Merekontruksi Pengembangan Pariwisata Kab Pandeglang

pengembangan pariwisata
Ogie Nugraha

Kabupaten Pandeglang merupakan daerah yang kaya akan potensi pariwisata. Berdasarkan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah, Kabupaten Pandeglang memiliki 256 tempat/destinasi wisata yang tersebar diberbagai kecamatan baik wisata alam, buatan maupun wisata budaya.

Potensi pariwisata yang besar juga tergambar dalam visi dan misi kepala daerah disetiap periode, namun apa yang terjadi dengan pariwisata Pandeglang? Jujur harus diakui bahwa perkembangan pariwisata di Kabupaten Pandeglang belum berjalan optimal dibanding dengan potensi yang tersedia.

Hal ini tentu harus mendapatkan perhatian lebih dari kita semua, tidak hanya pemerintah daerah. Kesadaran masyarakat dan keterlibatan swasta dalam membangun pariwisata juga mutlak diperlukan.

Diera good governance saat ini peranan pemerintah jelas sangat terbatas. Sementara masyarakat dan dunia usaha justeru memiliki peranan yang lebih.

Pemerintah daerah hanya berlaku sebagai fasilitator. Rules of the game nya sangat jelas bahwa pemerintah bertugas memfasilitasi seluruh kebutuhan pengembangan pariwisata meliputi infrastruktur dan suprastruktur. Sementara tanggungjawab pengelolaan pengembangannya ada ditangan masyarakat dan swasta.

Analoginya, pemerintah hanya menyediakan pondasi, sementara bentuk rumah dan isinya diserahkan kepada masyarakat dan swasta. Namun tetap dalam pengawasan pemerintah yang tak akan ikut campur terlalu dalam.

Menyangkut tugas dan wewenang pemerintah daerah dalam pengembangan pariwisata, pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi seluruh permasalahan yang muncul yang bermuara pada satu pertanyaan.

Mengapa dengan potensi yang begitu besar namun kondisi pariwisata Pandeglang tidak berjalan secara optimal?. Hal ini perlu dilakukan agar kita memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan pariwisata Pandeglang.

Berangkat dari identifikasi masalah, maka kita coba untuk membatasi permasalahan utama dan mendasar dan akan menjadi prioritas dalam penanganannya melalui program dan kegiatan terpadu yang melibatkan semua organisasi perangkat daerah.

Identifikasi masalah ini dapat kita tuangkan kedalam analisis Strength Weakness, Opportunity and Threat (SWOT).

Swot Analysis berguna untuk melihat apa saja kekuatan, kelemahan, peluang serta kesempatan yang dapat kita miliki untuk pengembangan pariwisata kedepan.

Strength,

  1. Potensi pariwisata sangat besar meliputi 256 objek wisata(alam, buatan dan budaya);
  2. Kawasan Ekonomi Khusus PariwisataTanjung Lesung.

Weakness :

  1. Belum tersedianya dukungan kebijakan dan regulasi secara menyeluruh terhadap pengembangan pariwisata;
  2. Belum tersedianya road map dan regulasi terkait investasi pariwisata;
  3. Masterplan, Feasibility study atau DED terkait kepariwisataan masih minim dan jikalaupun ada tidak dioptimalkan dengan baik;
  4. Masih kurangnya sarana dan prasarana pendukung (listrik, air bersih, jaringan telepon dan internet dll);
  5. Masih lemahnya SDM kepariwisataan

Opportunity :

  1. Terdapat 208 Juta Perjalanan Nusantara dengan total uang yang dibelanjakan Rp 224,68 T (2015), serta kunjungan wisman yang mencapai 11 juta lebih (2016);
  2. Aksebilitas jalan tol (Serang – Panimbang), Rencana pengembangan Bandara Banten Selatan dan reaktivasi jalan kereta rangkasbitung-labuan;
  3. Posisi geografis yang sangat strategis yaitu dekat dengan kawasan Ibukota sebagai pangsa pasar yang sangat besar;
  4. Dukungan kebijakan pusat terhadap pengembangan pariwisata

Threat :

  1. Perkembangan pariwisata daerah sekitar (Pantai Sawarna, Tempat Ziarah Banten yang akan dikembangkan, dan wisata belanja disekitar Kota Serang dan Tangerang;
  2. Stabilitas sosial yang masih sangat rentan terhadap perilaku wisatawan (wisata identik dengan maksiat);
  3. Iklim investasi yang belum kondusif terhadap investor.
  4. Untuk menjawab analisis SWOT diatas maka diperlukan serangkaian kegiatan yang komprehensif dan terpadu diantaranya :
  5. Kebijakan Investasi – Penetapan peraturan perundangan yang kondusif terhadap pembangunan usaha pariwisata baik yang telah ada maupun yang akan dikembangkan;
  6. Pengembangan Infrastruktur – dengan memperbesar aksebilitas menuju dan dalam destinasi pariwisata melalui pembangunan perluasan jalan, difikirkan untuk pembangunan bandara dan pelabuhan serta stasiun menuju destinasi wisata, pembangunan jaringan listrik, telekomuniasi dan air bersih. Dengan pembangunan infrastruktur ini diharapkan mampu menciptakan daya saing serta daya tarik pariwisata daerah;
  7. Pengembangan objek wisata – melakukan kajian dan dan riset untuk penyusunan Design Engineering Detail, Master Plan dan atau Feasibility Study sebagai arah pengembangan pariwisata daerah yang akan dilakukan oleh pihak swasta;
  8. Pengembangan Sumber Daya Manusia – meliputi kegiatan sadar wisata (ramah wisata) dan kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat lokal guna mengembangkan kompetensi masyarakat dalam penyediaan barang dan jasa kepariwisataan serta pelayananan bagi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara;
  9. Koordinasi Lintas Sektor – dengan mengembangkan kemitraan dengan seluruh stakeholders pembangunan kepariwisataan melalui upaya koordinasi, sinkronisasi dan konsolidasi yang melibatkan berbagai pihak baik LSM, asosiasi/usaha pariwisata, DPRD dan pemerintah.

Diatas semua itu dan yang paling mendasar adalah good will serta political will baik ditingkat eksekutif maupun legislatif  dalam upaya pembangunan industri pariwisata daerah.

Visi saja tidak akan pernah cukup dalam membangun industri pariwisata, dibutuhkan lebih dari sekedar visi dan setumpuk peraturan dalam mengurusi pariwisata.

Kebijakan dan strategi pariwisata apapun akan terasa hambar jika tidak pernah dipijakkan pada niat dan kesungguhan serta rasa cinta dalam memajukan dunia pariwisata di Kabupaten Pandeglang.

Penulis Adalah ASN, Bekerja di Bappeda Sebagai Kasubit Penelitian dan Pengembangan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.