Pandeglang dan Sisi Modernitas

M. Ogie Nugraha- Pandeglang dan Sisi Modernitas
M. Ogie Nugraha- Pandeglang dan Sisi Modernitas

*Oleh : M Ogie Nugraha

Pandeglang masih “keukeuh” pada jati diri aslinya yaitu masyarakat yang tradisional dan agamis serta menafikkan klaim-klaim modernitas yang kini mewabah hampir diseluruh penjuru dunia. Meskipun menolak formalitas peradaban modern, namun bentuk turunan dari modernitas sesungguhnya sudah masuk dalam budaya dan pergaulan sosial di masyarakat secara informal. Akan lebih sebanding, ketika secara ekonomi masyarakat pandeglang mendapatkan porsi kehidupan yang lebih layak ketimbang kita hanya menjadi korban kemajuan teknologi belaka lalu terdiam disudut sepi sambil menunggu mati.

Fenomena di Masyarakat

Ditengah-tengah era digitalisasi, teknologi informasi, modernisasi, globalisasi dan berbagai jargon lainnya, Kabupaten Pandeglang saat ini masih asyik dengan kesendiriannya, hidup dalam transformasi menuju modernisasi setengah hati, padahal jarak dari ibu kota Negara hanya sekitar 100 km. Jakarta jelas merupakan miniatur peradaban modern di Indonesia namun Kabupaten Pandeglang seakan enggan untuk bersentuhan dengannya. Pandeglang masih “keukeuh” pada jati diri aslinya yaitu masyarakat yang tradisional dan agamis serta menafikkan klaim-klaim modernitas yang kini mewabah hampir diseluruh penjuru dunia.

Meskipun menolak formalitas peradaban modern, namun bentuk turunan dari modernitas sesungguhnya sudah masuk dalam budaya dan pergaulan sosial di masyarakat secara informal. Keberadaan telepon genggam android atau IOS dengan berbagai aplikasi media sosialnya, serta jaringan internet yang sudah merambah ke hampir semua kecamatan merupakan indikator bahwa modernisasi sesungguhnya sudah masuk bahkan jauh-jauh hari ketika televisi dan radio pada saat itu sangat popular sebagai media transformasi masyarakat menuju peradaban modern.

Namun demikian, proses modernisasi masyarakat hanya terbatas kepada ide dan gaya hidup belaka dan tidak pernah menyentuh sisi ekonomi masyarakat guna mengangkat tingkat kesejahteraanya. Bahkan modernisasi hanya menimbulkan masalah sosial baru yang berujung terjadinya degradasi moral yang sangat kentara dimasyarakat.

Modernisasi tidak pernah dimanfaatkan secara optimal dalam rangka meningkatkan taraf hidup yang lebih baik secara ekonomi. Modernisasi dimaknai sebagai pergeseran gaya hidup dari memakai sarung diganti dengan celana jeans bermerk, lalu nongkrong ditempat-tempat berkelas (diluar Pandeglang) dengan HP android atau apple di tangan sambil menikmati sentuhan musik jazz supaya tampak ekslusif dan “modern”.

Modernisasi dimaknai secara sederhana dan sempit, namun tidak pernah mendapatkan reaksi yang keras dari siapapun, menganggap hal wajar karena itu merupakan hak seseorang untuk melakukan apapun selama tidak melanggar aturan agama. Padahal gambar-gambar yang bertebaran lewat grup whatsApp misalnya jika harus diungkap begitu marak pornografi atau hal-hal lain yang tidak pantas untuk dipublikasi.

Ini adalah modernisasi (perubahan sikap/mental sesuai tuntutan jaman/kekinian/jaman now) namun memiliki dampak yang sangat buruk, dan kita tidak pernah berdemo menolak kehadiran whatsapp di Pandeglang.

Namun ketika sistem perekonomian akan dimodernisasi dengan ide-ide kreatif dan berbagai macam investasi dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka kita mulai gelisah, bereaksi dengan sangat keras dan lantang menolak itu semua. Rencana kehadiran (yang katanya) Mall Giant di Saruni atau kehadiran Mayora di Cadasari dan beberapa rencana investasi besar beberapa tahun ke belakang disikapi sebagai bentuk penjajahan ekonomi gaya baru yang akan mematikan perekonomian rakyat kecil.

Penolakan berbagai macam investasi secara ekonomi ini merupakan salah satu contoh yang sangat mencolok mata untuk diamati, bahwa sebagian kecil masyarakat kita sangat alergi terhadap investasi ketika secara ekonomis mereka dirugikan, padahal akan ada ribuan masyarakat pandeglang yang diuntungkan dengan tumbuhnya investasi terutama dari penyerapan tenaga kerja baik pada sektor formal maupun informal.

Lalu disektor Pariwisata misalnya sebagai salah satu sektor unggulan Kabupaten Pandeglang, seakan mati kutu untuk maju dan berkembang ketika di cap dengan stigma bahwa “pariwisata adalah maksiat”. Stigma ini menyebabkan investor berfikir ribuan kali untuk bersama-sama membangun pariwisata di Kabupaten Pandeglang, padahal pariwisata dapat tumbuh dengan baik ketika investasi dapat berkembang dengan baik di sektor pariwisata, karena investasilah yang akan mendatangkan kunjungan wisatawan dalam skala yang massif.

Jika dalam arah kebijakan pemerintah daerah salah satunya modernisasi destinasi wisata, maka investasilah yang dapat memodernisasi itu dengan baik yang berorientasi kepada pasar atau sesuai dengan minat pasar kekinian.

Slogan Pandeglang sebagai kota wisata lalu menjadi masalah karena Pandeglang adalah kota santri, kota yang dibangun para ulama dengan santrinya. Ulama hanya ingin menjaga apa yang telah dibangun selama ini tetap lestari dalam kearifan lokal, dan tentu hal ini harus kita hormati sebagai bentuk kepedulian ulama terhadap kota Pandeglang.

Namun demikian , disisi lain Pandeglang juga perlu sejahtera, memerlukan sumber kehidupan untuk bertahan hidup dan meningkatkan taraf kehidupan keluarganya dan Kabupaten Pandeglang memiliki potensi wisata yang sangat besar untuk dikembangkan guna mendongkrak tingkat perekonomian masyarakatnya. Ini tentu merupakan tantangan yang harus dijawab oleh pemerintah daerah dengan serangkaian kebijakan yang dapat mengakomodir semua pihak.

Peranan Pemerintah Daerah Kabupaten-Propinsi

Kehadiran pemerintah daerah saat ini masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat karena Pandeglang masih berada pada tahap transisi. Ketika proses peralihan terjadi maka akan banyak timbul permasalahan yang harus direspon oleh pemerintah daerah dengan cepat. Dialog-dialog informal harus terus dibangun dengan kerangka yang telah disusun dapat menguntungkan semua pihak (win-win solution).

Pemerintah daerah sejatinya hadir menjawab semua kegelisahan masyarakat, menjadi pelopor pembangunan yang dapat menjawab kenaikan tingkat perekonomian namun sisi religiusnya tetap terjaga dengan baik.

Menjadikan Pandeglang kota santri sekalipun bukan sebuah permasalahan yang mendasar karena jika melihat Ponpes Modern Latansa misalnya di Kabupaten Lebak, Kecamatan Lebakgedong tumbuh menjadi kecamatan yang lumayan besar seiring dengan pertumbuhan pondok pesantren itu sendiri, meskipun memang harus dihitung kembali berapa signifikan kehadiran pondok pesantren terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Atau mungkin kita akan meningkatkan sektor pariwisata namun sisi religiusnya tetap terjaga, seperti halnya di Lombok atau Banyuwangi.

Hal-hal seperti ini yang harus dapat diperhitungkan oleh pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten terkait arah kebijakan pembangunan yang akan dilaksanakan kedepan. Jika memang diantara kacamata masyarakat melihat terjadinya pertentangan yang serius antara wisata dan sisi religius maka pemerintah daerah hadir sebagai jalan tengah memberikan solusi yang terbaik untuk kemajuan Pandeglang baik secara ekonomi maupun dari sisi religius.

Inti dari semua pengelolaan manajemen pemerintahan adalah tentu bagaimana dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi, namun demikian pemerintah dituntut berpikir keras ketika ada dua hal yang seakan-akan kontradiktif namun sebetulnya bisa diupayakan untuk saling melengkapi satu sama lain sebagai sebuah kekuatan yang maha dahsyat untuk sejajar dengan daerah lainnya yang telah maju.

Kesimpulan

Kabupaten Pandeglang saat ini berada dititik persimpangan, antara merespon perubahan zaman atau masih terus menikmati romantisme suasana tradisonal, meskipun pada hakikatnya modernisasi sudah merasuk dengan sangat dahsyat.

Pilihan ada pada kita sekarang mau dibawa kemana Pandeglang dimasa-masa yang akan datang. Argumen-argumen tentang kesalehan sosial dan kearifan lokal yang dikumandangkan jangan sampai terhenti hanya kepada kepentingan pribadi atau kelompok dengan menghilangkan hak-hak orang lain untuk bisa bekerja dan menikmati hidup layak.

Efek domino globalisasi akan terus merambah setiap sisi eksklusivitas kehidupan masyarakat Pandeglang. Gelinding bola salju akan semakin membesar dan tidak bisa dibendung lagi seiring dengan kebutuhan masyarakat akan informasi, maka kita tidak punya pilihan lain karena kita sebetulnya sudah terlibat didalamnya.

Manajemen pengelolaan modernisasi mungkin lebih elok jika diarahkan kepada hal-hal yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat ketimbang gaya hidup yang justru akan membelenggu kita. Mungkin investasi juga akan memicu terjadinya hedonisme tapi akan lebih sebanding ketika secara ekonomi masyarakat pandeglang mendapatkan porsi kehidupan yang lebih layak ketimbang kita hanya menjadi korban kemajuan teknologi belaka lalu terdiam disudut sepi sambil menunggu mati. Wallahu’alam **(M. Ogie Nugraha, Staff Bappeda Kabupaten Pandeglang)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.