Narman, Pemuda Baduy Trampil Bahasa Inggris dan Langganan Juara Tanggapi Omnibus Law

Belajar bisa darimana saja dan tak kenal tempat. Larangan adat yang membatasi, bukan penghalang bagi Narman. Pemuda Baduy ini ternyata cukup mahir berbahasa inggris meski tak kenal sekolah formal. Selain kemampuan bahasa, pemuda Baduy yang satu ini juga langganan kejuaraan lari. Ia juga bicara tentang Omnibus Law.

Narman, Pemuda Baduy yang trampil berbahasa inggris saat bersama putrinya (foto Nur.H/BantenTribun)

BantenTribun.id–Meski aturan adat melarang warga Baduy untuk bersekolah formal, kemampuannya menulis dan berbahasa Inggris bukan didapat dari sekolah atau kursus seperti masyarakat umumnya. Narman justru belajar otodidak di kampungnya saat berada di rumah atau saat istirahat berladang. Kemampuannya menulisnya diawali dari hobinya membaca cerpen.

Selain itu, fisiknya yang kuat oleh tempaan alam desanya yang  terbiasa naik turun gunung,  juga menjadikannya langganan juara lomba lari, baik lokal maupun antar provinsi dengan berbagai piala.

Kedua kemampuannya ini setidaknya bisa menepis anggapan publik bahwa warga Baduy tidak memiliki kemampuan intelektual tanpa sekolah. Narman setidaknya mampu menunjukkan bahwa warga Baduy sama seperti masyarakat umumnya jika serius berlatih dan belajar, meski tidak sekolah.

Nine years ago i’ve been starting to learn english, start with write a song title . i try to make a correctly spelling. This way make me improve the skill of reading and writing in English, but it’s not good enough for me if we have to be like a native speaker it,s really hard for me when faced the real conversation. So now it is time for me to try another methode maybe i’ll make asome videos on the future.

I have anybody here to be my partner, and support me

Itulah salah satu narasi Narman (29) di akun medsos Facebook-nya, seorang pemuda warga Kampung Marengo, Baduy Luar.

Ayah dua orang anak  itu nampaknya sedang menceritakan kisah masa lalu dan harapannya ketika pertama belajar bahasa Inggris sekitar sembilan tahun lalu.

Meski secara adat Baduy melarang warganya sekolah secara formal, tapi warganya tetap belajar secara mandiri. Ada yang konsen pada masalah pertanian dan pelestarian hutan, ada pula yang belajar pengetahuan umum dari luar, seperti Narman ini. Uniknya Narman belajar secara otodidak lewat membaca buku yang ada di pasaran luar Baduy.

“Saya belajar secara otodidak, di rumah atau di kebun saat ada waktu sambil beristirahat” ungkapnya pada Banten Tribun, Sabtu, 17 Oktober 2020.

“Buku-bukunya saya beli dari pasar di luar Baduy, awalnya saya senang baca cerpen” sambungnya

Dari proses belajarnya yang cukup memakan waktu panjang itu, tampak Narman memahami betul cara membuat narasi secara baik dengan kaidah tata bahasa yang cukup mumpuni, baik kata-kata maupun tanda baca. Sehingga narasinya terasa enak dibaca.

Dari usahanya belajar bahasa Inggris, nampaknya Narman masih perlu banyak belajar lagi untuk menggapai harapannya.

“Belum banyak, Kang, setidaknya saya merasa bangga dan beruntung mampu berbahasa asing, sehingga sedikit bisa baca artikel bahasa Inggeris, quotes-quotes bagus atau head line berita, jadinya gak bingung kalau nemuin bahasa Inggeris. Meski gak terlalu lancar dan sedikit doang bisanya,” ungkap Narman merendah.

Selain mempelajari Bahasa Inggeris, Narman ternyata mengikuti juga kondisi sosial secara umum. Misalnya Ia menuliskan status sosmed terkait perkembangan politik soal hinggar bingar penolakan UU Omnibus Law.

Dalam statusnya, Ia mengemukakan pandangannya sama seperti pengamat politik dan masyarakat pada umumnya, dimana Ia merasa ada yang tidak berkenan dengan kondisi perkembangan politik yang diikuti demo berjilid-jilid yang menimbulkan korban akibat bentrok antar pendemo dengan aparat kepolisian.

“Omnibus Law, iya.. Benar ramai sekali orang yang menolak UU ini, aku sih gak ngerti banget ayat atau pasal di dalamnya, gak mau berdebat juga soal itu karena sudah sah. Tapi dari kacamataku sebagai orang yang menantikan Indonesia berubah menjadi negara maju, ya pemerintah harus membuat keputusan yang fundamental, meskipun harus membayar mahal.

Aku bisa bicara begitu mungkin saja karena positif thinking, ada yang salah dengan positif thingking?”. Ini salah satu narasi yang diungkapkan di akun facebook-nya terkait Omnibus Law,

Bukan hanya mahir menulis dan berbahasa Inggris, ternyata Narman juga langganan juara dalam beberapa kejuaraan olah raga lari.

Sakin seringnya juara, Ia kadang lupa sudah berapa puluh kali menjadi juara. Ini dibuktikan dari banyaknya foto-foto di atas podium saat Ia menerima piala

“Lupa, kang. Banyak, sih, kejuaraan yang sudah saya ikuti” ungkapnya.

“Diantaranya juara 1 Independent Day Run 2019 di GBK Jakarta, Juara 3 Sky Run 5 Km awal 2020, Juara 2 JCO Run Jakarta 2019, Juara 1 Titan Run 5 Km, Juara 2 Jakarta Marathon 2018, Juara 3 Combi Run kategori 21 Km, Juara 1 Multatuli Run 10 Km Lebak 2018, dan masih banyak lagi, saya lupa,” sambung Narman.

Narman, langganan juara lomba lari (foto-BantenTribun)

Selain lari, Narman juga pernah mendapat penghargaan dari Indonesia Satu Award (SIA) 2018 program Astra International di ajang pencarian anak muda yang memiliki usaha. Disini Narman juga menyabet juara 1.

Memiliki segudang prestasi dan berkemampuan bahasa asing yang tak banyak dimiliki rekan sekampungnya di Baduy tak membuat Narman lupa diri dan meninggalkan identitas kebaduy-annya. Ia justru tetap teguh memegang pikukuh dan aturan adat yang terus berlaku di tatar Kanekes.

Untuk tetap menjaga pikukuh adat, Ia tetap tinggal di Baduy bersama istri dan dua anaknya, seorang putra berusia enam tahun dan seorang putri berusia dua tahun dengan aktifitas keseharian sama dengan warga Baduy lainnya, misalnya berdagang produk kerajinan dan berdagang hasil berladang di Baduy.

Kondisi kekinian terkait sejak mewabahnya virus Corona ternyata cukup mempengaruhi aktifitas berlatihnya di luar Baduy. Nyaris setahun, Narman tak pernah lagi ikut berlaga akibat tak adanya event lomba lari. Untuk itu Ia lebih banyak berlatih di wilayah Baduy sambil terus berharap pandemi virus Corona segera berahir, agar kembali bisa mengukir prestasi olah raga yang ditekuninya.

“Gak pernah ke luar, berlatihnya cukup sekitar Baduy aja. Lumayan dengan trek naik turun gunung,” ungkap Narman.

“Semoga pandemi ini segera berakhir sehingga bisa ikut bertanding dan menjadi juara lagi. Juga bisa berdagang di pameran kerajinan di banyak tempat,” sambungnya penuh harap.*(Nur.H/kar)

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.