Matinya Ki Hajar Dewantara

Ginanjar Hambali
Matinya Ki Hajar Dewantara- Ginanjar Hambali

*Oleh : Ginanjar Hambali

Setiap  2 Mei, kita memperingati hari pendidikan. Hari lahir Ki Hadjar Dewantara, tokoh pejuang dan pemikir, dalam lapangan pendidikan. Sayang, buku Ki Hadjar Dewantara, tak saya temukan di banyak perpustakaan sekolah, tak banyak dibaca guru.

Lalu, buku macam apa yang dibaca guru? Tak banyak guru suka membaca, termasuk buku pemikiran pendidikan yang lain, kecuali membaca berita-berita yang cenderung tak benar, melalui grup-grup media sosial. Mudah-mudahan pengetahuan saya, tentang tingkat baca guru, salah.

Ing Ngaro Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, slogan yang diciptakan Ki Hadjar Dewantara, yang mengandung makna seorang guru harus memberi contoh, ditengah memberi prakarsa dan kerjasama, serta dibelakang memberi daya semangat dan dorongan. Seorang guru tentu, tak cukup hanya mengenal slogan yang sudah banyak dikenal tersebut, juga harus menggali dan mengkaji karya dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Pendidikan yang Memerdekakan

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pengajaran berarti mendidik anak supaya menjadi manusia merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka tenaganya. Kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri.

Seringkali kita, seperti ditulis Ki Hadjar Dewantara,  tertipu keadaan, kita pandang perlu dan laras untuk hidup kita, padahal itu keperluan bangsa asing, yang sukar didapatnya dengan alat penghidupan kita sendiri.

Menghamba pada industrialisasi, yang kita anggap bisa memecahkan masalah lulusan sekolahan, ternyata membuat pendidikan berbalik, menjadi kekuatan orang lain. Semakin banyak lulusan sekolah, semakin tinggi pula tingkat pengangguran.

Pendidikan yang memerdekakan, memandirikan anak, selaras dengan tujuan pendidikan menumbuh kembangkan jiwa wirausaha, sehingga anak mandiri termasuk dalam lapangan usaha. Anak-anak di sekolah dibiasakan bisa menolong diri sendiri, mengambil inisiatif, mematuhi tata  tertib, sesuai adat istiadat yang berkembang di masyarakat.

Pendidikan yang bertujuan agar anak sesuai kebutuhan industi, adalah upaya mengasingkan anak dengan kehidupan dan permasalahan masyarakatnya, tak sesuai kodrat dimana anak tumbuh dan berkembang, sebab selain kodrat alam kita adalah pertanian, juga tak ada upaya untuk menumbuhkan kekuatan diri sendiri.

Pendidikan Sebagai Tuntunan

Seorang pendidik hakekatnya sama kewajibannnya dengan petani. Petani menanam padi, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Ia dapat memperbaiki tanahnya, memelihara tanamannya, memberi rabuk dan air, memusnahkan penyakit, dan sebagainya, namun tak dapat menjadikan padi tumbuh menjadi jagung.

Seperti seorang tukang ukir, yang harus mengetahui dalam dan luas hakekat dan keadaan kayu, mana kayu yang keras atau yang kasar, begitu pula ‘juru didik’ harus mengetahui pengetahuan yang diajarkan dan cara bagaimana mendidik. Bagaimana cara mendidik anak yang mempunyai kekurangan dan kelebihan, fisik maupun latar belakang sosial serta perbedaan-perbedaan yang lain di dalam kelas.

Guru harus mengetahui pemikiran dan praktek pendidikan yang luas, berasal dari luar maupun dalam. Sekolah yang diibaratkan tanah tempat bercocok tanam, harus diusahakan menjadi lingkungan yang menyenangkan. Menjaga dan melindungi anak dari pengaruh-pengaruh jahat.

Pada saat ini, pengaruh jahat itu sebut saja korupsi.Korupsi dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Perbuatan korup yang seringkali dianggap benar melalui pembenaran, harus dijauhkan dari anak. Melalui penjelasan, contoh atau teladan, dorongan dan perbuatan guru di sekolah atau di luar sekolah.

Dalam memberikan pelajaran, menurut Ki Hadjar Dewantara, para guru, jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, tapi juga mendidik murid, agar dapat mencari sendiri pengetahuan, dan memakainya guna amal keperluan umum. Pernyataan itu, relevan dengan konteks sekarang,  ditengah kemajuan zaman, dimana teknologi informasi memudahkan anak mengakses pengetahuan.

Guru barangkali karena semangatnya atau karena tidak tahunya, sering menganggap diri paling tahu. Proses pembelajaran masih menggunakan model ceramah, membatasi potensi anak untuk bertanya dan cenderung menutup anak untuk mengembangkan pengetahuan sendiri.

Anak-anak dipaksa belajar yang kadang tak sesuai kodratnya, anak senang olahraga dipaksa untuk berkonsentrasi secara serius pada materi yang akan diujian nasionalkan, begitu pula anak anak yang senang seni. Patut kita pertanyakan, apa sesungguhnya, maksud dan tujuan UN, bila mematikan potensi yang ada pada diri anak, yang seharusnya bisa berkembang.

Sosok Guru

Bagaimana sesungguhnya sosok seorang guru? Menurut Ki Hajar Dewantara, guru dengan tidak terikat lahir atau batin, serta kesucian hati, berminat berdekatan dengan Sang Anak. Tidak meminta sesuatu hak, akan tetapi menyerahkan diri menghamba kepada Sang Anak.

Ketika guru menghamba pada Sang Anak, muncul nyala semangat, menjadi guru, bukan sekedar mencari penghidupan, tapi memberi jalan bagi masa depan bangsa yang lebih baik. Seperti seorang dokter pada pasien, ulama atau pendeta, pada umatnya.

Salah satu upaya meningkatkan kualitas guru, menurut penulis dengan membaca pemikiran dan karya Ki Hadjar Dewantara. Mulai diperkenalkan dan diajarkan di Perguruan Tinggi (PT) terutama PT yang mempersiapkan guru. Sayangnya, selama penulis menempuh pendidikan baik S-1 maupun S-2 di PT keguruan, karya dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tak banyak diajarkan.

Karya dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tak banyak diperbincangkan, termasuk dikalangan guru sendiri. Hasilnya, proses pembelajaran seringkali terjebak pada pedagogik dogmagis, mencontoh yang terbaik tapi tak tahu falsafahnya, mengajar hanya menjalankan kewajiban, tak tahu apa yang diperjuangkan.

Pendidikan semakin jauh dari kodrat anak, terasing dari masyarakatnya, tingkat daya saing pendidikan pun melemah, tak menjadi kecemasan.
Saatnya, membaca dan mendiskusikan kembali karya dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, sebelum kita tersesat semakin jauh.*  (   Penulis aktif di Lembaga Riset dan Kajian Nalar Pandeglang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.