Perjuangan Jamu Njonja Meneer Belum Berakhir

Kuasa hukum PT Njonja Meneer, Andar Sidabalok (kiri) dan Arnol Sinaga (kanan), menyatakan, perjuangan perusahaan jamu legendaris ini belum berakhir (Foto: Jefri Marpaung – BantenTribun).

Jakarta, BantenTribun.id — Kuasa hukum PT Njonja Meneer, Andar Sidabalok, dan Arnol Sinaga, menegaskan, perjuangan perusahaan jamu legendaris asli Indonesia ini belumlah berakhir. Perusahaan yang sudah berdiri sejak tahun 1919 ini masih melakukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung RI demi membatalkan putusan Pengadilan Niaga Semarang yang menyatakannya pailit.

“Batas akhir dari waktu pengajuan permohonan kasasi belum terlewati. Kami, selaku kuasa hukum PT Njonja Meneer, sudah menyusun memori kasasi untuk segera didaftarkan ke Mahkamah Agung RI. Dengan kata lain, secara hukum, putusan Pengadilan Niaga Semarang pada tanggal 3 Agustus 2017 tentang kepailitan PT Njonja Meneer itu belumlah menjadi sebuah keputusan hukum yang tetap (inkracht),” kata Andar Sidabalok kepada BantenTribun,  di kantornya, Jalan Sunan Sedayu Nomor 18, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (9/8).

Menurut Andar, yang didampingi mitranya, Arnol Sinaga, putusan Pengadilan Niaga Semarang itu tentunya merupakan produk hukum yang harus dihormati.

“Namun, kita juga tentu harus menghormati keberadaan upaya kasasi yang dimungkinkan oleh sistem hukum di negeri ini, sehingga harus tetap berhati-hati dan jangan terlalu terburu-buru dalam menyikapi setiap putusan di pengadilan tingkat pertama,” kata Andar.

Dalam kesempatan itu, kuasa hukum PT Njonja Meneer lainnya, Arnol Sinaga, menambahkan, Kamis (10/8) ini mereka terbang ke Semarang untuk menghadiri undangan rapat dengan para kreditur dan kurator.

“Rapat ini merupakan salah satu tahapan yang memang harus dijalani dalam perkara kepailitan. Meski begitu, agenda rapat ini tidak menghambat proses pengajuan permohonan kasasi, demi menjaga tidak terlewatinya batas akhir pendaftaran ke Mahkamah Agung,” kata Arnol Sinaga.

Kronologi Pailit

Keputusan pailit terhadap Njonja Meneer ditetapkan pada sidang di Pengadilan Niaga Semarang, Kamis (3/8), yang dipimpin Hakim Ketua, Nani Indrawati, karena perusahaan jamu bersejarah itu dinilai telah gagal dalam membayar kewajiban utangnya kepada salah satu krediturnya.

Gugatan pailit terhadap Njonja Meneer itu diajukan salah satu krediturnya asal Kabupaten Sukoharjo, Hendrianto Bambang Santoso, yang selama hampir 70 tahun dikenal sebagai pemasok bahan baku kepada perusahaan jamu di Kota Semarang tersebut.

Pemohon menyatakan, Njonja Meneer tidak memenuhi kewajibannya membayar utang sebesar Rp 7,04 miliar.

Putusan pailit itu telah sekaligus membatalkan kesepakatan perdamaian yang dinyatakan sah oleh hakim Pengadilan Niaga Semarang dalam sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) tanggal 8 Juni 2015.

Pada perjanjian perdamaian itu, disepakati PT Njonja Meneer akan secara bertahap membayar utangnya kepada 35 kreditur sebesar kurang-lebih Rp 168 miliar selama 3-5 tahun, dengan batas-batas termin pembayaran yang telah ditentukan.

Dari pembatalan perjanjian perdamaian itu, Njonja Meneer dinyatakan pailit. Dan, dengan putusan pailit itu, ditunjuklah kurator untuk menyelesaikan kewajiban Njonja Meneer kepada krediturnya.

Misteri Pembatalan Perdamaian

Proses pembatalan perdamaian PKPU yang dimohonkan Hendrianto itu, yang berujung pada putusan pemailitan Njonja Meneer, melahirkan misteri tersendiri yang mengundang banyak spekulasi.

Presiden Direktur PT Njonja Meneer, Charles Saerang, mengaku kaget, kecewa, dan sangat tidak mengerti dengan langkah yang diambil Hendrianto.

Menurut Charles, kredit itu merupakan utang berjalan, di mana PT Njonja Meneer mengambil barang kepada Hendrianto selaku pemasok bahan-bahan jamu, seperti jahe, temulawak, sambiloto, dan pegagan.

“Bahkan, hingga tanggal 18 Mei 2017, kami masih ambil barang kok dari dia. Kalau ada utang, biasalah, namanya juga perusahaan besar, pasti berutang. Bisnis ini kan jalan terus. Kalau dinyatakan kami berutang puluhan tahun, saya rasa nggak juga,” kata Charles.

Pihaknya, lanjut Charles, sudah menjalin hubungan bisnis yang baik dengan kreditur tersebut selama hampir 70 tahun.

Setelah Hendrianto melayangkan gugatan pailit, Charles mengaku telah berupaya melakukan komunikasi dan bermusyawarah dengan pihak mitra bisnisnya tersebut. Namun, gugatan itu tidak juga dicabut, dan keputusan pailit pun kemudian dikabulkan.

“Saya nggak mengerti, kenapa hubungan baik jadi berubah seperti ini. Kami sudah seperti keluarga. Saya nggak mengerti, ada apa dengan dia, dan bagaimana (sisi) emosinya. Kok tega sekali,” kata Charles.

Ia pun, melalui kuasa hukumnya, Andar Sidabalok dan Arnol Sinaga, berencana mengkritisi UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU.

“Saya akan terus berjuang hingga upaya hukum terakhir. Saya juga berencana membawa masalah ini kepada DPR RI, agar aspirasi saya didengar. Saya sendiri sudah memberikan penjelaskan kepada Kadin (Kamar Dagang dan Industri) kenapa ini bisa terjadi,” kata Charles Saerang, yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri.

Hendrianto hanyalah satu dari 35 kreditur PT Njonja Meneer. Dan, Hendrianto pun bukanlah kreditur terbesar di PT Njonja Meneer. Wajarlah kalau kemudian sejumlah pihak mengaku terkejut dengan langkah yang dilakukan Hendrianto.

Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia sendiri menyayangkan status pailit yang disematkan kepada Njonja Meneer. Sampai saat ini, perusahaan asli Semarang, Jawa Tengah, itu masih dianggap sebagai perintis awal berkembangnya industri jamu.

“Bisa dibilang, Njonja Meneer itu pelopor. Bagi kami, Njonja Meneer sudah mencetak sejarah, karena bisa bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Hampir satu abad,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia, Dwi Ranny Pertiwi, di Jakarta, Selasa (8/8).

Menurut Dwi, sebagai seorang pelaku ekonomi yang menjalankan bisnis di bidang yang sama, ia menganggap wajar apabila perusahaan seperti Njonja Meneer memiliki utang.

Berdasarkan informasi yang diterima asosiasi, antara pemohon (Hendrianto –red) dan PT Njonja Meneer telah sepakat untuk melunasi utang yang dimiliki dengan cara mencicil hingga 2020. Namun, Dwi mengaku terkejut, karena perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1919 itu ternyata kemudian dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang.

“Dalam berbisnis itu, wajar saja kalau ada utang. Tapi sebetulnya sudah ada kesepakatan. Hanya mungkin yang memohon tidak sabar,” kata Dwi.

“Korban” Kesederhanaan Kepailitan

Sementara itu, anggota Komisi III DPR RI, Taufiqulhadi, menilai, PT Njonja Meneer telah menjadi “korban” dari relatif mudah dan sederhananya syarat mengajukan pailit di Indonesia.

“Debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur, lalu tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang jatuh waktu dan dapat ditagih, bisa dinyatakan pailit oleh pengadilan, baik atas permohonan sendiri maupun satu atau lebih krediturnya,” kata Taufiqulhadi melalui keterangan tertulisnya, Rabu (9/8).

Taufiq mengatakan, jika debitur atau satu kreditur mengajukan permohonan pailit, atau tidak menerima rencana dan pelaksanaan PKPU, maka perusahaan itu akan dipailitkan oleh pengadilan.

“Dalam konteks itu, maka sesungguhnya negeri ini dalam situasi darurat kepailitan. Sebab, nyaris semua perusahaan memiliki utang, dan sedikitnya ada dua pemberi utang (kreditur). Sehingga, setiap waktu dapat dipailitkan melalui pengadilan,” kata Taufiq.

Terkait dengan kepailitan Nyonya Meneer, ia menilai, sebenarnya perusahaan jamu itu —terhitung per Juni 2015— telah menjalani PKPU. Namun, pembayarannya melalui bilyet giro disebutkan beberapa kali tidak bisa diuangkan oleh kreditur.

“Maka, seorang kreditur, yaitu Hendiarto Bambang Santoso, yang tercatat memberikan pinjaman sekitar Rp 7 miliar, mengajukan permohonan kepailitan, dan dikabulkan pengadilan. Padahal, perusahaan jamu yang sudah berdiri sejak tahun 1919 ini, yang telah menjadi tempat menggantungkan hidup sekitar 1.300 karyawan dan keluarganya, memiliki aset yang sangat banyak dan jumlah krediturnya pun 35. Tetapi, karena permohonan satu orang kreditur saja, dengan pinjaman hanya sekitar Rp 7 miliar, Njonja Meneer langsung dipailitkan,” kata Taufiq.

Ia mempertanyakan, ke depan bagaimana dapat menyelamatkan perusahaan-perusahaan dari darurat kepailitan? Ini sangat penting, karena perusahaan-perusahaan itu hakikatnya merupakan energi ekonomi nasional, energi ekonomi bangsa, yang terkait langsung dengan pertumbuhan ekonomi, kehidupan, dan peningkatannya.

“Karenanya, meskipun dalam kepailitan kita hanya memiliki satu undang-undang, yaitu UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, kita berharap majelis hakim kepailitan dan kurator tetap mengedepankan penyelamatan perusahaan, bukan kepailitan. Sehingga, sambil menunggu perhatian DPR untuk melakukan amandemen UU Kepailitan, perusahaan-perusahaan, khususnya yang bersifat padat karya karena mengelola hajat hidup orang banyak, bisa selamat dari pailit. Sebab, hanya dengan demikianlah perusahaan makin sehat, produktif, dan mendorong full employment menuju pertumbuhan ekonomi rakyat yang sustainable,” kata Taufiq.

Aset Nasional Sarat Sejarah

Perusahaan jamu Njonja Meneer, yang identik dengan foto wanita berkonde ini, boleh dibilang telah menjadi aset nasional yang sarat sejarah, karena ia telah berdiri sejak tahun 1919, atau sekitar 26 tahun sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia.

Awal mula bisnis jamu Njonja Meneer ini berkat tangan dingin Meneer, panggilan masa kecil Lauw Ping Nio, dalam meracik ramuan jamu. Pada mulanya, perempuan keturunan Tionghoa-Jawa ini meracik jamu untuk obat suaminya.

Hal itu ia lakukan di tengah keterbatasan dan keprihatinan masa pendudukan Belanda di awal 1900-an.

Racikan aneka tumbuhan dan rempah yang diminum suaminya ternyata mujarab. Padahal, berbagai pengobatan tidak mampu memulihkan kondisi sang suami tercinta.

Para kerabat dekat di Semarang pun segera mencium tangan dingin Njonja Meneer untuk meracik jamu. Sosoknya yang peduli pada orang sekitar membuat dia dengan senang hati meracik untuk mereka sakit demam, sakit kepala, masuk angin dan terserang berbagai penyakit ringan lainnya. Sebagian besar yang mencoba racikan jamu itu puas.

Meneer pun menjadi lebih bersemangat untuk melatih kemampuannya dalam meramu obat tradisional, terutama herbal warisan orangtuanya.

Semakin banyak yang merasakan khasiat jamu racikan Njonja Meneer, semakin banyak pula permintaan kepadanya untuk mengantarkan sendiri jamu yang belakangan mulai dikemasnya itu.

Kesibukan Njonja Meneer di dapur tidak memungkinkan untuk memenuhi permintaan itu. Dengan berat hati, ia meminta maaf. Sebagai gantinya, ia mencantumkan fotonya pada kemasan jamu buatannya.

Penggunaan potret di merek produk zaman dulu merupakan tindakan yang lazim dilakukan para pelaku usaha.

Kemasan produk hasil racikan keturunan Tionghoa memang sering memakai potret pendirinya sebagai jaminan kalau produknya memang berkualitas. Tak ada yang keberatan, tak ada pula yang menduga bahwa di kemudian hari jamu dengan potret seorang wanita ini melegenda.

Kontribusi perusahaan jamu Njonja Meneer di industri perdagangan nasional itu diakui pula oleh akademisi dan praktisi bisnis dari Universitas Indonesia, Rhenald Kasali.

Menurut Rhenald, selama puluhan tahun, beberapa merek Njonja Meneer dikenal sebagai jamu dengan kualitas yang mujarab di masyarakat dan memiliki prospek bisnis yang mentereng. Sebut saja, misalnya, minyak telon. Sungguh sayang jika merek-merek tersebut ikut tenggelam dengan dipailitkannya perusahaan.

“Meski kurang inovasi, tapi produk Njonja Meneer itu bagus-bagus. Kalau diinovasikan oleh pihak yang punya uang (modal), pasti bakal bagus sekali. Kayak minyak telon, itu kebutuhannya besar sekali di Indonesia. Hampir semua bayi pakai minyak telon. Kemudian jamu habis melahirkan juga bagus sekali. Sayang kalau kemudian perusahaan itu dimatikan,” kata Rhenald.

Salah satu kontribusi terbesar Njonja Meneer dalam industri perdagangan di Indonesia adalah penciptaan sistem “titip-jual” (konsinyasi). Siapa sangka, pola perdagangan dengan sistem konsinyasi ini, yang kini diberlakukan nyaris di semua jenis kegiatan perdagangan, ternyata dipelopori oleh PT Njonja Meneer. (yukie /jefri.fm).*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.