Menikah Dulu Atau Mapan Dulu, Mana Yang Kamu Pilih?

Menikah dulu atau mapan dulu, atau mapan dulu lalu menikah. Hak kamu untuk memilih yang mana. Setiap orang punya pertimbangannya sendiri. Yang penting mau konsekuen dengan piliha itu.

Menikah Dulu Atau Mapan Dulu
Menikah dulu atau mapan dulu. foto: pexels

BantenTribun.id- menikah dulu atau mapan dulu? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah sering dilontarkan, Jawabannya pun tidak ada yang salah. Kembali pada pribadi masing-masing.

Setiap orang punya pengalaman, fakta empirik, latar belakang kehidupan, hingga prinsip dan ideologi. Semuanya bermuara pada perspektif dan pemahaman. Kemudian hal itu menjadi dasar untuk mengambil keputusan.

Memilih mapan dulu baru menikah tidaklah salah.

Faktanya semakin hari kehidupan semakin sulit. Punya rumah misalnya. Dulu harga rumah tak semahal sekarang. Orang tua juga masih punya sisa tanah yang bisa dipakai untuk bangun rumah.

Warga juga masih ‘guyub’ mau gotong royong ngambil pasir, batu hingga bambu. Setidaknya cukup bayar tukang, sisanya diselesaikan bareng-bareng.

Kini, bangun dan beli rumah bukan perkara mudah. Ratusan juta harus disiapkan bila ingin bangun rumah dari awal. Belum tenaga dan pikiran terkuras. Maka tak heran jika memilih jalan ini, bangunnya tidak sekaligus, tapi parsial.

Pilih Kredit, perlu uang muka dan cicilan tiap bulan. 15 hingga 20 tahun. Kalaupun memilih Syari’ah, faktanya tidak semudah yang dikira. Belum lagi tenor yang rata-rata lebih pendek dan cicilan lebih mahal.

Lagi pula, emblem syari’ah itu pun perlu dipertanyakan, jika ujungnya kembali ke perbankan konvensional.

Perjuanganmu belum berhenti saat punya sudah punya rumah. Bahkan baru dimulai. Karena kedepan kamu akan menghadapi suka-duka kehidupan.

Kamu perlu uang dalam berbagai tahapannya, mulai dari terapi dan proses bayi tabung, jika susah punya bayi. Biaya saat hamil, periksa, USG, multivitamin, dan makanan bergizi. Biaya persalinan, lebih besar lagi jika Caesar.

Lalu biaya merawat bayi, susu. Kemudian biaya sekolah, asuransi, investasi, perbaikan rumah, kendaraan dan segala macamnya.

Itu belum biaya mudik, jika kamu atau pasanganmu tinggal di kota lain. Belum jika orang tua atau mertua sakit. Itulah beberapa fakta yang akan dihadapi ketika menikah. Jadi dalam konteks ini mapan baru menikah tidak salah.

Setidaknya jika kamu sudah punya pekerjaan, rumah, harta berupa kendaraan atau sedikit investasi. Hidup relatif lebih mudah. Secara logika manusia tentunya.

Menikah Dulu berjuang bersama untuk mapan.

Jika kamu memilih yang ini, maka jalan ceritanya juga beda. Perjuanganmu akan dimulai dengan meyakinkan calon mertua. Kamu harus bisa meyakinkan mereka. Semua orang tua, tentu tak ingin menyerahkan anaknya pada calon menantu yang statusnya nggak jelas.

Pekerjaannya apa, agamanya seperti apa, sikap dan akhlaknya kaya apa?

Ingat loh, tak semua orang tua paham soal konsep rizki. Tak semua juga sepakat bila menikah akan menyelesaikan masalah, malah menyatukan dua masalah.

Jika kamu sukses meyakinkan calon mertua. Kamu juga harus siap dengan perjuangan yang lebih berat. Belum lagi tetap meyakinkan istri tentang kehidupan yang kalian pilih.

Misal kamu punya pekerjaan atau usaha, yang itu belum mencukupi kehidupan harian. Maka keduanya harus bersepakat untuk bekerja atau berusaha bersama.

Lebih banyak berikhtiar dan melipatgandakan doá.

Menikah faktanya memang menambah keberkahan. Rizki juga dijamin. Jangankan manusia, cicak di dinding aja dikasih rizki berupa nyamuk yang menghampiri. Tapi kaidah kausalitas tetap terjadi. Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan menuai hasil.

Misal jika kamu memilih membuka usaha setelah menikah. Kamu dan pasangan harus siap dengan segala risiko. Banting tulang dari awal, bekerja berdua dan saling berbagi tugas.

Mungkin dalam proses itu, kamu bahkan tak bisa makan tiga kali sehari. Atau bahkan nggak makan sama sekali.

Lalu rumah pun ngontrak, kadang tiap bulan masih bingung bayar kontrakan dari mana.

Saat punya anak pertama, bisa jadi asupan gizinya kurang karena tak sanggup beli susu. Jangankan susu, makan aja susah.

Tapi jangan salah. Banyak orang yang berjuang bersama, satu visi dan misi. Meski awalnya belum mapan, tapi akhirnya sukses dengan usahanya. Semua perlu perjuangan yang pantang menyerah.

Dengan demikian, jika pilihan ini – menikah dulu lalu berjuang untuk mapan- kamu pilih. Juga tidak salah. Asal kamu mau berjuang dan berdoá tanpa henti. Bukti sudah banyak.

Menikah Dulu Atau Mapan Dulu, Solusi dan Angka Perceraian

Terlepas kamu memilih menikah dulu atau mapan dulu, atau sebaliknya. Saat ini tengah terjadi fenomena angka perceraian yang tinggi akibat pandemi. Bahkan antrian penggugat cerai viral di salahsatu wilayah di Jawa Barat.Ekonomi menjadi alasan utama.

Fakta pandemi membuat banyak orang yang mapan mulai goyah, akibat kehilangan pekerjaan. Atau usahanya yang collaps memang tak terelakan.

Sementara disisi lain, banyak orang yang lelah belajar online. Diam dirumah dan tak ke kampus malah memilih menikah sebagai jalan. Biar nggak bosan.

Fenomena ini perlu dicermati. Artinya pilihan manapun yang kamu ambil. Kamu harus punya alasan yang kuat ketika memutuskan untuk menikah.

Selanjutnya, kamu akan terus belajar tanpa henti. Belajar untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Termasuk pandemi.

Berat ia, buntu mungkin. Tapi bagi orang yang menjadikan agama sebagai jalan hidup, selalu ada jalan dalam setiap kesulitan.

Buat kamu yang tidak menjadikan agama sebagai pedoman. Setidaknya kamu dan pasangan punya tanggungjawab terhadap pilihan yang diambil. Pikirkan perasaan keluarga, orang tua dan anak. Yuk cari jalan untuk terus bertahan ditengah berbagai himpitan. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.