menebar berbagai bantuan yang bersumber dari APBN untuk memacu pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

Lantas, apakah penetrasi pemerintah pusat ini akan berhasil atau setidaknya mampu meminimalisir polarisasi dan kesenjangan antara Selatan dan Utara Pandeglang? Menjawab pertanyaan masih sulit dilakukan. Soalnya semua program ini baru sekadar wacana dan belum satu pun yang terealisasi. Sabar!

Terlepas dari peroalan diatas, di mata penulis, Pandeglang 10 tahun silam hampir sama suasananya dengan hari ini. Wajah Kota begitu lambat berubah. Jalur-jalur utama dari dan menuju pusat kota tetap sempit dan sering rusak bahkan jalanan sudah tak sebanding lagi dengan tingginya volume kendaraan.

Ya 10 tahun terakhir Kabupaten Pandeglang kesulitan beranjak dari kekhasannya sebagai daerah yang terbelakang, sementara gaya dan prilaku sebagian besar warganya dan mungkin termasuk penulis sudah jauh melompat ke alam kemajuan yang modern akibat serbuan teknologi informasi.

Dalam bahasa sosiologi, masyarakat kita mengalami ketertinggalan budaya(cultural lag). Jika ketertinggalan budaya ini melembaga tentu akan berdampak serius dan bisa menciptakan masyarakat yang gegar budaya.

Fenomena gegar budaya bercerikan timpangnya antara kemampuan atau SDM dengan derasnya perkembangan zaman. Rendahnya kemampuan ekonomi atau daya beli masyarakat dibanding dengan pesatnya perkembangan style danfashion. Melempemnya media atau wahana mempertahankan keimanan dan amal saleh dibanding serbuan budaya dan gaya hidup kaum hedon.

Atas persoalan ini, sudah menjadi kewajiban semua elemen harus kembali memperbaiki niat dan visi. Pemimpin dan birokrasi harus lebih serius dan benar-benar bekerja sesuai kebutuhan dan eksepektasi rakyatnya serta mengutamakan pendekatan pembangunan partisipatif dibanding politis dan oligarkis.

Kemudian semua elemen masyarakat meningkatkan kesadaran bahwa selama ini kita hidup disebuah daerah yang terbelakang. Memunculkan kesadaran ini penting karena sebuah derah tidak akan maju dan berkembang jika dihuni manusia-manusia egois yang mementingkan urusan jangka pendek dan kelangsungkan diri, keluarga, dan golongannya semata.

Indonesia sudah sangat merindukan Pandeglang bangkit dan rakyatnya sejahtera karena tulang punggung moralitas bangsa ini terletak di Kabupaten Pandeglang sebagai tempat lahirnya santri dan bermukimnya para ulama. **( Penulis warga Ciekek  Babakan Karaton-Pandeglang)

 

 

2 KOMENTAR

  1. Kita ucapkan Selamat Dirgahayu Kabupaten Pandeglang ke-144. Meriahnya acara hari jadi seiring dengan merayakan kemenangan yang menduduki kepentingannya. Ironis membaca tulisan di atas bahwa 10 tahun yang lalu hampir sama dengan tahun sekarang ini.

  2. Gempita perayaan Hari Jadi Kota Pandeglang yg ke 144 ini terasa tercium aromanya 2 minggu sebelumnya,banyak kegiatan dan acara yang dirancang, baik dari seni,budaya bahkan olahraga, tidak sedikit kalangan yg memberikan ucapan Hari Jadi Kota Pandeglang yg ke 144 dengan membuat spanduk yg di pajang di seputaran alun2 kota pdg, membuat kumuh sih iya… merusak pemandangan pun itu sudah pasti…. tapi itu WAJAR…. toh hanya se tahun sekali…. semoga di hari jadi nya yg ke 144 ini…kejayaan Dan kemakmuran bisa di dapatkan dan diraih seperti Tempoe Doleoe

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.