Kuasai Ekspor Gambir, Kementan Ingin Kembalikan Kejayaan Perkebunan

Ekspor Gambir
Gambir

Ekspor Gambir ternyata memacu Kementan untuk mengembalikan kejayaan perkebunan Indonesia.

BantenTribun.id- Bagi generasi milenial, Gambir mungkin tidak banyak dikenal, atau bahkan banyak yang belum pernah melihat bentuknya. Sebab dijaman dulu tanaman ini biasanya digunakan sebagai bagian dari menyirih, atau dalam bahasa sunda disebut “Nyeupah”.

Tapi siapa sangka, Hasil tanaman perkebunan yang satu ini ternyata banyak dibutuhkan oleh negara Industri seperti Jepang, India, Malaysia dan beberapa negara di Eropa. Gambir biasanya digunakan sebagai bahan baku industri farmasi, lotion astringent, dan zat penyamak kulit.

Indonesia merupakan eksportir terbesar untuk komoditas ini, dimana hampir 80 persen, produksi dan pasar ekspor gambir dunia berasal dari negeri seribu pulau tersebut.

Data Badan Pusat Statistik yang diolah dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), nilai Ekspor Gambir ditahun 2018 mencapai US $ 55 juta. Ekspor terbesar dikirim ke India.

Kejayaan Perkebunan

Ekspor Gambir ternyata memacu Kementan untuk mengembalikan kejayaan perkebunan Indonesia. Bagaimana tidak, negeri ini merupakan eksportir terbesar beberapa komoditas perkebunan di jaman dulu, sebut saja, Sawit dan Karet. Sayangnya, kejayaan itu makin kesini makin memudar seiring banyaknya kompetisi dengan negara lain, dan isu-isu negatif soal pengelolaan lingkungan, serta soal emisi rumah kaca.

Lewat Gambir, Indonesia berharap ada cahaya untuk mengembalikan kejayaan sektor Perkebunan. “

“Prospek Gambir sebagai komoditas ekspor masih sangat terbuka. Pasalnya permintaan dari India masih sangat terbuka dan meningkat setiap tahunnya. Bahkan dalam lima tahun terakhir volume permintaan komoditas ini berada pada 13-14 ribu ton per tahun.” Ungkap Kasdi Subagyono, yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Kementan.

Tambah lagi, Ungkap Kasdi, India juga tengah membatasi  penebangan phon Khair, sebagai bahan baku Katha (acacia cathecu) sebagai bahan baku Industri. Tanaman Gambir yang memiliki kesamaan karakter dengan kandungan fisikokimia lebih besar dari Khair berpeluang menjadi pengganti.

Benih Unggul

Mengembalikan kejayaan perkebunan, lewat tanaman Gambir ternyata bukan hal mudah, oleh karena itu menurut Kasdi perlu disiapkan ketersediaan benih Unggul untuk meningkatkan produksi. Untuk itu, Kementan melalui Dirjen Perkebunan meluncurkan program BUN 500.

BUN 500 merupakan program penyediaan benih bermutu tanaman perkebunan. “selain penyediaan benih unggul, tentu tak kalah penting memperkenalkan manfaat Gambir di ajang-ajang promosi skala internasional, serta pemenuhan aspek standarisasi dari importir. Pungkas Kasdi. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.