Pagi Hari di “Kampung Surabi” Cidangiang Majasari

Di Kampung Surabi Cidangiang Majasari ini, pembuat kue serabi ternyata sudah turun temurun hingga generasi ke tiga. Mulai pukul 3 pagihari, kuliner “jadul”berbahan beras ini sudah siap tersaji untuk dinikmati.

kampung surabi
Hani didepan tungku surabi (BantenTribun)

Pandeglang,BantenTribun.id-Tangan Hani (45), terlihat sibuk melayani pembeli di depan tungku api.  Di bagian dapur rumah yang sangat sederhana inilah kuliner legendaris “surabi” diproduksi untuk segera didistribusi ke daerah sekitar di kota santri.

Hani dan 5 orang pedagang lainnya di Kampung surabi Cidangiang, Kecamatan Majasari, Pandeglang ini,  ternyata sudah membuka lapak dagangannya sejak pukul 3 pagihari.

Di Kampung surabi ini pula, olahan  kuliner berbahan dasar tepung beras dan santan itu, ternyata menjadi usaha turun-temurun  seperti “dinasti” dan sudah memasuki generasi ketiga.

“Saya mulai dagang surabi ini setelah ibu sering sakit dan sudah nggak kuat masak surabi ini, pak,” terang Hani, kepada BantenTribun,Sabtu, 25 Juli 2020.

“Sekarang anak saya itu yang buat surabi. Kalau dulu ibu, juga melanjutkan usaha orangtua dulu. Jadi sudah sekitar 50 tahun-an lah berdagang surabi disini,  ” imbuh mbok Hasma (75), orang tua Hani yang saat itu ikut duduk tak jauh dari tungku.

Dalam sehari, Hani menghabiskan sedikitnya 10 liter beras untuk digiling menjadi tepung sebagai bahan baku utama. Penggunaan santan, didapat langsung dari buah kelapa yang diparut manual.

Dari 10 liter beras itu, menurutnya bisa menghasilkan sekitar 150 lebih ‘setangkep surabi’ (berisi 2 keping) berdiameter 7 cm.

“Harga setangkep surabi Rp2500. Tapi kalau untuk pedagang keliling untuk jualan  lagi harganya Rp2000. Ya lumayan pak, untuk menutupi biaya sehari-hari dan biaya sekolah anak,” jelas Hani.

Pedagang Surabi di daerah Lopang, Pasar Lama Serang (foto Nur.H/ BantenTribun)

Surabi di Kampung ini memang hanya dikenal satu varian saja, yakni gurih asin.  Jika pembeli menghendaki surabi ‘bertoping, harus membawa sendiri.

“Ada yang pesan ditambah oncom, telor, atau gula merah. Biasanya pembeli bawa sendiri, kita bisa masakkan,” ujarnya.

 

 Cara Masak Surabi Masih Tradisional

Memasuki gang Masjid di Kampung Cidangiang ini, membuat surabi masih dengan cara tradisional.

Sumber panas untuk tungku masak menggunakan kayu bakar sisa pabrik olahan kayu.  Wadah cetakan surabi, terbuat dari tanah liat dan disusun berderet diatas rangka besi.

Tak heran, di dapur produksi surabi ini rata-rata ruangan bangunan terlihat menghitam akibat sering terkena asap.

“Kalau untuk kayu bakarnya tidak usah beli, tinggal minta ke pabrik gergaji kayu disini,” ujar Hani.

Menurutnya, pedagang surabi di tempatnya tidak ada yang berminat pindah atau membuka lapak dipinggir jalan, atau menambah variasi rasa dengan taburan toping seperti daerah lainnya, sehingga menjadi makanan camilan kekinian.

surabi cidangiang

“Ngak ada yang minat buka dipinggir jalan pak, juga nggak pake tambahan untuk rasa. Dagangnya cukup di rumah saja, dan bukanya setiap hari mulai jam 3 sampai jam 9 pagi. Kalau harus buka malam hari tertalu cape,” kata Hani.

“Surabinya enak gurih, saya suka yang agak gosong,” kata Iwan, pembeli dari Kampung Mengger Kaduhejo.

Jadi, jika melintas di Kampung Cidangiang ini, coba saja surabi, camilan yang  identik untuk  sarapan pagi.

Meski tanpa inovasi, Surabi Kampung Cidangiang ternyata bisa menjadi dinasti. Tapi, apakah semua dinasti tanpa inovasi, juga identik Surabi?.(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.