Lapar Psikologis, Belajar Dari Viralnya Odading Mang Soleh

Lapar psikologis, adalah bagian lain dari alasan orang ingin menikmati sebuah hidangan. Viralnya Odading Mang Soleh beberapa waktu lalu menjadi contoh.

lapar psikologis
Ilustrasi Lapar, Foto Pexels/Artem Podrez

BantenTribun.id- Lapar, sebuah kata yang bagi sebagian orang sulit didefinisikan. Rasa lapar adalah interaksi hormon yang kompleks, melibatkan proses biokimia dan reaksi fisik.

Dilansir dari Healthline, Lapar ternyata dibedakan menjadi dua. Pertama lapar fisik, atau lapar yang sebenarnya. Lapar dimana kita makan agar tulang bisa menegakan tubuh dan hidup dapat terus berlanjut.

Disinilah slogan “Makanlah Ketika Lapar, Berhenti Sebelum Kenyang” Berlaku. Lapar fisik bila tidak dipenuhi akan membuat orang merasa lemah, gula darah rendah, hingga lelah. Bahkan bisa menyebabkan penyakit kronis, seperti asam lambung dan GERD.

Sementara jenis lapar yang kedua adalah Lapar psikologis. Lapar ini adala kondisi dimana kita sebenarnya tidak ingin lapar, dan perut terisi penuh. Tapi masih ingin menyantap hidangan karena adanya faktor pemicu, seperti berikut.

Viral Di Dunia Maya

Masih ingat dengan pangsit Lek Gino atau Odading Mang Soleh yang viralnya nggak ketulungan.

Sebuah Odading, yang banyak diajakan di gerai pinggir jalan, awalnya biasa-biasa saja. Berkat sebuah promosi di influencer bernama Ade Londok, Odading menjadi viral  di dunia maya.

Mereka membeli Odading, Pangsit atau apapun yang viral karena influencer, atau promo efektif di sosmed, kebanyakan karena terdorong secara psikologis, bukan lapar.

Saat kemampuan komunikasi yang persuasif dan merangsang psikologi seseorang untuk action menjadi sangat penting. Jika komunikasinya masuk, maka siap-siap dagangan laris. Meskipun mereka yang berburu kuliner tidak melulu karena lapar.

Lapar Psikologis Karena Gabut

Covid 19 menjadi kambing hitam dari bertambahnya berat badan banyak orang akibat makan berlebih.

Banyak orang tak bisa bekerja ke kantor, travelling, anak-anak harus sekola di rumah dan sebagainya. Akhirnya makan menjadi pelarian meski tidak lapar. Tambah lagi banyak ibu yang kembali beraksi di dapur karena tak boleh ke kantor.

Alhasil makanan dari Cake, Cookies, dan berbagai jenis lainnya disajikan di tengah keluarga. Meskipun sebenarnya tidak lapar secara fisik.

Sama halnya dengan yang stres atau tertekan karena pandemi. Meski sebenarnya secara fisik tidak merasa lapar. Mereka menjadikan makanan sebagai tempat pelarian dari stres dan tekanan itu.

Sosialisasi

Sosialisasi dari ngopi, ngumpul bareng keluarga hingga reuni. Mau tak mau harus makan, meski tidak lapar secara fisik.

Sifat psikologis, seperti rasa tidak enak, menghormati tuan rumah menjadi pemicu kenapa kita harus makan meski tidak lapar.

Insomnia

Kebiasaan tidur yang buruk juga bisa membuat orang makan meski tidak lapar. Tidak bisa tidur bagi sebagaian orang adalah hal berat, bahkan membuat stres. Makan baik berat, maupun camilan sering jadi pelarian..

Karena Sangat Lezat

Lapar psikologis berikutnya karena adanya makan sangat lezat atau menadi favorit dan lama tidak memakannya. Ini juga membuat orang kadang kembali makan, meskipun perutnya masih kenyang. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.