Menyoal Penyebab Meroketnya Angka Perceraian Di Masa Pandemi Dalam Sudut Pandang Sosiologi, Psikologi dan Islam

angka perceraian

Oleh: Umi Hariroh

BantenTribun.id- Antrian sidang cerai di salahsatu kota di Jawa Barat sempat viral di jagad media beberapa hari lalu. Hal itu menjadi penanda bila secara faktual telah terjadi lonjakan angka perceraian di berbagai daerah di Indonesia.

Lonjakan angka perceraian juga terjadi di Banten. Pengadilan Agama Serang mencatat, hingga Juli 2020, angka perceraian di wilayah itu mencapai 2 ribu kasus.

Angka itu kemungkinan akan terus melonjak, seiring dengan banyaknya kepala keluarga yang menganggur akibat pandemi Covid-19.

Angka perceraian juga tinggi di Tangerang, setidaknya hingga juli 2020, ada seribu lebih sidang gugat cerai yang berakhir dengan predikat duda-janda di wilayah ini.

Berbeda dengan Serang, Ekonomi ternyata bukan alasan dominan atas terjadinya kasus perceraian di Tangerang.

Pihak Pengadilan Agama setempat mengkonfirmasi, pereselisihan terus menerus menjadi alasan utama terjadinya kasus perceraian di wilayah itu.

Sementara di Pandeglang, hingga pertengahan Juli 2020, ada 724 kasus. Gugatan cerai didominasi oleh pihak istri yaitu mencapai 548 kasus. Sisanya oleh suami. Kasus perceraian teradi pada rumahtangga baru, atau mereka yang masih berusia muda.

Senada dengan kasus di Serang, faktor ekonomi menjadi alasan penggugat untuk mengajukan sidang. Alasan lainnya adalah adanya Pria atau Wanita idaman lain.

Sudut Pandang Sosiologi

Dalam kamus sosiologi, perceraian berarti bubarnya sebuah rumah tangga antara dua orang yang masih hidup secara sah menurut hukum. Sehingga mereka bisa bebas menikah lagi dengan pasangan berikutnya.

Wiliam J Goode merinci perceraian atau lebih luas didefinisikan sebagai kekacauan dalam rumah tangga. Ia menyatakan bentuk kekacauan dalam rumah tangga disebabkan oleh 5 hal. Pertama, adanya ketidastabilan. Kedua, pembatalan, perpisahaan, perceraian dan meninggal. Ketiga keluarga selaput kosong. Keempat, ketiadaan seorang dari pasangan karena hal yang tidak diinginkan. Kelima, adanya kegagalan penting yang tidak diinginkan.

J Goode menilai, poin ketiga yaitu keluarga selaput kosong jarang mendapat perhatian. Keluarga selaput kosong berarti anggota keluarga tetap tinggal bersama, tetapi tidak saling bekerjasama dan gagal memberi dukungan emosional satu sama lain.

Saat ini karena kesibukan kerja mencukupi kebutuhan hidup. Pergi pagi, pulang malam, membuat komunikasi keluarga menjadi minim. Akhirnya banyak keluarga tak lagi memberi dukungan moril, motivasi dan semangat satu sama lain.

Padahal, dimasa pandemi, dimana banyak keluarga menghadapi masa sulit, termasuk ekonomi. Dukungan satu sama lain, saling pengertian dan mau bekerjasama menyelesaikan problem rumah tangga sangat diperlukan.

Teori J Goode bisa dibenarkan di satu sisi. Namun disisi lain, hubungan simetris antara suami-istri juga perlu diperhatikan.

Dalam budaya paternalistik Indonesia, istri ‘seolah’ dianggap lebih rendah dibanding suami.

Seperti ditulis oleh Endila Famelsi dalam Jurnal Online Mahasiswa Universitas Riau, Volume 4 Nomor 2 Oktober 2017. Relasi Gender dalam keluarga selalu menempatkan suami sebagai sosok inferior. Punya kekuasaan, kemampuan dan tanggungjawab lebih besar dibanding isteri.

Sementara isteri adalah sosok ibu yang mengatur urusan domestik dalam rumah.

Hubungan asimetris suami-istri menurut jurnal yang ditulis Endila sebenarnya membebani keduabelah pihak. Istri tidak punya ruang bebas untuk berkreasi karena hanya bertanggungjawab pada urusan domestik. Sedangkan suami makin terbebani dengan tanggungjawab mutlak terhadap ekonomi keluarga.

Perceraian Dari Sisi Psikologi

Seperti ditulis laman psychologytoday. Setidaknya ada 4 hal yang membuat suami-sistri bercerai. Pertama adalah kurangnya komunikasi, kedua menyimpan prasangka buruk, ketiga lupa menunjukan kasihsayang dan keempat adalah hilangnya rasa memiliki satu sama lain.

Komunikasi merupakan faktor penting dalam jalinan sebuah keluarga. Komunkasi yang baik akan berkontribusi pada berkurangnya angka perceraian.

Dalam ilmu psikologi, komunikasi dipandang sebagai sebuah perilaku. Sifatnya manusiawi, menarik serta melibatkan orang banyak orang dalam berbagai situasi.

Kita adalah komponen sekaligus pelaku komunikasi (komunikan). Keduanya akan membuat orang mampu memahami, menjelaskan, menilai, mengira pikiran, perasaaan dan tindakan.

Komunikasi yang baik juga akan melahirkan empati. Dalam rumah tangga empati atau memahami istri atau suami dalam sudut pandang pasangan sangat penting untuk menjaga langgengnya sebuah rumahtangga.

Terlebih saat ini, dimana keluarga dihadapkan ada ketidakpastian, kekhawatiran, lebih besar pasak daripada tiang, maka komunikasi harus terus dilakukan.

Komunikasi yang buruk, akan menimbulkan rasa curiga, dan lama-lama berdampak pada hilangnya rasa cinta.

Berikutnya adalah prasangka buruk. Sebagai seorang manusia tidak mudah merawat diri untuk bersangka baik dan tidak overthinking.

Jhon F Farley membagi prasangka dalam 3 kategori. Pertama prasangka kognitif atau fokus pada yang dianggap benar. Kedua adalah prasangka afektif yang fokus pada apa yang disukai dan tidak disukai. Sedangkan ketiga adalah prasangka konatif, atau merujuk pada kecenderungan seseorang untuk bertindak.

Prasangka baik dimasa pandemi perlu ditegakan oleh suami-istri di tengah pandemi seperti sekarang. Keduanya perlu terus mencari solusi, jika ekonomi dianggap akan jadi pemicu menambah angka perceraian.

Fokus mencari solusi adalah kuncinya, bukan mengeluh pada keadaan apalagi tenggelam dalam overhingking.

Pandangan Islam Tentang Keluarga

Sungguh miris jika melihat kasus perceraian di Pandeglang, dimana rata-rata mereka yang menggugat adalah anak-anak muda usaia 20 tahunan ke atas.

Sebagai seorang muslim orang yang akan menikah, atau mereka yang telah menikah tetap perlu me-redefinisi apa sebenarnya tujuan pernikahan.

Pernikahan bukan solusi dari rasa bosan saat pandemi, atau menjadi solusi untuk meningkatkan ekonomi, misal mengurangi beban orangtua.

Rata-rata anak muda hanya membayangkan nikmatnya saja saat menikah, seperti ada yang melindungi atau ada yang mengantar kesana-kemari. Atau setidaknya pas undangan ada yang menemani, tak jomblo lagi.

Islam lebih dari itu. Dasar ilmu agama sangat penting sebelum membangun rumahtangga. Prosesnya panjang, dari kesiapan diri baik mental maupun material. Memilih pasangan yang tepat, khitbah, lamaran, mengandung, memiliki anak, menjalin komunikasi dengan orangtua dan mertua dan sebagainya.

Rumah tangga juga akan dihadapkan pada berbagai ujian. Ia bisa datang dari mana saja. Jika tak pandai menyikpai dan mencari solusi. faktor ekonomi, suami, istri, anak, orangtua, mertua, orang ketiga, pekerjaan saudara, tetangga dan lainnya adalah pemicu masalah.

Sebagai agama yang tidak sekedar mengurusi ibadah langsung kepada pencipta, Islam memberi petunjuk yang jelas dimana pernikahan adalah solusi untuk melanggengkan generasi.

Islam menganjurkan 4 syarat untuk memilih calon pasangan yaitu wajah, harta, keturunan dan agama. Kata Agama secara redaksional memang ditulis di akhir, tapi ia akan menjadi pilihan utama ketika tiga syarat sebelumnya tidak dimiliki calon pasangan. Artinya faktor pemahaman agama menjadi syarat utama ketika kita memilih calon pasangan.

Pemahaman agama yang baik umumnya akan mengurangi kontribusi angka perceraian. setidaknya ketika ekonomi lagi sempit, ia akan mencoba bersyukur untuk menerima penghasilan suami. Suami yang paham agama juga akan terus mencari solusi sebagai tanggungjawab mencukupi kebutuhan keluarga, karena juga bernilai ibadah.

Kemudian, relasi hubungan suami-istri dalam islam juga tidak asimetris. Meski dalil menunjukan suami adalah pemimpin, tapi relasi dengan isteri bukan relasi atasan-bawahan, tapi mitra.

Seperti sebuah sistem, setiap komponen rumah tangga punya fungsinya sendiri, Suami adalah pemimpin, pengambil keputusan dan nakhoda yang bertanggunjawab dalam berlayarnya sebuah bahtera rumahtangga.

Sementara isteri adalah ibu, manajer dan pengatur rumahtangga. Kerjaannya bukan sekedar di sumur, dapur dan kasur. Lebih dari itu, isteri adalah seorang pendidik, pemberi pondasi keimanan dan melahirkan generasi terbaik. Sulit rasanya menemukan tokoh-tokoh muslim yang lahir bukan dari ibu yang hebat.

Suami memang pengambil keputusan, tapi isteri juga berhak memberi masukan.

Selanjutnya Islam juga tidak melarang isteri untuk bekerja, selama pekerjaan itu sesuai syari’ah.

Dimasa pandemi, bisa jadi, ladang bisnis isteri menjadi pondasi ditengah himpitan ekonomi. Tak ada salahnya suami membantu isteri dalam hal ini.

Satu hal yang tak boleh terlepas dari seorang keluarga muslim. Rumahtangga adalah keberkahan, karena bagian dari penyempurna agama. Saat dihadapkan pada berbagai persoalan, maka Islam mengajarkan selalu ada jalan keluar bagi orang yang bertaqwa.

Dengan demikian, pemahaman yang baik soal tujuan, proses, polemik dan penyelesaian masalah dalam islam perlu dipelajari baik sebelum atau setelah menikah. Sehingga kalimat perceraian bisa dihindari sejauh mungkin.

Penulis adalah seorang Ibu rumah tangga, Aktivis muslimah dan Alumni Universitas Negeri Surabaya. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.