Mesir: Ummu Dunya dan Kiblat Ilmu

 

Oleh ;    Yayan Suryana, Lc.ME

Mayoritas orang Mesir dikenal ramah dan suka berbasa-basi untuk saling menyapa. Mereka memiliki kosakata yang kaya untuk memulai sapaan kepada orang yang ada dihadapannya, bahkan kepada orang yang baru mereka kenal.

Keramahan ini bagi kita orang Indonesia menjadikan cepat akrab dan mudah berinteraksi, karena kita pun (baca: masyarakat Indonesia) dikenal ramah oleh orang di luar sana.

Para Sejarawan menyebutkan bahwa nama Mesir dinisbahkan kepada salah satu cucu keturunan Nabi Nuh ‘alaihissalam, yaitu Misrāyim bin Hām bin Nuh yang pergi mendatangi tanah Mesir dan menetap disana setelah peristiwa banjir besar.

Seiring berjalan waktu, nama ‘Misrayim’ disingkat menjadi Misr atau Masr yang selanjutnya melekat menjadi nama wilayah tersebut. Ada beberapa nabi yang dalam sejarahnya pernah singgah atau bahkan menetap di Mesir, seperti nabi Ibrahim, nabi Musa, nabi Yusuf, nabi Danial dan lainnya. Karenanya Mesir pun dikenal dengan nama Negeri Para Nabi.

Keistimewaan tanah Mesir lainnya adalah pernah hidup berbagai peradaban dan kebudayaan yang beragam sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan ada yang menyebutkan peradaban Mesir tepatnya sudah ada 7000 tahun sebelum Masehi.

Paling utama tentu peradaban Fir’aun (Pharaoh) yang banyak sekali jejak-jejak sejarah yang bisa kita lihat, khususnya bangunan Piramid raksasa di provinsi Giza yang menunjukkan keperkasaan peradaban tersebut.

Karena banyaknya peradaban dan kebudayaan yang pernah hidup di sana, maka banyak pula perdebatan yang muncul di kalangan sejarawan seputar jejak-jejak peradaban tersebut. Misalnya perdebatan tentang asal usul penamaan Mesir dengan ‘Ummu Dunya’.

Ketika berbincang dengan orang-orang Mesir, mereka suka sekali menyebut tanah mereka dengan ‘Ummu Dunya’ atau Ibunya Dunia. Ada sebagian Sejarawan meyakini penamaan tersebut lahir ketika berdirinya imperium Romawi dan Mesir termasuk dalam wilayah jajahan mereka.

Bagi Bangsa Romawi saat itu, Mesir ada lumbung utama bahkan boleh dikatakan satu-satunya penghasil gandum untuk wilayah kekuasaan Romawi. Sedangkan gandum menjadi makanan pokok mereka saat itu. Oleh karena itu, bangsa Romawi memberi nama ‘Ummu Dunya’ atau Ibunya Dunia untuk Mesir.

Sejarawan Ibnu Batutah dari Maroko yang pernah mengunjungi Mesir tahun 1325 Masehi, dalam bukunya yang terkenal ‘Rihalatu Ibnu Bathūthah’ memiliki kesan mendalam tentang tanah tersebut, dan menyebutnya sebagai ‘ibunya negeri-ngeri’.

Karena memiliki sejarah yang panjang dan peradaban yang kaya, sejak dulu Mesir menjadi pusat ilmu pengetahuan. Banyak para Ilmuwan dan ulama yang pernah hidup atau mencari ilmu di Mesir. Universitas-universitas bersejarah berada di negeri ini, seperti Al-Azhar yang sudah berusia 1000 tahun lebih, Universitas Kairo dibangun 1908, Universitas ‘Ain Syams dibangun tahun 1950, dan lain-lain.

Mesir telah melahirkan begitu banyak ilmuwan, cendikiawan dan ulama ke seluruh dunia. Di zaman sekarang pun negeri Cleopatra ini tidak kehilangan pesonanya sebagai salah satu kiblat ilmu di Timur Tengah.**(Yayan Suryana, Lc.ME -Kontributor BantenTribun, Alumni Al-Azhar dan mantan Pengurus PCI-Muhammadiyah Kairo)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.