Kopi “Chery” Robusta Saketi Bakal Ambyar , Bantuan Mesin Pemecah Kulit Tiada Kabar

Upaya menyadarkan petani kopi Robusta Saketi  untuk meningkatkan kualitas dengan petik “chery merah”yang dilakukan Guru Ani, dihawatirkan bakal “ambyar” alias hancur tidak lagi terkonsentrasi, jika bantuan  mesin pemecah kulit basah dan kulit kering yang diharapkan tidak terwujud.

kopi robusta saketi
Guru Ani dan kopi Robusta Saketi yang siap panen chery merah (foto-BantenTribun)

Pandeglang,BantenTribun.id- Wajah lelah  Guru Ani jelas terbersit. Ia sudah lebih dari 3 tahun membangun kesadaran petani kopi robusta untuk meningkatkan kualitas dengan petik biji kopi yang disortasi atau dikenal “petik chery merah”.   

Upaya Guru Ani, Ketua Kelompok Tani Neglasari di Desa Talagasari Kecamatan Saketi Pandeglang, membina 114 anggotanya dihawatirkan tidak  bertahan dan bakal “ambyar”, akibat beragam keterbatasan dan minimnya perhatian pemerintah daerah.

Menurut Ani, dengan luas tanam di lahan 116 hektar di bawah tegakkan dan 50.000 pohon yang sudah diremajakan dengan cara stek, setidaknya bisa menghasilkan 15 kg per pohon.

Ini artinya jika dipanen serentak, potensi kopi jenis Robusta di kaki Gunung Pulosari ini menghasilkan 750.000 kg atau setara 750 ton.

Meskipun Poktan ini sudah memiliki lahan jemur kopi bantuan Irjen Kementan, namun belum dimilikinya mesin pemecah kulit basah dan kering menjadi kendala utama, selain permodalan.

“Sementara ini jika ada pesanan partai besar, kami terpaksa memecah kulit kering dengan menyewa ke pabrik  giling padi. Biaya sewa Rp3000/ kg. Kalau orderan kecil, masih mengandalkan cara tradisional dengan ditumbuk,” jelas Ani, kepada BantenTribun, dilokasi panen.

Menurut Ani, saat ini kelompoknya lebih memerlukan bantuan mesin pemecah kulit, dibandingkan suntikan permodalan.

“Kalau harus memilih, jelas lebih penting mesin pemecah, sebab jika ada mesin itu modal bisa segera berputar dan dapat memenuhi permintaan pasar,” kata Ani.

Keterbatasan itu, mengakibatkan hasil panen petani tidak dapat tertampung di Poktan, meskipun petani sudah rela pembayaran hasil panennya tertunda.

“Saya kadang tidak tega, akhirnya tetap menyarankan petani untuk menjual ke pengepul atau bandar. Nah, kondisi demikian jika dibiarkan, dapat menimbulkan kembalinya kebiasaan petani ke cara lama dengan cara panen ‘porot’ atau panen asalan tanpa sortir,” imbuh Ani.

Guru Ani seperti berjuang sendirian. Ia tak mampu menampung hasil panen petani kelompoknya, meskipun saat ini kesadaran petani untuk panen kopi dalam bentuk chery merah sudah cukup tinggi.

 “Kalau suntikan modal bisa belakangan, yang penting dengan adanya mesin pecah kulit, saya dan kelompok bisa lebih cepat memutar modal” tambahnya.

Kopi Robusta Saketi di Pasar lokal

Produksi kopi Robusta Saketi terdistribusi di pasaran melalui bandar hasil bumi atau pedagang pengepul.

Jalur distribusi kopi dalam bentuk green bean tanpa label dan kemasan ini biasanya masuk ke pasar Lokal Pandeglang, dan ke Cilegon. Dari sini, kopi Pandeglang juga mengalir ke Lampung sebelum masuk ke pasar Tangerang atau Jakarta.

Sementara untuk pasar kafe atau kedai kopi di wilayah Pandeglang tidak sedikit yang sudah melirik  kopi Robusta Saketi ini.

“Komunitas kami sudah berkomitment untuk meningkatkan brand kopi robusta Saketi ini. Kita juga selalu mengedukasi pelanggan asal kopi, prosesnya serta cara roasting sebelum kopi tersaji kepada pelanggan, ini penting dilakukan sebelum pelanggan  mengatakan nikmatnya kopi,” jelas Tebi, barista muda yang membuka gerai kopi “Mustafa” di sekitar Jalan Widagdo Pandeglang.

Menurut Tebi, kualitas dan rasa kopi robusta Saketi sudah diterima dan diakui pelanggan dari luar daerah. Jika semua peduli dengan nasib kopi Pandeglang, masih kata Tebi, niscaya kopi Saketi, Kaduengang maupun wilayah Pandeglang lainnya,  bisa bersaing dengan daerah lain penghasil  kopi yang sudah dikenal.

“Untuk roasting atau proses penyangraian  kopi Saketi, kita pilih yang medium to dark untuk mendapatkan karakter rasa yang disukai,” ujar Tebi, kepada BantenTribun, Rabu,22 Juli 2020.

Saketi Digadang jadi Sentra Produksi Kopi Pandeglang, Bagaimana Realisasinya?

Tahun lalu di saat perayaan Ulang Tahun Banten, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus Tauchid mencanangkan program pengembangan Kopi di tiga Kabupaten, yaitu Serang, Lebak dan Pandeglang.

Dikutip dari Antara, saat itu menurut Agus, Saketi dan Kawasan Kaki Gunung Karang, Kadu Engang menjadi lokus untuk pengembangan Kopi di Kabupaten Pandeglang.

“Sesuai Renstra, Luas lahan yang akan ditanami Kopi sekitar 100 ha, dengan pola tanam tumpang sari dibawah tegakan,” terangnya.

Kini hingga pertengahan tahun 2020, program itu nampaknya masih “pepesan kosong”. Di Kadu Engang, belum terlihat update pengembangan kopi dengan bantuan pemerintah, baik peremajaan maupun perbaikan dari aspek pengolahan hasil.

di Kadu Engang, pola budidaya kopi masih bersifat selingan, belum fokus, sehingga pemeliharaan yang dilakukan terkesan asal, bahkan dalam pantauan BantenTribun, hasil panen kopi –bukan cherry merah – dijemur asal di pinggir jalan.

Jika begitu, jangan harap potensi kopi dengan hasil kopi berkualitas dapat diraih.

Di Saketi, berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku usaha kopi, dan Ketua Koptan, Guru Ani, bantuan peremajaan, maupun pengembangan modal juga belum terlihat signifikan.

Data Kopi

Sebagai derah yang mengklaim dirinya punya banyak potensi di sektor agribisnis, Pandeglang sejatinya tak kekurangan lahan untuk komoditi perkebunan termasuk Kopi.

Data Kabupaten Pandeglang Dalam Angka Tahun 2019 yang dirilis Badan Pusat Statistik Kabupaten Pandeglang, menunjukan luas tanam sebesar 2.773,40 hektar, dengan produksi mencapai 847,5 ton. dan produktivitas sebesar  372 .35 kg/ha.

Sebaran pertanaman kopi di Pandeglang, sebenarnya berada di hampir semua Kecamatan, namun beberapa fakta menunjukan kopi di daerah pegunungan memiliki cita rasa yang berbeda, lebih nikmat.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Pandeglang  

Melihat potensi yanga ada, nampaknya Pemerintah Kabupaten Pandeglang belum ‘ngeh’ dengan potensi kopi itu sendiri.

Berdasarkan Renstra Distan 2016-2021, Kopi nampaknya tidak lebih prioritas dibandingkan Kakao dan Kelapa, apalagi jika dibandingkan dengan tanaman pangan seperti Padi, Jagung dan Kedelai.

Padahal jika mau jujur, potensi ekonomi dari kopi juga tidak kalah menjanjikan seiring menjamurnya kedai-kedai kopi yang saat ini hampir 13 gerai di Pandeglang, belum lagi jika mau di distribusikan ke Serang, Cilegon, bahkan Bandung Jawa Barat.

Sejumlah pengusaha Cofee Shop beberapa bahkan sudah melakukan kontak dengan Bantrib dan siap mendukung produksi kopi di Pandeglang, dengan menampung hasil olahan berupa green bean.

Covid 19 Jadi Sandungan?

Balik lagi ke janji Distan Provinsi Banten, belum ada informasi kenapa, hingga kini realisasi pengembangan kopi di Pandeglang yang dicanangkan tahun lalu, belum terasa signifikan, apakah ada hubungannya dengan rasionalisasi anggaran akibat Covid-19.

Jika begitu faktanya, masih banyak cara lain yang bisa dilakukan, misal dengan menarik investor untuk mengembangkan kopi di Pandeglang, atau mengadakan bimbingan budidaya hingga pengolahan hasil sesuai prinisp Good Agriculture Practice (GAP) atau Good Manufacture Practice (GMP).

Pemerintah Provinsi dan Kabuapten juga bisa mendampingi para pengusaha cofee shop untuk datang langsung ke lokasi dan mendampingi petani untuk menghasilkan bubuk kopi atau green bean sesuai keinginan konsumen.

Kita berharap, usaha lelah Guru Ani dan pelaku kopi lainnya tidak menjadi “ambyar” tanpa dukungan yang dibutuhkan.*(kar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.