Mencegah Partikularisme dengan Meningkatkan Ketaqwaan

 

Oleh: Ilham Akbar 

partikularismeDalam sejarah agama Islam pernah mencatat di mana ada seorang sahabat Rasul yang berkhianat karena menganut paham partikularisme. Sahabat Rasulullah tersebut bernama Abdullah bin Ubay.

Dikisahkan semasa hidupnya Abdullah adalah seorang sahabat Nabi yang justru acapkali bersekutu dengan kaum Yahudi. Singkat cerita, ketika tahun sembilan Hijriyah, sepulang dari perang Tabuk, di akhir bulan Syawwal, Nabi Muhammad SAW mendengar bahwa Abdullah bin Ubay tengah jatuh sakit.

Mendengar berita tersebut, Rasulullah pun tidak tinggal diam, beliau langsung mendatangi rumah Abdullah bin Ubay. Ketika sudah bertemu dengan Abdullah, Rasulullah SAW mengatakan bahwa, “Bukankah saya sudah melarang kamu agar tidak selalu bersekutu dengan Yahudi?”

Kemudian ia menjawab, dengan tanpa memikirkan dosa, “Dahulu, Sa’d bin Zurarah membenci orang-orang Yahudi, dan mereka pada akhirnya mati”. Menurutnya, dengan membela kaum Yahudi pada waktu itu, adalah untuk melindungi dirinya agar terhindar dari kematian.

Tetapi walaupun sebenarnya Abdullah bin Ubay adalah seorang sahabat yang sering menyebarkan haditsul ifki (berita palsu) dan bersekutu dengan kaum Yahudi, Rasulullah SAW tidak pernah mempunyai dendam terhadapnya.

Rasulullah SAW tetap menganggapnya sebagai sahabat yang mempunyai kewajiban sebagai seorang muslim seperti biasanya. Bahkan pada bulan Dzulqa’dah, Abdullah bin Ubay pun akhirnya wafat. Dengan sifat rendah hati yang dipunyai oleh Rasulullah, beliau pun tetap membantu jenazahnya sampai ke liang lahat.

Dari sejarah tersebut, tentunya kita bisa melihat bagaimana nahasnya nasib sahabat Rasul yang menganut paham partikularisme tersebut, padahal Abdullah bin Ubay adalah seorang sahabat yang beragama Islam.

Alih-alih bukannya membantu menyebarkan Agama Islam, tetapi justru ia menyebarkan berita palsu. Paham partikularisme secara sempit, mempunyai pengertian bahwa paham yang mengajarkan manusia untuk mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan umum.

Seiring berjalannnya waktu, paham tersebut justru semakin digandrungi oleh orang-orang yang mempunyai kekuasaan. Yang lebih mengenaskan, paham tersebut juga dianut di Negara yang menerapkan nilai-nilai Pancasila.

Ironisnya paham tersebut sudah seperti menjadi rahasia umum bagi masyarakat Indonesia. Oknum-oknum yang berada di alam demokrasi ini, seketika datang dan mengatasnamakan dirinya sebagai seseorang yang berintegritas, bahkan mungkin saja oknum tersebut menjual agamanya demi kepentingan pribadinya.

Oleh karenanya, sangat tidak mengherankan jika sampai saat ini di Negeri kita sulit untuk menemukan pemimpin yang jujur dan tidak bertendensi terhadap kepentingan politik. Kenyataannya, dalam beberapa tahun terakhir ini, Indonesia selalu dipertemukan dengan oknum-oknum politik yang melakukan korupsi.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surat AS-SAFF, ayat 2, yang mengatakan, “Wahai Orang-orang yang Beriman Mengapakah Kamu Mengatakan Sesuatu yang Tidak Kamu Kerjakan?” Alllah SWT selalu mengingatkan umatnya agar tidak mempunyai sifat munafik, di mana terkadang kita mengatakan diri kita bertaqwa, tetapi justru diri kita adalah orang yang sering melanggar peraturannya.

Kita mungkin mudah menasihati orang lain, tetapi justru sulit menasihati diri kita sendiri, kita mungkin sangat mudah mengatakan kepada orang lain, bahwa mereka adalah kafir tetapi kita tidak ingat bahwa kita juga masih dipertanyakan apakah kita sudah berada di jalan Shiratal Mustaqim atau justru berada di jalan yang tidak benar? Mungkin itulah pertanyaan yang harus kita jawab sebaik mungkin. Karena untuk menjadi yang terbaik bagi orang lain, kita harus menjadi yang terbaik bagi diri kita terlebih dahulu.

Partikularisme Ternyata Berada di Banten

Berdasarkan hasil survei Indonesia Corruption Watch (ICW), Banten masih dikatakan Provinsi yang rawan korupsi. Pada tahun 2017 kemarin, ICW mengatakan bahwa 54% masyarakat Banten menganggap bahwa korupsi di Banten semakin meningkat, 38% menganggap tidak ada perubahan, dan 8% menganggap korupsi di Banten semakin menurun.

Partikularisme nampaknya masih saja berkembang di Provinsi Banten. Solusi maupun langkah strategis pun harus segera dirampungkan, karena kita sebagai masyarakat Banten yang mempunyai tanggung jawab sosial, dan sudah seharusnya mempunyai kesadaran bahwa mengatasnamakan kepentingan umum untuk kepentingan pribadi adalah hal-hal yang justru menjauhkan diri dari Allah SWT dan melanggar hukum.

Meningkatkan Ketaqwaan Melalui Tadarus dan Tadabur

Kami Tidak Menurunkan Al-Qur’an ini agar Kamu Menjadi Susah” (QS TAA-HAA: 2). Dalam meningkatkan ketaqwaan, kita jangan hanya menjadikan Al-Qur’an seperti buku dan koran, yang hanya indah untuk di baca. Ajaran Al-Qur’an harus direalisasikan ke dalam kehidupan.

Maka dari itu, meningkatkan ketaqwaan tidak semudah meningkatkan soft skill dan hard skill yang ada di dalam diri kita. Meningkatkan ketaqwaan harus didasarkan hati nurani dan kesadaran kita bahwa kita adalah mahluk Allah yang harus selalu mentaati peraturannya dan tidak menyentuh larangannya sedikitpun, maka hal itulah yang dapat disebut dengan Haqqa Tuqotih.

Meningkatkan ketaqwaan juga harus di mulai sejak dini. Misalnya dalam dunia pendidikan, siswa-siswi jangan hanya di ajarkan membaca Al-Qur’an dan menghapalnya, tetapi siswa-siswi harus menerapkan apa yang di ajarkan dalam Al-Qur’an tersebut. Tentunya dalam hal ini, seorang guru harus bisa di harapkan dalam hal mendidik siswa-siswinya untuk berperilaku ataupun bertindak yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Begitupun dengan cara mengajar guru yang harus mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, misalnya ketika siswa-siswinya belum bisa menghapal Al-Qur’an dengan baik, maka jangan menggunakan cara kekerasan untuk menghukumnya, gunakanlah metode-metode yang merujuk kepada penerapan Tadabur. Contohnya, siswa-siswi diwajibkan untuk merealisasikan beberapa ayat yang ada di dalam Al-Qur’an. Maka dari itu, masyarakat Banten harus meningkatkan ketaqwaan melalui tadarus dan tadabur untuk mencegah paham partikularisme.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Serang Raya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.