Kisah Pengusaha Tepung Sagu di Kurung Kambing Pandeglang

 

Sugandi, menjemur tepung sagu atau tepung kawung hasil produksinya, di Kampung Kurung Kambing, Mandalawangi Pandeglang.( foto-kara-BantenTribun)
Sugandi, menjemur tepung sagu atau tepung kawung hasil produksinya, di Kampung Kurung Kambing, Mandalawangi Pandeglang. Tepung ini banyak digunakan sebagai bahan utama pembuatan Bakso ( foto-kara-BantenTribun)

Meskipun Ia sendiri tidak pernah tahu keberadaan barisan pohon kiray alias pohon kawung di tanah Pandeglang, namun untuk memperolehnya tidaklah sulit. Bersama istri dan kedua anaknya, Sugandi, pria asal Bogor ini memutuskan hijrah ke Kampung Kurung Kambing sejak 2007. Keluarga ini  berjibaku mempertahankan usaha produksi tepung kawung alias “tepung sagunya”.  Tepung yang jadi bahan baku utama makanan bakso. 

Pandeglang,BantenTribun.id– Pak Sugandi, lelaki gaek 64 tahun, warga Kabupaten Bogor Jawa Barat  ini,  sudah 11 tahun tinggal di rumah sederhana sekaligus pabrik penggilingan tepung kawungnya. Di pabrik ini, ia sengaja hijrah bersama keluarganya, melanjutkan usaha pabrik “Tepung Kawung”, pasca  pabrik miliknya di Bogor tergusur pembangunan jalan tol.

Tepung kawung, alias tepung sagu, dikenal sebagai bahan utama pembuatan bakso. Pabrik tepung  kawung Sugandi, berdiri di pinggir aliran sungai di Kampung Kurung Kambing, Desa Mandalawangi, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten. Lokasi pabrik itu  juga berada di sisi jalan raya atau bersebelahan dengan lokasi wisata kolam renang DM.

Sejak tahun 2007, Sugandi memboyong istri dan kedua anaknya dari Bogor, setelah pabriknya yang sejenis tergusur pembangunan jalan tol.  Di Kampung Kurung Kambing ini, ia meneruskan usaha tepung kakaknya yang hampir bangkrut, karena kesulitan pemasaran. Padahal pasar tepung jenis ini masih terbuka lebar karena digunakan sebagai bahan tepung utama untuk produksi ‘bakso’.

Selain keyakinan dapat mempertahankan pabrik, Sugandi juga merasa mendapat dukungan dari pedagang atau penyuplai batang pohon Kiray atau Kawung, yang berasal dari Pandeglang.

“ Saya punya pelanggan tetap pedagang yang mengirim batang kiray dari Pandeglang, sejak di Bogor dulu. Setelah pabrik di saya tergusur jalan tol, saya ditawari pelanggan untuk membuka pabrik di Pandeglang. Kebetulan sekali pabrik milik kakak saya juga terancam bangkrut karena sulitnya pemasaran tepung  produksinya,” kata Sugandi, kepada BantenTribun, di lokasi pabriknya.

Produksi tepung sagu Sugandi,  memang bergantung dari bahan baku utamanya, yaitu pohon Kirey atau biasa disebut pohon Kawung.

 “Kalau modalnya ada mah, bahan baku bisa pesan kapan saja. Katanya sih batang kawung ini banyak tumbuh di Pandeglang dan Malingping, saya sendiri belum pernah lihat perkebunannya,” ucap Sugandi.

Dalam satu kali produksi,  bahan baku berupa “tual” atau  potongan  batang pohon kawung yang sudah dikupas tersebut, dikirim dengan truk besar berkapasitas 7- 7,5 ton. Harga bahan baku  dengan kualitas baik per satu truk nya sebesar Rp 3 juta.

Bersama keluarganya, Sugandi berjibaku mempertahankan dan mengembangkan usaha tepung sagu ( foto-BantenTribun)
Bersama keluarganya, Sugandi berjibaku mempertahankan dan mengembangkan usaha tepung sagu ( foto-BantenTribun)

Jumlah potongan batang kawung sebanyak itu, beres diproduksi dalam satu hari saja. Dari sekitar 7 ton tual tadi, Sugandi bisa menghasilkan 1, 5 ton tepung kering. Proses produksi dari mulai menggiling potongan batang pohon hingga menjadi tepung yang siap dipasarkan, dibutuhkan waktu 1 minggu.

Harga tepung sagu Sugandi ukuran kemasan 50 Kg, berkisar Rp310.000  hingga Rp330.000 per karung, atau Rp6600 per kilo, tergantung kualitas tepung. Harga itu sudah sampai di tempat. Daerah pemasarannya mulai Batubantar sampai Cikeusik.

“Saya baru punya  6 pelanggan tetap pengusaha produksi bakso di daerah itu. Kalau untuk wilayah Serang dan Rangkasbitung, kebanyakan dikirim pabrik besar dari Cirebon,” jelasnya.

Hari itu, meski cuaca terlihat mendung, Sugandi bersama istri dan dua anaknya, Saeful Bahri dan  Jalaludin, serta satu orang pegawainya yang masih famili, tetap bekerja menjemur tepung olahannya.

“Kalau panas terik  matahari cukup,  2 hari sudah kering. Hasil usaha ini ya cukuplah untuk makan sehari-hari dan menggaji karyawan sekedar untuk tabungannya. Mobil bak terbuka yang saya miliki, itu hasil kredit.  ” ujarnya.

Sugandi  dan tepung  sagunya, menjadi  potret pengusaha kecil yang bisa bertahan di lahan hijrah,  meski ia sendiri tidak pernah melihat barisan  pohon kirey  itu di “Tanah Pandeglang”. (kar)

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.