Mau Kuliah Gratis Plus Beasiswa ke Mesir ? Perhatikan Hal Ini

 

Salah seorang mahasiswi asal indonesia, dengan latar belakang Benteng Shalahuddin Al Ayyubi dan Masjid Ali Pasha (foto- Yayan-BantenTribun)

Yang perlu diingat, beasiswa untuk belajar di Mesir diberikan selain karena prestasi akademik, tetapi kemampuan berbahasa Arab dan sungguh-sungguh mau belajar di Al-Azhar, juga menjadi faktor utama.

BantenTribun.id-Dahulu ketika memilih Mesir sebagai tempat menimba ilmu, saya memiliki banyak pertimbangan. Meskipun sebenarnya ada tawaran untuk kuliah tempat lain selain Mesir, di Timur Tengah juga.

Tetapi pilihan jatuh ke Negeri Seribu Menara, karena itulah pilihan yang paling realitis untuk saya ambil, tanpa harus ujian penerimaan (Muqabalah) dan kebetulan ada  teman alumni yang bisa membantu urusan visanya.

Waktu itu saya memilih ‘terjun bebas’ tanpa ikut tes untuk beasiswa dari Kemeterian Agama RI.

Memilih Mesir sebagai destinasi kuliah karena pertimbangan sejarah Al-Azhar sebagai salah satu kampus tertua di dunia, sejarah Mesir yang panjang, dan tentunya pengalaman bertemu dengan beragam etnis manusia dari berbagai negara.

Secara geografi, Mesir berada di wilayah yang strategis. Belum lagi ada teman yang terus ‘ngompori’, “Mau kuliah gratis dan dapat beasiswa? Ke Mesir aja”.

Akhirnya berangkatlah saya berdua dengan teman yang berasal dari Jakarta, beliau saat ini telah menjadi salah satu pimpinan pesantren modern Tazakka di kota Batang, Jawa Tengah.

Kampus Putri Al-Azhar Kairo Mesir (foto-Yayan-BantenTribun)

Saya berangkat dengan modal seadanya, baik materi atau pun perangkat pengetahuan yang nanti dibutuhkan untuk hidup di sana. Karena memang saat itu tidak ada bimbingan belajar ke Mesir, kecuali untuk yang mendapat beasiswa dari Kemenag. Tidak pula pendidikan bahasa Arab sebagai bahasa utama di sana. Bahasa arab yang saya bisa hanya yang dipakai dulu di pesantren dan itu sangat kurang sekali.

Tahun pertama adalah tahun terberat yang saya alami di awal terdaftar sebagai mahasiswa di kampus Al-Azhar. Penguasaan bahasa Arab fusha yang tidak terlalu bagus, berdampak pula pada nilai akademik dan beasiswa.

Saya mahasiswa paling terakhir dari Indonesia di tahun tersebut yang memperoleh beasiswa dari Kementrian Wakaf Mesir. Yang perlu dicatat, beasiswa tersebut diberikan selain karena prestasi akademik, tetapi kemampuan berbahasa Arab dan sungguh-sungguh mau belajar di Al-Azhar, menjadi faktor penting.

Dari evaluasi tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk masuk pendidikan bahasa Arab di Muassasah Iqra, salah satu lembaga yang konsen mengadakan pendidikan dan pelatihan bahasa Arab untuk orang Asing.

Pada ujian penentuan level, saya bersyukur langsung diterima pada level lima. Setelah pendidikan bahasa inilah saya merasakan banyak kemudahan dalam mempelajari dan memahami diktat perkuliahan.

Sekitar tahun 2005 pemerintah kita memutuskan untuk menyaring calon mahasiswa yang akan belajar ke Mesir. Dengan diadakan tes seleksi di bawah kementerian agama, meliputi tes kemampuan bahasa Arab, hafalan Quran, dan pengetahuan keislaman.

Saya meyambut baik program ini, karena dengan begitu calon mahasiswa yang berniat belajar ke Mesir benar-benar sudah terseleksi dan akan memudahkan mereka ketika memulai pendidikan di sana.

Nah, sekarang untuk kuliah ke Mesir, khususnya ke universitas Al-Azhar, calon mahasiswa tetap harus mengikuti tes seleksi yang diadakan diberbagai kampus Islam Negeri (UIN/IAIN) dan beberapa pesantren yang ditunjuk oleh kementrian agama.

Tes ini ada dua macam, untuk beasiswa Kemeneag atau mandiri. Setelah dinyatakan lulus seleksi, selanjutnya calon mahasiswa dan pelajar untuk tahun ini wajib ikut tes ujian tahdid mustawa (penentuan level) untuk pendidikan bahasa Arab di Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA).

Ujian penentuan level bahasa Arab ini terdiri dari tujuh level, dan yang dizinkan untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan di universitas Al-Azhar hanya calon mahasiswa yang lulus di level tujuh (Mutamayyiz).

Sedangkan yang hanya lulus di level satu sampai level enam diwajibkan mengikuti pendidikan bahasa di PUSIBA atau bisa mengikuti pendidikan bahasa di Darul Lughah Mesir di bawah bimbingan Syaikh Zaid. Baik PUSIBA mau pun Darul Lughah Mesir mewajibkan calon mahasiswa lulus sampai level tujuh untuk bisa melanjutkan perkuliahan di Al-Azhar.

Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab (PUSIBA) merupakan perwakilan Darul Lughah Mesir. Jadi kurikulum, SDM penguji, dan ijazah semua berasal dari Darul Lughah Mesir. Keuntungan lainnya, PUSIBA berada tempat yang strategis yaitu di Pondokgede, Kota Bekasi Jawa Barat.

Calon mahasiswa yang mengikuti pendidikan di sana masih bisa pulang ke rumah atau ke daerahnya saat ada urusan keluarga. Semoga dengan adanya seleksi dan pendidikan bahasa ini lebih memudahkan calon mahasiswa yang akan mengikuti perkuliahan di Mesir dan kembali dengan membawa ilmu yang bermanfaat untuk umat dan bangsa. Info mengenai pendidikan di USIBA bisa kunjungi situsnya, pusiba.com* (Yayan Suryana, Lc.,ME. Alumnus Al-Azhar Kairo & Ibn Khaldun Bogor, Kontributor BantenTribun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.