Lost Badly, Sisi Lain Di Balik Kekalahan Barca

UEFA Champions League menyimpan cerita di balik kekalahan Barca. Skor telak terbesar sejak puluhan tahun lalu, hingga peran mantan yang menyakitkan

di balik kekalahan barca

BantenTribun.id- Barcelona menjadi bulan-bulanan Die Rotten, sabtu dinihari tadi. Tak disangka tak dinyana, penampilan impresif anak-anak Hans-Dieter Flick begitu jumawa, menguasai segala lini. Lapangan seolah memutih, tak terlihat biru merah pasukan catalan.

Tak ada aksi memukau si penyihir. Suares tandemnya sedikit lebih baik, setidaknya El Pistolero mampu menyarangkan satu gol untuk mengurangi selisih yang terlalu jauh.

Busquet dan Pique, duo bertahan spanyol di dua posisi yang berbeda juga tak sanggup menahan gempuran Mueller dan kolega. Mereka seperti paku, diam, pull sepatu serasa menancap, sulit bergerak.

Barca sempat berupaya membalas, formasi default 4-3-3 dikembalikan, berharap tiki-taka dapat maksimal berjalan.

Griezman dan Ansu Fati juga turun membantu Messi, namun sayang pasukan dari Jerman lebih segala-galanya.

Di Balik Kekalahan Barca

‘Lost Badly’ kekalahan telak dengan skor 8-2 untuk Muenchen adalah aib. Di balik Kekalahan Barca itu, ada rekor kekalahan terbesar yang belum pernah mereka alami sejak 74 tahun lalu. Kala itu, Barca tumbang oleh Sevilla dengan skor 8-0.

Tiki-Taka ‘Mal Fungsi’ aksi individu tak dimiliki. Semua milik Die Rotten malam tadi.

Derita Barca dimulai hanya tiga menit setelah wisat meniup peluit, umpan perisic diteruskan sekali sentuhan oleh sang target Lewandowski, bola liar disambar Mueller dan gol. Terstegen memulai penderitaannya memungut bola.

Memang ada kesalahan dari Alaba, hadangannya mengarah ke gawang Neuer dan jadi gol penyama. Namun itu tidaklah berarti. Pasalnya 7 gol akan menyusul kemudian, dan dibalas satu gol lagi dari tendangan khas Luis Suarez.

Selain kekalahan telak, Di balik kekalahan Barca malam tadi juga ada peran para mantan. Setidaknya ada dua mantan yang berperan, Thiago Alcantara serta pemain yang sedang ‘galau’ dari Brazil, Philipe Coutinho.

Bagi Thiago, Barca adalah titik awal di Eropa, ia bergabung 12 tahun lalu dari Flamengo, Brazil.

Thiago tak sanggup bersaing di Barca, pelatih saat itu bahkan memasukannya ke Barcelona B, tim bayangan yang membuat banyak pemain harus berjuang dengan daya tambahan.

Berikutnya Thiago memang berhasil masuk tim inti, tapi tetap saja ia kalah pamor dengan kehebatan pemain bintang Blaugrana.

Tahun 2013 ia mantap hengkang ke Jerman. Bersama Muenchen, ia menjadi tumpuan di lini tengah. Termasuk saat mengalahkan mantan klubnya malam tadi.

Berikutnya adalah Coutinho, pemain yang masih galau dengan masa depan sepakbolanya.

Ia memang tak turun sejak awal, bahkan turun saat menit bermain hamir usai.

Tapi Coutinho menunjukan bukti. Ia masih pantas di pakai tim manapun yang ingin memakai jasanya. Dua gol ke gawang Barca menjadi penggenap 6 gol lainnya. Sekaligus menambah heboh cerita.

UCL di masa pandemi banyak menyimpan anomali, selain kekalahan telak Barca, kompetisi itu juga menghapus jejak tim favorit juara.

PSG, Leipzig dan Muenchen sudah siap di Semi final, malam nanti kita akan menanti siapa kontestan satu lagi, Lyon apa Manchester City? (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.