Nilai Penting Maulid Di Banten

 

nilai penting maulid di banten

Oleh :  Ki  Najib Al-Bantani

(Waketum Bidang Budaya Perkumpulan Urang Banten)

Nilai penting Maulid di Banten, bertepatan dengan peringatan Banten sebagai Kesultanan yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal, ditetapkan oleh Khalifah dari Mekkah Syarif jahid, meski tahun penetapannya tidak diketahui.

Yang diketahui adalah tahun ke berangkatan ke Mekkah pada 1634 , sekitar pertengahan 1634, atau bulan Juni,  konversi ke Hijriyah, bulan Muharram tahun 1044.

Perjalanan sekitar 3 bulan, berarti sampai di Makkah sekitar bulan Agustus, atau bertepatan dengan bulan Rabiul Awwal 1044 H. Setelah diselenggarakan penyambutan, beberapa hari kemudian sekitar tanggal 12 Rabiul Awwal 1044, Abul Mafakhir ditetapkan sebagai gelar Sultan.

Berdasarkan versi yang lain, penetapan gelar Sultan setelah selesai pembahasan 10 persoalan di Negri Banten sekitar tahun 1636, yang bertepatan tahun 1046  H, 12 Rabiul Awwal 1046 H.

Kembali ke Banten, tahun 1638, peringatan Banten sebagai Kesultanan, diawali pada tahun 1638. Berdasarkan Conversion Table of Dates, tahun Hijriyahnya jatuh pada tahun 1048.

Jadi peringatan penetapan Banten sebagai Kesultanan, jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 1046 H dan diperingati pertama kali di Banten pada tahun  1048 H, / 1638 M.

Pendahuluan

Maulid dalam perjalanan sejarah bervariasi. Maulid telah menjawab tantangan pada masanya. Maulid dalam catatan sejarah memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad yang diperingati setiap tangal 12 Rabiul Awal.

Maulid secara maknawi telah berperan dalam menjawab tantangan jamannya. Dalam situasi Islam tertekan, terintimidasi, tertindas, terjepit, Maulid mengambil peran memberi semangat.

Maulid berperan memberikan motivasi, untuk bangkit dari keterperukan. Sementara dalam situasi tenang, situasi aman, Maulid juga mengambil peran untuk berinovasi, berkreasi, sehingga melahirkan inovasi dan kreasi baru dalam budaya.

Ketika masa Salahuddin Al-Ayyubi, Maulid berperan memberi semangat kepada pasukan-pasukan Islam yang sedang berada di medan perang dalam peristiwa perang salib.

Nabi Muhammad sebagai pemimpin perang telah diungkapkan dalam Maulid Nabi. Ketika Islam masuk ke Indonesia dengan damai, Maulid berperan dalam da’wah Islam, sehingga dalam masyarakat Jawa dikenal dengan istilah “sekatenan” membaca dua kalimat sahadat, sahadatain). Sekatenan tersebut dilaksanakan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Maulid berperan dalam da’wah juga berperan dalam bermasyarakat atau bersosial.  Satu sama lain saling mengenal lebih dekat melalui media Maulid.

Dalam aspek sosial, Di Banten dikenal istilah “ngeropok” yaitu suatu komunitas masyarakat atau sekelompok masyarakat yang datang berbondong-bondong untuk menghadiri Maulid dari masjid ke masjid untuk mendapatkan berkat. Berkat dari bahasa Arab yaitu barokah. Nasi yang diperoleh dari acara Maulid disebut nasi berkat.

Maulid juga telah menginspirasi terhadap masyarakat untuk berkreasi dan berinovasi, sehingga muncul seni menghias lehe, yaitu suatu tempat untuk menyimpan nasi, lauk pauk dan telor pentul (telor yang ditusuk dengan bambu sebagai penusuknya dan dihiasi kertas berwarna (origami), demikian juga lehe sebagai tempat nasi dihias.

Kreasi baru dalam kegitan Maulid tahun ini adalah menggunakan lehe yang berukuran kecil yang bisa dibawa oleh cukup satu orang. Pembawa lehe kecil ini para pemuda-pemudi sementara sebelumnya ukuran lehe sangat besar untuk kapasitas beras sekitar 10-20 liter, sehingga dalam membawa lehe memerlukan tenaga yang kuat.

Maulid juga akan menginspirasikan solusi-solusi bangsa saat ini melalui ketauladanan Nabi Muhammad dalam bernegara dan bermasyarakat. Tidak kalah pentingnya adalah bagaimana membedah Maulid dalam masa Kesultanan Banten.

Maulid Di Banten

Persoalannya adalah bagaimana membedah Maulid dalam masa Kesultanan Banten. Apakah tradisi Maulid tersebut dimulai dari Kesultanan ataukah dari masyarakat.

Sebelum runtuhnya Kesultanan Banten, Maulid menjadi peringatan tahunan di Kesultanan Banten. Maulid juga telah menjadi agenda kesultanan Banten. Kegiatan peringatan Maulid dicentralkan di Kesultanan ini. Masyarakat berkumpul di kesultanan Banten untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tetapi setelah runtuhnya Kesultanan Banten, kegiatan peringatan Maulid tidak lagi terpusat di Kesultanan tetapi di peringati secara menyebar, di Musolla, masjid, juga Pesantren bahkan semakin luas sebarannya.

Kapan kegiatan Maulid di Kesultanan Banten ? Pada awalnya, peranan Maulid adalah untuk memberi semangat pada pasukan Islam yang telah mengalami kejenuhan. Maulid adalah sebagai pemotivasi semangat pada pejuang Islam pada masa perang. Dalam masa damai Maulid, juga memberikan semangat kebersamaan, semangat persaudaraan.

Bentuk semangat kebersamaan nampak sewaktu membaca marhaban, dibaca dengan keras (suara tinggi) bersemangat dalam nada yang sama.

Setiap rumah tangga semua lapisan ,mengeluarkan atau menyumbangkan nasi dan lauk pauk yang ditempatkan pada lehe atau baskom sebagai bentuk kebersamaan.

Lehe sebagai tempat nasi dan lauk pauk diberi hiasan bentuk kreatifitas. Lehe yang dihias tersebut, disebut lehe yang menggunakan pajangan, atau disebut pajang lehe.

Setelah lehe-lehe terkumpul, lalu diarak menuju masjid, (karena itu disebut panjang lehe).

Di dalam masjid, lalu dibacakan Maulid Nabi. Lauk pauk yang telah dibacakan Maulid Nabi, disebut nasi berkat (nasi yang mengandung nilai barokah).

Masyarakat yang berbondong-bondong untuk mendapatkan nasi berkah disebut ngeropok. Tapi setelah berada di dalam masjid dan duduk bersila untuk mendpatkan bagian nasi berkat, disebut ngeriung.

Ngeriung membagikan nasi berkat secara tertib, secara rata dan tidak rebutan. Sebagai alas nasi lauk pauk adalah daun jati.

Maulid sebagai semangat persaudaraan, secara tidak langsung merupakan bentuk silaturahim antar kampung, antar masjid antar musolla, sehingga satu sama lain saling mengenal, Masyarakat, juga kerap menggunakan momen maulid untuk kegiatan acara potong rambut seorang bayi. Tak jarang, dalam peringatan maulid, kadang lebih dari satu orang bayi-bayi yang dipotong rambutnya.

Mungkin itulah sisi ketauladanan Maulid bagi masyarakat yang mengandung makna semangat kebersamaan dan semangat persaudaraan, yang disimbolkan pada nasi berkat, ngeropok, ngeriung, pajang dan panjang, juga membawa dampak karomah bagi bayi-bayi lahir pada bulan Maulid untuk dipotong rambutnya pada kegiatan peringatan maulid, agar bayi-bayi tersebut kelak akan mentauladani Nabi Muhammad.

Demikianlah makna maulid pasca runtuhnya Kesultanan Banten. Kesultanan Banten terbagi atas dua fase, yakni fase kerajaan dan fase kesultanan.

Fase kerajaan berlangsung selama 70 tahun dari tahun 1526-1596. Sedangkan fase kesultanan berlangsung selama 217 tahun,  dari tahun 1596-1813.

Pada fase Kesultanan di Banten dibagi lagi atas periode pertumbuhan dan perkembangan dari tahun 1526-1682, kurang lebih selama 156 tahun dan periode stagnasi hingga keruntuhan dari tahun 1687-1813 kurang lebih selama 126 tahun.

Pada Periode keruntuhan hingga pasca keruntuhan inilah, yang membentuk Maulid hingga saat ini. Bagaimana bentuk atau model Maulid pada periode pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Banten, pada masa siapa awal kegiatan Maulid di Kesultanan Banten dilaksanakan ?

Pada periode pertumbuhan dan perkembangan terdapat beberapa masa-masa pemerintahan antara lain; masa pemerintahan Panembahan Maulana Hasanuddin (1526-1570), masa pemerintahan  Panembahan Maulana Yusuf ( 1570-1580), masa pemerintahan Perwalian (mentri-Mentri), (1580-1585), masa pemerintahan Panembahan Maulana Muhammad (1585-1596), masa Perwalian Ranamanggala dkk ( 1596-1624), masa Sultan Abulmafakhir Muhammad Abdul Kadir Kanari ( 1624-1651), masa Sultan Abulma’ali Ahmad Kanari (1635-1650) dan masa Sultan Ageng Tirtayasa ( 1651-1682).

Masa awal kegiatan maulid di Kesultanan Banten dilaksanakan

Awal kegiatan Maulid, berarti kegiatan peringatan Maulid, bersamaan dengan peringatan penetapan Banten sebagai Kesultanan.  Peringatan penetapan Banten sebagai Kesultanan, diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal dan  pertama kali diperingati pada tahun 1638.

Lalu kapan penetapan Banten sebagai Kesultanan ? Dalam manuscript disebutkan ketika utusan Banten berangkat ke Mekkah pada tahun 1634 untuk menemui Khalifah Mekah Syarif Jahid. Tahun penetapannya tidak diketahui. Yang diketahui, utusan menetap di Mekkah selama 4 tahun dari tahun 1634 sampai dengan tahun 1638.

Tahun 1638 utusan telah berada di Banten, diperkirakan antara tahun 1634 sampai dengan tahun 1638. Khalifah Mekkah telah menandatangani piagam penetapan Banten sebagai Kesultanan, diperkirakan sekitar tahun 1636 M.

Namun yang pasti sumber manuscript menyebutkan tahun 1638, utusan kembali ke Banten dan pada tahun itu juga untuk pertama kali diperingati sebagai tahun ditetapkannya Banten sebagai Kesultanan yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awwal.

Bagaimana awal memulainya dan apa tujuan husus diselenggarakannya peringatan Maulid di Kesultanan Banten pada masa itu ?  Awal memulainya adalah mengarak Plakat Kesultanan berupa  Bendera Banten. Tujuannya adalah untuk mensosialisasikan dan menggugah semangat perjuangan di bawah Panji Kesultanan.

Sumber rujukannya untuk menggali kegiatan Pringatan Maulid di Kesultanan Banten tersebut, adalah manuscrip Banten, pada VI, pupuh XXVII, dan pupuh XXXIV, yang ditulis sekitar tahun 1700 -an. Artinya ditulis pada masa akhir periode pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Banten.

Ringkasan manuscrip

Pada masa Sultan Abulmafakhir Muhammad Abdul Kadir Kanari, telah terdapat hubungan bilateral antara Banten dengan Mekkah, Sultan Banten telah menugaskan tiga orang utusan untuk menemui (lawatan) Sultan  Sarip Jahed.

Ketiga orang tersebut antara lain; Lebe Panji, Tisnajaya dan Wangsaraja. Ketiga utusan tersebut membawa pesan dan hadiah dari Sultan Banten.

Pesan untuk mohon arahan dan bahasan tentang tiga buah Kitab yaitu; Kitab Markum, kitab Muntahi dan kitab Wujudiah. Lalu membawa hadiah untuk sultan Sarif jahed berupa; Cengkeh, Pala dan Kasturi. Mereka berangkat dengan menggunakan kapal Wakaf Sultan Akbar. Siapa sultan Akbar tersebut ? tentang arahan dan bahasan ketiga kitab tersebut bisa dilihat dalam Kitab Al-Mawahib Ar-Rabaniyah ‘An Al-As’ilah Al-Jamiyah.

Persoalannya adalah bagaimana dengan Maulid ? Sultan Sarip Jahed memberikan hadiah balasan untuk  Abulmafakhir  Muhammad Abdul Kadir Kanari, berupa gelar dan tumbal atau jimat suci Kerajaan. Gelar yang dimaksud adalah gelar Sultan. Gelar Sultan ini merupakan yang pertama kalinya secara resmi diberikan oleh Sultan Sarif Jahed kepada Abulmafakhir Muhammad Abdul Kadir Kanari dari Banten.

Dalam manuscript, juga  disebutkan bilamana bagi raja-raja lainnya yang menghendaki gelar Sultan harus melalui Banten (pupuh XXXIV).

Hadiah balasan tersebut disamping gelar Sultan juga tumbal atau jimat suci Kerajaan. Tumbal atau jimat suci kerajaan ini merupakan bentuk kepercayaan Sultan Sarif Jahed kepada Banten, dan merupakan bentuk kepercayaan tertinggi atau semacam pemberian tongkat estafet dari kerajaan ke kerajaan lain atau juga disebut dengan bentuk legitimasi dari suatu kerajaan.

Bentuk legitimasi dari suatu kerajaan kepada penerusnya semacam regalia.  Siapa  saja yang telah memegang regalia, maka dialah yang berhak menjadi raja. Namun, yang diberikan oleh Sarif Jahed ini adalah untuk sebuah institusi.

Bentuk Jimat Suci Kerajaan

Apa bentuk jimat suci kerajaan yang diberikan dari Sarif Jahed untuk Kesultanan Banten tersebut?

Dalam pupuh XXXIV, dijelaskan  bahwa bentuknya berupa Bendera Nabi Ibrahim dengan menggunakan ornamne pedang Zulfikar.

Dalam pupuh ini, bendera Nabi Ibrahim tersebut, pada setiap Bulan Maulid dibawa keliling dengan upacara iring-iringan. Artinya makna Maulid pada sejarah awal di Banten adalah dimulai pada masa Sultan Abulmafakhir Abdul Kadir kanari dengan cara membawa bendera Nabi Ibrahim dengan ornamne pedang Zulfikar, dibawa keliling dengan upacara iring-iringan pada setiap Bulan Maulid.

Kenapa Bulan Maulid ?

Bulan Maulid merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nabi ibrahim sebagai simbol perlawanan terhadap Jahiliyyah secara fisik dengan menghancurkan benda-benda berhala.

Nabi Muhammad sebagai sombol perlawanan jahiliyyah secara non fisik termasuk menuhankan benda-benda lainnya selain Allah. La Ila ha illallah, tidak ada Tuhan selain Alloh.

Itulah makna Maulid pada periode pertumbuhan dan perkembangan di Banten. Sebenarnya Sultan Abulmafakhir Abdul kadir kanari dalam pesannya kepada Sultan Sarif Jahed adalah memohon untuk mendatangkan ahli fikih, dengan harapan ahli fikih tersebut akan membawa cahaya di Banten (pupuh XXVII).

Namun Syeh Ibnu Alam yang ditunjuk oleh Syarif Jahed tidak bersedia memenuhi permintaan Sultan Abulmafakhir Abdul Kadir kanari.  Ia mengatakan “ tidak tertarik untuk meninggalkan Mekkah”.

Dalam periode stagnasi dan keruntuhan Banten muncul organisasi-organisasi militan untuk melawan penjajahan, antara lain berkembang aliran-aliran Tarekat.

Tarekat merupakan suatu metode atau cara untuk ittihad, dekat dengan Alloh, dengan metode zikirnya.

Dalam Tarekat bilamana sudah dekat denga Alloh, maka Alloh cukup disingkat dengan HU. Sehingga ada Tarekat yang dalam zikirnya hanya mengucapkan HU HU HU HU. tidak ada Tuhan selain Alloh hanya menyebut singkatan Lahu.

Di jawa, dalam kegiatan Peringatan Maulid dikenal dengan SEKATEN,  maka di Banten dalam kegiatan peringatan Maulid dikenal dengan LAHU, sama-sama menggunakan jargon Sahadatain.

Karena dalam bahasa Serang dalam pengucapannya selalu menggunakan konsonan (e), sehingga kata LAHU berubah menjadi LEHE.

Kesimpulan   

Peringatan Maulid merupakan bagian dari kegiatan di Kraton, lalu dalam perkembangan berikutnya Maulid tidak lagi tercentralistik tapi telah menyebar, hingga ke semua lapisan masyarakat.

Maulid sebagai bagian dari kegiatan Kraton maknanya sebagai legitimasi kraton bahwa Keraton merupakan pengemban amanah ketauladanan Nabi Muhammad SAW yang tentunya patut diikuti oleh rakyatnya.

Makna Maulid sebagai legitimasi kraton, maka bentuk kegiatannya adalah pawai keliling dengan membawa bendera Nabi Ibrahim dengan ornamen pedang Zulfikar. Pawai keliling tersebut dilaksanakan setiap bulan Maulid yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad.

Bendera Nabi Ibrahim tersebut merupakan hadiah balasan dari Sultan Syarif Jaehed dari Mekkah untuk Sultan Abumafahir Abdul Kadir Kanari dan juga pemberian gelar Sultan untuk Abdulmafakhir Abdul Kadir Kanari.

Pawai keliling merupakan sebagai bentuk rasa syukur atas gelar tersebut. Waktu penyelenggaraaan pawai pilihannya adalah pada momen Maulid Nabi Muhammad, bertepatan dengan hari penetapan Banten sebagai Kesultanan, yang ditetapkan sekitar pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 1046 H, dan diperingati untuk yang pertama kali pada tanggl 12 Rabiul Awaal tahun 1048, bertepatan dengan Bulan Mei 1638 M.

Pasca runtuhnya kraton, makna Maulid tidak lagi sebagai legitimasi kraton tetapi sebagai bentuk keprihatinan terhadap runtuhnya kraton dan berupaya untuk membangkitkan semangat kebersamaan, semangat persaudaraan dalam masyarakat, sehingga muncul istilah “ngeropok”, lalu istilah “ngeriung”.

Semuanya adalah sebagai bentuk kecintaan terhadap Nabi Muhammad dan Ketaatan pada Allah SWT, yang disimbolkan dalam bentuk Lehe.**

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.