Pakar Keamanan Siber Amerika Yakin Pemungutan Suara Di Negaranya Aman Dari Peretas

Pakar keamanan Siber Amerika yang juga pengusaha di bidang itu meyakini bila proses pemungutan suara di negaranya bakal aman dari peretas.

keamanan siber

BantenTribun.id- Pakar keamanan Siber yang juga pengusaha dibidang itu, Robert Herjavec berusaha meyakinkan warga Amerika soal jaminan keamanan sistem pemungutan suara di Amerika.

Pendiri sekaligus CEO Herjavec Group itu mengatakan pemerintah Amerika Serikat telah menempuh jalan panjang soal perbaikan sistem keamanan siber.

“Pemerintah telah berupaya melakukan pencegahan peretasan termasuk mencegah dari peretas tidak bertanggungjawab, yang berasal dari dalam maupun luar Amerika.” Ungkap Herjavec pada CNBC.

Pria 58 tahun itu juga mengatakan Amerika kini punya mesin pemindai canggih, dimana siapapun yang ingin mengakses atau merubah perlu kehadiran secara fisik.

Selanjutnya keyakinan Herjavec juga didukung oleh upaya media sosial seperti Twitter dan Facebook dalam memantau informasi yang salah alias hoax yang diposting di kedua media itu.

“Jika media sosial membuat orang percaya bahwa sesuatu telah terjadi, orang akan kehilangan rasa integritas pemilu dan saya optimis pemerintah telah melakukan pekerjaan dengan baik.” Ungkap Herzavec, pria yang juga menjadi investor di Shark Tank.

Ia juga meyakini, Facebook, Twitter, bahkan Zoom, benar-benar membatasi soal informasi palsu di luar sana. “Jadi saya pikir itu pasti lebih baik daripada sebelumnya, “Imbuh Herzavec.

Seperti ditulis CNBC, bulan lalu telah terjadi insiden siber dimana pejabat Amerika Serikat menduga bahwa Rusia dan Iran telah memperoleh data pemilih Amerika, dan berupaya mempengaruhi pemilih.

Namun Harjovec sekali lagi mengatakan, bila sistem pemilu di negaranya tangguh dan meyakinkan publik bahwa suara mereka tetap aman.

Pria yang juga penasihat kemanana siber Kanada itu mengatakan salahsatu insiden siber yang berbahaya adalah Ransomware. Tapi ia mengatakan bila peretas sebenarnya tidak peduli dengan penghitungan suara yang sebenarnya.

“Saya sendiri tidak mengkhawatirkan hasil sebenarnya … tetapi saya khawatir tentang sifat perseptifnya,” tambahnya.“

Ada banyak media palsu, kiriman media sosial palsu, tapi Facebook, Google, Twitter, mereka semua menyiapkan ruang perang virtual ini. Orang sudah siap. Saya yakin bahwa orang Amerika dapat mempercayai suara yang mereka lihat.” Pungkasnya. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.