Menjaga Empat Pilar Negara Indonesia

Dede-kurniawan

Oleh: Dede Kurniawan*

Indonesia lahir dengan berbagai macam keberagaman dari mulai suku, bangsa, budaya, bahasa, Agama dan sebagainya.

Indonesia Mayoritas Islam, Mengaku Islam tapi cara-caranya tidak Islami (Indonesiawi), Mengaku sebagai anggota Organisasi Nasionalis, Islami, dan/atau anggota organisasi apapun itu namanya dari mulai A,B,C sampai Z tapi cara-caranya tidak dilaksanakan hasil kesepakatan (Peraturan Perundang-undangan dan/atau AD/ART).

Sebagai contoh bahwa Orang Medan pada umumnya bicara dengan suara keras dan seperti marah, karena lingkungan yang membangunnya seperti itu.

Orang Bandung pada umumnya bicara dengan suara rendah dan seperti berpuisi, karena lingkungan yang membangunnya seperti itu.

Orang Aceh, Riau, Palembang, Jambi, Padang, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Bali, Irian Jaya dan lain sebagainya mempunyai lingkungan masing-masing atau istilahnya heterogen.

Dari istilah heterogen itulah para pendiri bangsa Indonesia bersepakat bahwa Ideologi Pancasila sebagai Rohnya dan Pembukaan UUD 1945 sebagai jasadnya, maka kemudian lahirlah Peraturan Perundang-undangan dibawahnya yang menjadi tata tertib dalam membangun bangsa yang heterogen ini dari Sabang sampai Merauke dan diberikan setiap orang diberikan kesempatan oleh konstitusi untuk mewakili rakyat Indonesia menjadi Pemimpin Negara ini.

Oleh sebab itulah dibutuhkan Pemimpin Negara berintegritas seperti Soekarno, Muhamad Hatta, H. Agus Salim, KH. Wahid Hasyim, Muhamad Natsir, Muhamad Yamin dan lainnya yang telah meletakan norma dasar dalam hidup berbangsa dan bernegara yang kemudian menghasilkan kesepakatan dan melahirkan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.

Maka dari latar belakang diatas Indonesia membutuhkan Pemimpin-Pemimpin Negara Yang Hebat, yaitu yang mampu menjiwai dan memahami hakikat berbangsa dan bernegara, yang tidak coba-coba yang pada akhirnya bisa merusak nilai-nilai Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945.

Penulis berpesan, mari kita jaga kesatuan Bangsa, toleransi Agama dan keutuhan NKRI, Bhineka Tunggal Ika dimulai dari diri kita sendiri, Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasannya untuk hidup dengan cara-cara yang sudah menjadi kesepakatan seperti pesan para pendiri bangsa ini.

Jadi dalam konteks tersebut ketika kita mau mencalonkan diri sebagai anggota organisasi dan/atau lembaga apapun itu namanya, gunakan cara-cara hasil kesepakatan (Peraturan Perundang-undangan dan/atau AD / ART) setelah itu baru bicara bahwa Pancasila itu final, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945 itu sebagai pilar Negara Indonesia, jika tidak maka secara tidak sadar kita telah mengingkari 4 pilar tersebut, dan sesungguhnya kita seperti srigala berbulu domba terhadap pilar Negara kita sendiri.

Mengingatkan diri sendiri, mengajak kepada semua untuk dan  demi menjaga Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI,UUD 1945.*( Penulis Sekretaris ISNU Pandeglang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.