Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer dan Class of 92

ole gunnar solskjaer
ole gunnar solskjaer. foto : istimewa

Ole Gunnar Solskjaer adalah saksi kesuksesan Manchester United dengan Class of 92 nya. Penentu kemenangan di final Liga Champion 1992 itu kini meracik MU dengan formula yang kurang lebih sama.

BantenTribun.id- Camp Nou Stadion menggema, riuh gemuruh dua suporter klub terbaik saat itu terdengar bak auman Singa, seolah mereka menjadi dua tim lain yang bertarung dalam arena berbeda.

Kedua suporter itu berasal dari Jerman dan Inggris, mendukung dua tim yang bertarung di Liga Champion 1998/1999, Manchester United vs Bayern Muenchen.

Supporter Dier Roten bahagia lebih dulu, Tendangan Bebas Mario Bassler melengkung rendah ke pojok kiri menembus gawang Peter Schmeichel. Muenchen unggul saat laga belum genap 10 menit.

Setan Merah cemas, apalagi tak ada Paul Scholes dan sang kapten Roy Keane di lini tengah. Serangan menjadi hampa, kurang meledak. Aliran bola untuk Andy Cole pun seolah terhambat.

Sebaliknya, armada Ottmar Hitzfeld tampil trengginas di depan, rapih di belakang. Organisasi pertahanan Muenchen bak barisan Panzer yang siap menghadang siapapun pemain United yang hendak ke kotak terlarang.T ak ada lagi gol tercipta di babak pertama. Muenchen masih unggul 1-0.

Babak kedua situasi sedikit berbeda, kedua tim silih berganti menyerang. Blomqvist ditukar Ferguson dengan Teddy Sheringham berharap lini depan lebih tajam.

Sementara Muenchen menurunkan Mehmet Scholls, memperbaiki performa lini tengah, dan meringankan beban Stefan Effenberg.

Manchester United makin galau, Andy Cole pun ditarik Fergie, dan sang Super Sub yang kini jadi pelatih klub itu Ole Gunnar Solskjaer dimainkan.

Sayang hingga 90 menit waktu berlalu, dua striker penganti Setan Merah tak sanggup menyeimbangkan keududukan.

Derai air mata fans Manchester United nyaris tumpah, mereka mengira timnya akan kalah.

Injury Time dan keajaiban terjadi di waktu singkat. Sapuan kaki kanan Sheringham sukses menjebol gawang Oliver Kahn.

Tiga puluh detik kemudian, keajaiban kedua datang, merubah air mata yang nyaris tumpah dengan sorak sorai dan gemuruh. Ole Gunnar Solskjaer yang turun dari bangku cadangan sukses menjebol gawang Kahn, gol kedua pun terjadi dan Manchester United unggul dengan skor 2-1, sekaligus sah menyentuh tropi si kuping besar.

Class Of 92

26 Mei 1999, adalah buah kerja dan kesuksesan Ferguson meracik strategi Manchester United. Ada keterlibatan Class of 92 dalam kesuksesan itu.

Setan Merah merengkuh gelar Piala Champion, saat ukiran nama Bayern Muenchen nyaris di tempel di tropi. Gelar itu melengkapi dua gelar lainnya, Liga Inggris dan Piala FA.

Lalu apa dan siapa Class 92? Mereka adalah pemain-pemain didikan akademi yang dipromosikan Ferguson ke skuad utama.

Fans United pasti hafal betul dengan mereka – setidaknya 6 pemain – yaitu David Beckham, Nicky Butt, Paul Scholes, Garry Neville, Philip Neville dan Ryan Giggs.

Keenam pemain itu adala kunci sukses Feguson di Old Trafford. Keenamnya pun menjadi punggawa utama di timnas Inggris, kecuali Giggs yang berasal dari Wales.

Mereka adalah pemain-pemain berkarakter dan unik. Paul Scholes adalah gelandang bertenaga kuda yang selalu tampil eksplosif di setiap laga, Beckham? Semua orang tahu si ganteng ini adalah spesialis tendangan bebas. Sepak pojok yang jadi asbab gol di final Liga Champion 1998/99 berawal dari kakinya.

Nicky Butt, meski kalah pamor dengan Beckham, ia adalah sosok penting dalam perjalanan karir kelima class of 92 lainnya. Sebelum ia datang hanya 1.5 pemain yang promosi ke tim utama Manchester United, dan saat dia hadir semua itu berubah.

Sementara Ryan Giggs adalah pendobrak, ia senang sekali mengobrak-abrik pertahanan lawan dengan gocekan maut dan kecepatannya, konsentrasi bek lawan sering ‘ambyar’ dibuatnya.

Terakhir Neville Bersaudara, keduanya adalah jaminan di dua sisi pertahanan Setan Merah, dua-duanya aktif mendukung serangan dan disiplin dalam bertahan, belum lagi umpan-umpan lambungnya kerap merepotkan bek dan penjaga gawang tim lawan.

Ole Gunnar Solskjaer

Ole Gunnar Solksjaer adalah super sub, ia adalah saksi kesuksesan ferguson dengan class of 92 nya. Pemain Norwegia ini seringkali turun dari bangku cadangan, untuk memecah kebuntuan saat pertahanan lawan mulai lelah di babak kedua.

Tak ada masalah dengan itu, ia tetap tampil menawan di setiap pertandingan, senyum dan wajahnya yang ‘baby face’ itu adalah pesona lain dari pemain yang kini menjadi pelatih tim yang dibelanya dulu.

Kini saat resmi melatih Mancester United, Solskjaer perlahan mengikuti jejak Fegie. Ia sepertinya belajar banyak dari mantan pelatihnya itu.

Mungkin saja ia punya mimpi yang sama dengan Fergie, membangun New Class, meski menurut Garry Neville tak akan pernah sama dengan angkatannya dulu.

Perlahan tapi pasti, apa yang dibangun Solskjaer mulai nampak. Marcus Rashford, Anthony Martial dan pemain 18 tahun Mason Greenwood menjadi trisula maut di lini depan. Banyak pihak menganggap trio itu lebih baik dari trisula liverpool Salah, Mane dan Firmino.

Di lini tengah, Solskjaer punya James Garner, pemain muda ini punya bakat sebagai pengatur serangan United di masa depan, meski dimusim ini ia sulit bersaing dengan seniornya, sebut saja Matic, Paul Pogba dan Bruno Fernandes.

Lini belakang juga tak ketinggalan, Solskjaer mengorbitkan Brandon Wiliams. Pemain 19 tahun itu kini sudah tampil 12 kali dan 9 diantaranya sebagai starter.

Solskjaer telah melihat sejarah, pengalaman empirik betapa bakat-bakat muda Setan Merah itu luar biasa, dan kini ia mencoba melakukannya sebagai pelatih.  (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.