Mendadak Masker, Ceruk Bisnis di Saat Krisis

 

Yedi Supriadi, melihat ceruk bisnis dengan masker, pasca konveksinya sepi order.(foto-BantenTribun)

 

Situasi ekonomi yang rsemakin sulit dimasa pandemi ini, mendorong kita untuk jeli memanfaatkan peluang yang ada . Jualan masker, ternyata bisa menjadi ceruk bisnis baru disaat daya beli makin menurun bahkan krisis.

Pandeglang,BantenTribun.id– Sudah sebulan ini Iyan (28) berdagang masker. Ia merasa Bersukur bisa mendapatkan penghasilan yang bisa dibawa pulang meski tak mencukupi. Sebelumnya pria perantau asal Padang ini mengaku lama menganggur.

“ Bersukur pak, saya cuma punya modal awal Rp 200 ribu. Dengan jualan masker ini kalau ramai bisa laku 3 sampai 4 lusin. Keuntungan kotor dari sejumlah itu sekitar Rp60-Rp 80 ribu,” jelas Iyan, pria yang sudah menjadi warga Kampung Lebak Purut, Kecamatan Banjar.

Baginya, dengan modal terbatas ia harus jeli melihat peluang usaha, apalagi disaat sulit seperti sekarang.

“Saya buka dagangan mulai jam 9 pagi sampai jam 7 malam. Masker yang saya jual jenis masker kain dan masker scuba. Masker scuba lebih laku sih. Kalau lagi sepi paling laku selusin,” katanya saat ditemui BantenTribun, Minggu, 31 Mei 2020,  di lapaknya, daerah Gardu Tanjak Pandeglang.

Yedi Supriadi (30), pedagang masker yang mangkal di depan Gedung Grha Pancasila, juga mengakui masker model Scuba lebih laku dibanding kain.

Menurutnya, meski masker scuba lebih mahal dibanding kain, namun pembeli lebih menyukai Jenis ini karena selain lebih menarik, juga tanpa menggunakan tali.

“Pembeli pria dan anak-anak lebih suka masker scuba karena dinilai praktis dan bermotif gambar. Harga masker ini saya jual Rp 15 ribu per 2 pcs. Kalau masker kain harganya Rp10.000 untuk 3 pcs, Masker N45 juga sedia dikit,” terang Yedi.

Menurut Yedi, ia sengaja banting stir dengan berdagang masker, setelah usaha rumahan konveksinya sepi orderan akibat terdampak wabah korona.

“Sudah 4 bulan saya jualan masker ini. Sejak pandemi covid-19 dan berlaku PSBB, saya memutuskan untuk jualan masker. Ya lumayan lah pak untuk menyambung kelangsungan hidup meskipun kecil,”terangnya.

Pria dari Kampung Ciwasiat ini berharap jika sekolah kembali dibuka, pihak sekolah maupun Pemda bisa memberdayakan pengusaha masker  di Pandeglang untuk penyediaan masker bagi siswanya.

“Sekarang ini semua masker scuba produksi dari jakarta. Padahal kitapun sangggup produksi bahkan dengan disablon nama sekolahnya sekalipun. Kalau masuk sekolah saat New Normal nanti siswa wajib pakai masker kan?” kata Yedi.

Dipasaran, masker scuba merupakan sebutan untuk masker kain dari bahan ‘scuba’ atau neophorene (polychloroprene), yang sebelumnya dikenal banyak digunakan untuk pembuatan pakaian penyelam. Masker non medis ini selain murah juga dianggap nyaman digunakan.

Disaat daya beli menurun dan ekonomi semakin sulit, Jualan masker ternyata bisa menjadi ceruk atau market niche ( segmen kecil dari sebuah pasar dengan sedikit pesaing, biasanya dengan kebutuhan unik-red), bagi yang jeli melihat peluang.*(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.